News

UNSOED Laksanakan Sholat Idul Adha 1432 H di Graha Widyatama : “Gerakan Menuju Keteladanan”

[unsoed.ac.id, Senin, 7/11/11] Salah satu yang amat kita butuhkan dalam menjalani kehidupan yang baik adalah keteladanan dari figur-figur yang bisa diteladani. Diantaranya adalah figur Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW, demikian Khotib meyampaikan pada Khotbah Shalat Idul Adha 1432 H. Pelaksanaan Shalat Idul Adha Universitas Jenderal Soedirman dipusatkan di Auditorium Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman, Minggu, 6 Nopember 2011. Pada shalat tersebut bertindak sebagai Imam Wahyudin, S.Ag., M.Si dan Khotib Prof. Ir. Totok Agung DH., MP, PhD. Jamaah shalat Idul Adha terdiri dari para pimpinan universitas, dosen, karyawan mahasiswa dan masyarakat yang jumlahnya tidak kurang dari 700 orang.

Pada kesempatan khotbahnya Khotib Prof. Ir. Totok Agung DH., MP, PhD. juga menyampaikan bahwa ada 4 (empat) hikmah bagi kaum muslimin untuk mewujudkannya dalam kehidupan.

1. Bergerak meninggalkan yang haram, dan melakukan yang halal. Ibadah haji dimulai dengan ihram dan diakhiri dengan tahallul. Ihram maknanya adalah pengharaman dan tahallul maknanya penghalalan, maka seorang haji siap bergerak meninggalkan yang diharamkan Allah SWT dan hanya mau melakukan sesuatu bila memang dihalalkan. Karena itu amat tercela bila ada orang ingin mendapatkan sesuatu yang tidak halal dengan memanfaatkan jalur hukum sekedar untuk mendapatkan legalitas hukum agar terkesan menjadi halal, padahal keputusan hakim sekalipun, tetap saja tidak bisa mengubah sesuatu yang tidak halal menjadi halal.

2. Bergerak untuk kebaikan dan berkorban. Ibadah haji merupakan ibadah bergerak. Para jamaah bergerak dari rumahnya menuju asrama haji, menuju bandara, menuju bandara King Abdul Aziz, menuju Madinah atau Mekah, langsung menunaikan umrah hingga tahallul. Bergerak lagi untuk melaksanakan puncak ibadh haji, menuju arafah untuk wuquf, menuju Muzdalifah, melontar di Mina, Tawaf ifadhah di Mekah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai, lalu kembali lagi ke Mekah untuk bersiap meninggalkan Mekah menuju Tanah Air, setelah tawaf Wada.

3. Menjadikan masjid sebagai Pusat pergerakan. Ibadah haji dan rangkaian ibadah lainnya berpusat di masjid. Sebagai Muslim setiap kita harus memiliki ikatan batin dengan masjid yang membuat kita mau mendatangi masjid setiap hari untuk melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah. Bila setiap lelaki muslim saja harus berusaha untuk selalu memunaikan shalat berjamaah di masjid, apalagi bila ia sudah melaksanakan ibadah haji. Karena seorang haji yang sudah menyempurnakan keislamannya seharusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di sekitarnya.

4. Bergerak untuk keteladanan; memiliki ilmu menjadi pribadi yang shalih dan menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi yang akan datang. Ibrahim berdoa” Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian (QS As Syu’ara(26): 83-84). Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak memanfaatkannya (HR. Thabrani dari Abu Hurairah RA). Hal luar biasa dari doa Nabi Ibrahim adalah beliau minta kepada Allah SWT agar dimasukkan dalam golongan orang yang shalih. Begitu penting menjadi shalih, sehingga selain Nabi Ibrahim, jauh sebelumnya Nabi Sulaiman AS, juga berdo’a agar dimasukkan ke dalam kelompok orang  yang shalih.

Selesai shalat Idul Adha  diteruskan dengan penyembelihan hewan qurban, yang sebelumnya diawali dengan pengarahan kepada mereka yang ikut thethel oleh ketua panitia Drs. Uung Junarya, MH. Jumlah hewan qurban yang disembelih adalah 4 (empat) ekor Sapi dan 7 (tujuh) ekor kambing. Daging qurban dibagi-bagikan, selain untuk warga UNSOED yang berhak menerima, juga dibagikan kepada warga masyarakat sekitar Universitas Jenderal Soedirman. (SND)

Bahasa Indonesia

Kategori: