Test RSS

Ribuan Orang Bersholawat di UNSOED

[unsoed.ac.id, Sab,22/11/14] Ribuan orang memadati Lapangan Kantor Pusat UNSOED Sejak Jum’at sore (21/11) hingga malam.  Selain datang dari sekitar UNSOED dan Banyumas, mereka juga hadir dari berbagai kota.  Sebagian besar berpakaian putih dan sebagian lagi membawa atribut syeikhermania.  Para peserta duduk berbaris rapi dan melantunkan sholawat bersama untuk kebaikan bersama dan kebaikan , keselamatan, serta kemajuan UNSOED.  UNSOED Bersholawat memang menjadi penutup rangkaian Dies Natalis ke-51 UNSOED.  Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf, ulama yang teduh dan kharismatis hadir ke UNSOED dan memimpin acara UNSOED Bersholawat ini bersama ribuan jamaahnya.  Selain pejabat UNSOED, hadir pula Komandan Korem 071 Wijayakusuma, Bupati Banyumas, Dandim Purwokerto, Kapolres Purwokerto dan para Kiyai dari berbagai tempat. 

Di usianya yang ke-51 ini, UNSOED berharap dapat terus meneguhkan perannya di masyarakat.  Hal ini sebagaimana disampaikan Rektor, Dr.Ir.H Achmad Iqbal, M.Si dalam sambutannya.  “Kami berharap dan mohon do’a kepada hadirin sekalian, khususnya kepada Habib Seyikh bin Abdul Qadir Assegaf untuk memimpin do’a ini agar UNSOED dapat meningkat terus perannya di masyarakat,” ungkapnya.  Bupati Banyumas pada kesempatan ini juga mendapat kesempatan berbicara langsung kepada masyarakatnya, begitu juga Danrem, Dandim, dan Kapolres.  Semuanya mengajak bersama-sama membangun bangsa dalam kebersamaan yang kokoh.

Sebelum memimpin acara sholawat Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf menyampaikan kepada hadirin sebagai warga negara yang baik untuk berdo’a demi kesejahteraan bangsa.  “Kita sebagai seorang muslim memiliki do’a yangdapat kita panjatkand emi kebaikan bersama,” jelasnya.  Sebelumnya Habib juga diterima Rektor dan Para Wakil Rektor di Rektorat dan memimpin do’a bersama di Rumah Dinas Rektor.

Meskipun diikuti ribuan orang, acara UNSOED Bersholawat berjalan lancar dan khidmat hinggai usai.  Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini begitu juga para Pejabat UNSOED yang pagi harinya baru saja dilantik mengikuti kegiatan ini hingga Usai.  Semoga keberkahan selalu menaungi UNSOED.  Maju Terus Pantang Menyerah !

FEB Gelar Seminar Nasional Call for Paper Sustainable Competitive Advantage 4

[unsoed.ac.id, Jum, 21/11/14] Dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA 2015), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNSOED mengadakan Seminar Nasional Call for Paper Sustainable Competitive Advantage 4 dengan tema “Strategi UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”. Rabu (19/11) di Gedung Roedhiro. Pada seminar ini menghadirkan pembicara Dr Hendra Lesmana, MM, M.Si selaku Ketua Kehormatan Himpunan Kawasan Industri Indonesia / Direktur Bekasi Fajar Industrial Estate dan Prof. Christantinus Dwiatmadja, ME, Ph.D selaku Guru Besar Universitas Kristen Satya Wacana, serta pada acara seminar ini dihadiri oleh Pembantu Dekan 1 FEB, Para Dosen dan Mahasiswa FEB.

Dr. Wiwiek Rabiatul Adawiyah, BA.MS.c, Ph.D selaku Pembantu Dekan 1 FEB yang dalam pembukaanya menyampaikan dalam seminar nasional ini bertujuan untuk mempersiapkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja serta menghadapi masyarakat ekonomi asean 2015. Kemudian dalam MEA 2015 ini diharapkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi kawasan asean dapat menjadi tempat investasi dan  penciptakan skill, kawasan asean diharapkan memiliki skill secara global serta menjadikan usaha kecil dan menengah memiliki daya saing baik kompetisi maupun kreatifitas.

