Profil Peneliti

Suprayogi

Gelar: 

Ir, M.Sc., Ph.D.

Pendidikan: 

Fakultas: 

Pertanian

Deskripsi Personal: 

Ir. Suprayogi, M.Sc., Ph.D.adalah Dosen Fakultas Pertanian UNSOED menyelesaikan S3 (2009) dan post doktoral programnya (2011) di University of Saskatchewan, Saskatoon, Saskatchewan, Canada.  Ir. Suprayogi yang lulusan S2 University of British Columbia, Vancouver, Canada, pada tahun 1994 adalah alumnus Fakultas Pertanian yang lulus tahun 1986, yang memulai karir sebagai dosen pada tahun 1988.

INPARI UNSOED 79 AGRITAN adalah varietas padi unggul yang dirakit oleh Dr. Suprayogi bersama Dr. Noor Farid , varietas padi ini dikembangkan sebagai bagian dari kepedulian terhadap semakin banyaknya lahan sawah subur yang dialih-fungsikan menjadi kawasan perumahan, industri dan infrastuktur yang lain.  Varietas ini khusus dikembangkan untuk sawah daerah pesisir yang pada musim kemarau terkendala menaiknya kadar garam (salinitas) s/d 12 dS/m. Pada kondisi tercekam salinitas varietas ini bisa menghasilkan 4 – 6 ton gabah kering panen (GKP) per Hektar. Varietas ini mempunyai mutu giling premium dan rasa nasi cukup pulen.

Melalui program insentif untuk "Teknologi yang Dimanfaatkan Industri" Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, pada tahun 2016 LPPM UNSOED memberi hak penangkaran benih  INPARI UNSOED 79 AGRITAN kepada CV Gemilang Karya Sentosa dan kemudian mengembangkannya di Cilacap, Tegal, Kebumen dan Pemalang, Jawa Tengah dengan luas total 400 Ha pada tahun 2017.

Pada tahun 2018, melalui dukungan  program yang sama akan dikembangkan Kawasan Produksi Padi Salin dan Kajian Teknologi Budidaya Padi Salin di Kabupaten Pemalang dan Kebumen. Pada tahun yang sama, padi INPARI UNSOED 79 AGRITAN diharapkan sudah dikembangkan di seluruh wilayah pesisir Jawa Tengah seluas lebih kurang 1500 Ha (setara dengan estimasi produksi  7500 GKP)

Berdasarakan karakterisik varietas dan hasil uji coba pengembangan selama beberapa tahun, INPARI UNSOED 79 AGRITAN sangat potensial digunakan sebagai varietas padi unggulan untuk penyangga ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan salin yang tersebar sangat luas di wilayah pesisir seluruh Indonesia dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai lumbung pangan nasional.

Di Indonesia terdapat tidak kurang dari 30 juta hektar lahan salin dan diperkirakan luasnya akan terus bertambah sebagai akibat dari pengaruh pemanasan global. Tidak semua lahan salin cocok untuk budidaya padi karena sebagian besar merupakan lahan rawa dengan genangan tinggi. Apabila 10 persen dari lahan salin yang ada (3 juta hektar) dapat dimanfaatkan untuk produksi padi. Dengan asumsi per hektar bisa untuk menghasilkan 2 ton GKP (minimal), maka lahan salin di Indonesia akan memberikan sumbangsih sebesar 6 juta ton GKP per tahun.