Pada pembicara yang pertama Dr Hendra Lesmana, MM, M.Si memaparkan Strategi UMKM dalam menghadapi MEA 2015 dengan mendukung program globalisasi usaha kecil menengah dengan mencari pasar baru diluar negeri, meningkatkan promosi perdagangan, mendorong spesialisasi dalam memperluas pasar luar negeri, mendukung pencapaian standar international dan mendukung pengembangan Global Brand. Selanjutnya Prof. Christantinus Dwiatmadja, ME, Ph.D memaparkan masyarakat ekonomi Asean sebagai kekuatan ekonomi integratif untuk menjadikan kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi yang berfokus pada pada sektor barang, jasa, investasi, tenaga ahli dan modal. Selanjutnya pada strategi peningkatan daya saing UMKM indonesia dari segi kapasitas, proses identifikasi usaha kecil menengah yang berpotensial dan penajaman terhadap produk unggulan berorentasi ekspor.

Maju Terus Pantang Menyerah!

Komitmen Desa Berdikari, UNSOED Gelar Seminar Nasional

[unsoed.ac.id, Jum, 21/11/14] Tegak berdiri selama 51 Tahun dan tetap berkomitmen terhadap PIPnya untuk mengembangkan sumber daya pedesaan berkelanjutan, UNSOED terus mengabdi dan teguh pada komitmennya itu.  Sebagai salah satu wujud dari upayanya mewujudkan visi, UNSOED melalui LPPM menggelar Seminar nasional Percepatan Desa Berdikari melalui Cummunity Development dan Inovasi teknologi Bekerjasama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Pusat.  Seminar ini merupakan salah satu wujud tanggung jawab UNSOED sebagai lembaga pendidikan tinggi untuk mendeseminasikan karya-karya penelitian dalam rangka pengembangan sumber daya pedesaan yang berkelanjutan.  Acara yang dibuka pada Hari Kamis, 21 Nopember 2014 ini diikuti oleh 500 peserta.  Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Dr. Dwi Nugroho Wibowo, M.S.  Mewakili Rektor Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Nurul Anwar, Ph.D membuka acara ini.  Hadir pula dalam sesi panel seminar ini Danrem 071 Wijayakusuma, Wakapolres Purwokerto, Para Pejabat di lingkungan UNSOED, Provinsi Jateng, dan Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

Tiga orang Keynote Speaker dihadirkan dalam kegiatan ini yaitu Staf Khusus Gubernur Bidang Infrastruktur dan Kedaulatan Pangan Prof.Ir Sunaryo, MURP, Ph.D, ketua LPPM UNSOED, Prof. Totok Agung DH, Ph.D dan Ketua PERHEPPI Dr. Bayu Krisnamurti yang diwakili oleh sekretarisnya.  Mengusung tema kebijakan pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui inovasi teknologi, PERHEPPI memuali paparannya dengan masalah kesempatan kerja dan kesenjangan ekonomi di Indonesia.  Mengutip Jokowi JK, Dr. bayu mengungkapkan bahwa masalah ketimpangan masyarakat disebabkan oleh tiga hal yaitu sumber daya manusia, regulasi yang ada, dan rendahnya kualitas infrastruktur di berbagai bidang.  Salah satu cara mengatasinya adalah menguasai teknologi.  “Terkait teknologi terutama teknologi pertaniansebenarnya lembaga penelitian baik negeri maupun swasta telah banyak menghasilkan invensi yang siap digunakan petani,” ungkapnya.  “Ada ratusan varietas padi, jagung, kedele dan tanaman hortikultura setiap tahunnya, demikian juga produk pestisida, alat dan mesin pertanian dan lainnya”, jelasnya.  Masalah pokoknya adalah menyampaikannya kepada petani.

 

Prof. Sunaryo pada kesempatan ini menyampaikan konsep Desa Berdikari yaitu mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar, mampu menyelesaikan persoalan atas dasar kemampuan sendiri dan penyediaan infrastruktur, menciptakan relasi sosial yang aman, tidak diskriminatif, berdasarkan musyawarah mufakat, mampu bekerjasama dengan pihak lain, dan gotong royong dalam satu kawasan.  “Desa berdikari adalah desa berdikari di bidang ekonomi, politik, dan berkeprobadian di bidang kebudayaan,” ungkapnya.

Sementara itu Prof. Totok Agung fokus pada masalah percepatan kedaulatan kedelai di jawa Tengah.  “Saya sengaja memotret jawa tengah karena jawa tengah adalah Desanya Indonesia,” jelasnya.  Ada beberapa solusi strategi percepatan yang ditawarkan Prof. Totok meliputi Political Will Pemerintah, Peningkatan peran serta petani, Optimalisasi potensi lahan, Perbaikan teknik budidaya, Penyediaan benih bermutu, dan perbaikan proses produksi.

Hingga berita ini diturunkan, masih berlangsung sesi paralel dari seminar nasional ini yang meliputi 7 bidang yaitu biodeiversivitas tropis dan bioprospeksi, pengelolaan wilayah kelautan, pesisir, dan pedalaman, bidang pangan, gizi, dan kesehatan, bidang energi baru dan terbarukan, bidang kewirausahaan,koperasi, dan ukm, bidang reksos dan pengembangan pedesaan, serta bidang ilmu murni/penunjang.  Maju Terus Pantang Menyerah !

Rektor Lantik 119 Pejabat UNSOED

[unsoed.ac.id, 21/11/14] Semakin tingginya harapan masyarakat terhadap UNSOED membuat pelayanan juga harus semakin ditingkatkan.  Salah satunya melalui peningkatan kapasitas kelembagaan agar masyarakat semakin terlayani dengan baik.  Terbitnya Permendikbud No 21 Tahun 2014 tentang Organisasi dan tata Kerja UNSOED yang baru menggantikan Permendiknas 25 Tahun 2009 melahirkan konsekuensi adanya pengembangan dan penataan organisasi berikut sumber daya manusia yang ada.  Bertempat di Gedung Soemardjito, Rektor Dr. Ir. H. Achmad Iqbal, M.Si melantik 119 Pejabat UNSOED yang terdiri dari Dekan dan Para Wakil Dekan Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, Fakultas Ilmu Budaya serta Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan.  Dilantik pula oleh Rektor Para Kepala UPT, Sekretaris Badan Pengelola Usaha, serta sekretaris Satuan pengawasan Internal.  Sementara itu pejabat Struktural Eselon III dan IV yang total berjumlah 90 orang juga dilantik di kesempatan yang sama.

Rektor berharap para pejabat yang dilantik dapat melaksanakan tugas secara efektif, efisien, dan akuntabel.  “Bekerjalah dengan cermat, teliti, terencana, dan memberikan nilai tambah serta kemanfaatan bagi pengembangan institusi,” jelasnya.  Selain itu Rektor juga berpesan agar dalam bekerja semuanya harus mengedepankan jiwa dan semangat melayani.  “Kesuksesan kita salah satunya ditandai dengan kepuasan stakeholders yang kita layani,” ungkapnya.

Kepada para pimpinan Fakultas yang baru rektor berpesan agar segera menyusun program pengembangan fakultas berbasis evaluasi diri yang sesuai dengan visi, misi, tujuan dan sasaran UNSOED dengan menggunakan indikator yang jelas.  “Fakultas yang baru juga mesti mengembangkan tata pamong yang baik dengan aturan dan prosedur operasional baku yang jelas,”, lanjutnya.  Selain itu, kepada Fakultas baru Rektor juga berpesan agar meningkatkan kompetensi dan daya saing lulusan melalui penguatan softskill dan di satu sisi juga mengembangkan kompetensi dan kinerja dosen dan tenaga kependidikan.  “Kembangkan pula kurikulum berbasis KKNI dan tingkatkanlah kualitas penelitian dan publikasi,” jelasnya.

Berikut ini nama-nama pejabat yang dilantik dan jabatannya : KLIK DI SINI (PDF)

 

Akademisi Sosiologi Fisip Paparkan Fenomena Film Islam sebagai Solusi Islami di Simposium Internasional Equator

[unsoed.ac.id, Jum, 21/11/14] Munculnya film-film Islam di Indonesia untuk mengatasi isu-isu praktis dan masalah kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh generasi muda Islam Indonesia, penafsirannya belum menjadi cara untuk membangun identitas mereka. Itulah pokok pikiran yang disampaikan Dr. Hariyadi dalam Simposium Internasional Equator beberapa waktu yang lalu. Simposium Equator adalah salah satu program utama Yogyakarta Biennale Foundation. Simposium ini berskala internasional, yang melibatkan spesialis dan praktisi dari berbagai negara yang ada di sekitar garis khatulistiwa. Simposium Equator yang bersifat lintas-disiplin, meskipun fokus perhatian adalah seni kontemporer. Simposium yang diselenggarakan di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada pada tanggal 17 – 18 November 2014 ini mengambil tema The One and The Many : Ethic and Aesthetic Practises in Our 21 Century Democracy.

Simposium Equator juga berfungsi sebagai upaya untuk mengembangkan jaringan antara individu dan lembaga yang dapat mengaktifkan peran pakar dan praktisi seni rupa kontemporer Indonesia di skala internasional. Simposium Equator 2014 ini mencoba untuk mengungkapkan ekosistem asosiasi dari banyak narasumber seperti kelompok seniman, kelompok berbasis hobi masyarakat atau asosiasi otoritas di lingkungan sekitarnya.  

Dalam paparannya disampaikan bahwa film Islam dibuat untuk menawarkan solusi gaya Islam  dan menjadi sarana bagi penyebaran nilai-nilai Islam. Beberapa film Islam mematuhi prinsip-prinsip Islam yang konservatif, sedangkan film Islam lainnya cenderung untuk beresonansi dengan pemikiran Islam yang lebih liberal. Namun demikian, menurut Dr. Hariyadi, “Generasi muda Islam tidak berniat untuk melakukan hal-hal yang dilihat dalam film, meskipun mereka tidak keberatan dengan nilai-nilai yang film Islami pengasuhan hal ini berarti tujuan pembuatan film Islam untuk mendidik pemuda Muslim menjadi Muslim yang baik sesuai dengan semangat Islamisasi mungkin tidak diterjemahkan ke dalam praktek yang cukup karena tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Maju Terus Pantang Menyerah!(AT).

PERHEPI Komisariat Purwokerto Gelar Sarasehan

[unsoed.ac.id, Jum, 21/11/14] PERHEPI (Perhimpunan  Ekonomi Pertanian Indonesia) Komisariat Purwokerto Rabu, (19/11) mulai pukul 18.00 – 22.00 WIB bertempat di Ruang Rektorat Lantai 1 Unsoed menyelenggarakan Sarasehan dengan tema “Kebijakan Pemerintah Dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015”, ini diikuti sebanyak 75 orang merupakan perwakilan PERHEPI dari seluruh Indonesia. Hadir dalam kesempatan itu Prof. Dr. Erizal Jamal Kepala Balai Pengelola Alih Tehnologi Pertanian Litbang Kementerian Pertanian RI sekaligus menjabat Sekjen PERHEPI Pusat Jakarta membuka acara dan sebagai narasumber acara tersebut. Erizal dalam sambutannya mengatakan bahwa PERHEPI merupakan ajang diskusi, menyampaiakan pendapat, konsultasi dan tempat untuk membuahkan pikiran solusi dibidang pertanian. Bidang pertanian saat ini kurang diminati kaum muda di pedasaan merupakan PR bagi PERHEPI, membuat pertanian itu menjadi pekerjaan yang menarik dan sejajar dengan pekerjaan lain.

Ketua Panitia Sarasehan Dr. Ir. Agus Sutanto, M.Si mengatakan bahwa untuk menghadapi masyarakat Ekonomi ASEAN Tahun 2015 ini, PERHEPI harus menyumbang pemikiran untuk mengimplementasi  seluruh aspek khehidupan masyarakat pada pembuat kebijakan khususnya bidang pertanian.

Harapan Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Dr. Ir. Anisur Rosyad, MS PERHEPI Komisariat Purwokerto sudah empat tahun ini penuh semangat. PERHEPI adalah merupakan tempat diskusi untuk memajukan sektor Pertanian, dan harus percaya bahwa PERHEPI dapat mebangun kejayaan sektor pertanian kembali di pedesaan. Fakultas Pertanian Unsoed mendukung kegiatan sarasehan ini dan semoga nanti setelah acara ini ada manfaat besar bagi pertanian di pedesaan.

Maju Terus Pantang Menyerah!(eNdg)

Focus Group Discussion “Menakar Kesiapan Masyarakat Menjelang Kenaikan Harga BBM”

Keprihatinan para akademisi pada rencana pemerintah yang akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat perlunya kajian mendalam dari berbagai disiplin ilmu agar kebijakan yang akan diterapkan tidak hanya berdampak menyusahkan masyarakat atau menambah angka kemiskinan. Laboratorium Hubungan Internasional bekerjasama dengan FISIP Universitas Wahid Hasyim mengadakan Focus Group Discussion dengan tema “Menakar Kesiapan Masyarakat Menjelang Kenaikan Harga BBM” yang dilaksanakan hari ini (17/11) di Rumah Makan Red Chilli.

Diskusi intensif yang dihadiri oleh dosen dari Program Studi Hubungan Internasional, Dosen Jurusan Ilmu Politik serta para aktivis dan berbagai kalangan ini meghadirkan narasumber pakar kebijakan publik dari Jurusan Ilmu Politik FISIP Unsoed yaitu Drs. Solahuddin Kusumanegara, M.Si. Dalam paparannya, narasumber menekankan perlunya mengkaji apakah kebijakan tersebut akan mengatasi masalah dalam masyarakat atau justru menambah masalah baru yang akan memperparah kondisi sosial ekonomi dan politik masyarakat.

Menurut Luthfi Makhasin, Ph.D menyatakan pentingnya realokasi dan redistribusi subsidi BBM untuk sektor-sektor kesehatan, pendidikan, pengembangan infrastruktur dan sarana transportasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat di kalangan paling bawah yang disambung oleh Khairu Roojiqien, S.IP,MA perlu membuat kebijakan radikal untuk mengurangi konsumsi BBM terutama di kota-kota besar. Menurut Renny Miryanti, S.IP,M.Si menyatakan bahwa kebijakan BBM tidak berdiri sendiri sehingga harus ada berbagai kebijakan yang berkaitan dengan bagaimana menyiapkan masyarakat apabila kebijakan ini dilakukan tapi juga harus melakukan tekanan terhadap kebijakan pemerintah agar menjadi berpihak terhadap rakyat.

Focus Group Discussion ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Laboratorium Hubungan Internasional sebagai upaya merespon isu-isu yang berkembang dalam masyarakat sehingga bisa memberikan sumbang saran atau alternatif solusi bagi masalah-masalah yang ada.

Maju Terus Pantang Menyerah! (Tj)

 

KOPERASI SEBAGAI MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PASCA BENCANA

Pengembangan koperasi sangat penting dan strategis sebagai model penguatan kelembagaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pasca terjadinya bencana di lokasi-lokasi yang terkena dampak terparah. Demikian salah satu butir pemikiran yang disampaikan oleh akademisi FISIP UNSOED (Dr. Masrukin, M.Si, Ahmad Sabiq, SIP. MA dan Adhi Iman Sulaiman, SIP. M.Si) dalam 2014 International Economics Development and Research Centre (IEDRC) Hongkong Conferences. Tim yang diketuai oleh Dr. Masrukin, M.Si ini mendasarkan pendapatnya pada hasil penelitian pada desa-desa terparah yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi dimana usaha ekonomi masyarakatnya belum dapat berkembang dengan baik sehingga membutuhkan program dan pelaksanaan pemberdayaan dengan pendampingan yang berkesinambungan. Di sisi lain masyarakat banyak yang beralih profesi atau jenis usaha ke penambangan pasir yang ke depan tentunya tidak sustainable sebagai mata pencaharian. Karenanya koperasi sangatlah dibutuhkan sebagai kelembagaan ekonomi masyarakat yang dapat menjadi induk usaha bagi pengembangan semua jenis usaha masyarakat dalam hal ijin usaha, permodalan, pemasaran maupun jaringan kemitraan. Namun demikian hal ini membutuhkan adanya sinergitas, koordinasi dan kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, LSM/NGOs, bank dan sector swasta lainnya untuk melakukan program pemberdayaan dan pendampingan.

Konferensi Internasional yang dilaksanakan pada 8-9 November 2014 di Cityview Hotel Hongkong ini diikuti oleh partisipan dari berbagai belahan dunia. Nuansa internasional benar-benar terasa karena hadir perwakilan akademisi dari seluruh benua (Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia). Paper tim akademisi FISIP UNSOED yang berjudul Community Empowerment Model through Cooperative for the Villages Most Severely Affected By Eruption of Merapi ini terpilih untuk dipublikasikan dalam International Journal of Social Science and Humanity.

Tags: 

FKIK UNSOED Menerima Kunjungan Universitas Muria Kudus

(fkik.unsoed.ac.id) Selasa, 18 November 2014, bertempat di ruang serbaguna Laboratorium Skill gedung FKIK UNSOED  Purwokerto  menerima kunjungan dari Universitas Muria Kudus berjumlah 8 orang yang terdiri dari Rektor, Para Pembantu Rektor, Direktur dan mantan Direktur Rumah Sakit Kudus,  Kabag TU dan Ketua Yayasan. Rombongan disambut  oleh Dekan FKIK, Dr. Warsinah, M.Si, Apt, Para Wakil Dekan serta jajaran pimpinan di lingkungan FKIK UNSOED. Adapun maksud dan tujuan dari kunjungan ini adalah studi banding perihal rencana pendirian program Pendidikan Dokter di Universitas Muria.

Sebelum menyampaikan sambutan, Wakil Dekan I FKIK UNSOED, dr. Wahyu Siswandari, Sp. PK, M.Si.Med terlebih dahulu memperkenalkan para pimpinan jurusan Kedokteran dan jajaran yang ada di Dekanat FKIK. Kemudian dilanjutkan pemaparan tentang profil FKIK dan SOTK di Unsoed dalam Sistem Pengelolaan dan Penjaminan Mutu. Dekan FKIK, Dr. Warsinah, M.Si. Apt, Ketua Jurusan Kedokteran, dr. H.M Zaenuri Syamsu Hidayat, Sp.KF.M.Si.Med, Sekretaris Jurusan Kedokteran,  dr. Joko Mulyanto, M.Sc dan dr. Hj. Retno Widiastuti , MS juga menambahkan informasi dan pengalamannya mengenai proses pendirian serta berbagai hambatan awal dalam mendirikan program pendidikan dokter.

Acara diakhiri dengan pertukaran cindera mata, dilanjutkan dengan orientasi lingkungan perihal pembelajaran dan pendidikan yang ada di Jurusan Kedokteran FKIK dan foto bersama.

 FKIK UNSOED, Maju Terus Pantang Menyerah !!! (LI35)

 

Tags: 

Dr. Hariyadi, Paparkan Budaya Pop Islam dan Identitas Anak Muda Muslim Indonesia di UNPAD

Sebuah penghormatan dan penghargaan bagi Civitas Akademika ketika diiundang untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya di forum ilmiah diluar “rumahnya”. Kali ini Dr. Hariyadi, staf pengajar di Jurusan Sosiologi Fisip UNSOED diundang untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya di seminar tentang Budaya Pop Islam dan Identitas Anak Muda Muslim Indonesia. Seminar yang digelar Departemen Susastra dan Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran ini dilaksanakan pada Kamis (13/11) lalu. Pada kesempatan ini Dr. hariyadi tampil bersama Trisna Gumilar, MA., dari Universitas Padjadjaran.

Pada kesempatan ini Dr. Hariyadi memaparkan hasil penelitiannya yang merupakan tesis doktoralnya di University of Western Australia, yang berjudul Budaya Populer Islam dan Identitas Anak Muda Muslim Indonesia. Munculnya budaya populer merupakan produk dan praktek Islam mencerminkan perubahan dramatis dalam identitas Muslim. “Budaya pop Islam merupakan tantangan bagi budaya populer yang berlaku, budaya pop Islam merongrong dan mengganggu kepekaan modernis sekuler serta tradisionalis muslim”, paparnya. Budaya pop Islam merupakan masukan munculnya identitas baru di kalangan umat Islam Indonesia yang ditandai dengan sikap modern dan saleh. Islam yang pada awalnya  oleh kapitalis dipandang sebagai budaya kelas kurang berpendidikan dan miskin, menjadi menjadi menonjol melalui teknologi produksi massal, industrialisasi dan arus global.

Budaya Islam popular makin marak karena didukung oleh banyak media, film-film maupun buku-buku islami yang bisa dipelajari sendiri.  Buku sebagai bahan mudah dicerna bagi yang membutuhkannya. Anak muda muslim menyesuaikan saran dari film dan buku ke dalam kehidupan mereka dengan longgar dan selektif.  Anak muda Muslim Indonesia adalah agen sosial yang memiliki pengetahuan tentang sistem sosial di mana mereka berasal dan bertindak untuk tidak hanya mereproduksi sistem, tetapi juga memodifikasi sistem sesuai dengan kebutuhan mereka. Identitas mereka masih harus diperbaiki dan mungkin akan selamanya 'dalam proses' sebagai anak muda Muslim Indonesia yang terus mencari dan membangun identitas mereka.

Tags: 

Halaman

Subscribe to Test RSS

Buletin

Jangan mau ketinggalan berita yang menarik dan update! Pastikan untuk bergabung dengan kami.

Jl. HR Boenyamin 708 Purwokerto 53122.

EMAIL DAN SOSIAL MEDIA