Profil Peneliti

Juni Sumarmono

Gelar: 

Ir.,M.Sc.,Ph.D.

Deskripsi Personal: 

Ir. Juni Sumarmono, Ph.D adalah peneliti di Fakultas peternakan UNSOED terutama mengenai Teknologi Hasil ternak.  Salah satu penelitiannya adalah mengenai Yogurt Pasta Susu Kambing.

Susu adalah salah satu hasil olahan ternak yang memiliki banyak manfaat.  Hanya saja 80% dari kebutuhan susu Indonesia masih import belum lagi tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia ternyata masih sangat rendah.  “Untuk mengatasinya diantaranya ada dua hal yang bisa dilakukan yaitu menambah sapi perah atau mengoptimalkan produk susu dari kambing”, ungkap Peneliti Unsoed Ir Juni Sumarmono MSc PhD.  “Susu kambing peranakan etawa berdasarkan berbagai riset memiliki kandungan yang sangat bermanfaat bagi tubuh hanya saja sebagian orang Indonesia tidak meminumnya karena tidak suka bau kambing dan tidak suka minum susu”, ungkapnya.  Juni yang juga Kepala Laboratorium Pengolahan Hasil Ternak ini kemudian melakukan penelitian dan berhasil membuat Yogurt Pasta atau Yogurt semi padat (concentrated yogurt) dari susu kambing Peranakan Etawa.  “Yogurt semi padat ini kaya manfaat susu tapi tidak bau kambing dan tidak berbentuk cair sehingga diharapkan dapat dikonsumsi orang yang tadinya tidak suka susu kambing karena bau dan tidak suka minum susu”, ungkap Juni.  Lulusan Queensland University Australia ini juga mengungkapkan bahwa Yogurt bahkan lebih mudah dicerna daripada susu.  “Karena bentuknya pasta ia dapat digunakan sebagai oles roti tawar, dibentuk bola-bola, serta diberi berbagai rasa”, lanjutnya. 

Secara tradisional yogurt semi padat sebenarnya sering dilakukan oleh masyarakat timur tengah atau negara-negara di sekitar laut hitam.  “Mereka membuatnya dengan memasukkan susu ke dalam kain tertentu dan menggantungnya hingga 24 jam hingga airnya hilang”, jelas Juni.  Hal ini jelas membutuhkan waktu yang lama, maka Juni membuat teknologi yang dapat membuat yogurt pasta hanya dalam 20 menit saja.  “Inovasi Teknologinya yaitu Mempercepat proses pembuatan concentrated yogurt dari 24 jam menjadi 20 menit, yaitu dengan membuat alat pemisah cairan (whey) yang didasarkan pada gaya sentrifugal alat disebut sentrifugal separator”, jelasnya.  Juni menjelaskan bahwa proses pembuatan concentrated yogurt yaitu susu kambing di pasteurisasi pada suhu 73oC selama 15 detik.  “Setelah suhu turun menjadi 40oC ditambah biang yogurt yang berisi bakteri asam laktat kemudian diinkubasi sehingga terjadi proses fermentasi”, ungkap Juni.  Setelah didiamkan 4-5 jam dan susu telah menjadi yogurt kemudian dimasukkan ke dalam alat sentrifugal separator dengan kecepatan 1200 rpm selama 20 menit.  “Dihasilkan concentrated yogurt berupa produk semi padat yang kemudian dikemas”, jelasnya.  Yogurt semi padat ini memiliki daya simpan yang lama.  “Jika disimpan dalam lemari es bisa tahan hingga satu bulan, sedangkan jika disipan dengan minyak nabati misalnya zaitun, bisa bertahan hingga satu tahun”, ungkapnya.

Dengan hadirnya yogurt semi padat dari susu kambing ini, Juni berharap turut serta menjadi solusi masalah susu di Indonesia.  “Semoga masyarakat yang tidak suka minum susu menjadi mau mengkonsumsi susu karena hadir dalam bentuk yang lain, dan menjadi alternatif kesediaan susu”, jelasnya.  Sebab menurutnya untuk memelihara kambing masyarakat Indonesia sudah terbiasa dan membutuhkan biaya lebih sedikit daripada sapi. “Tinggal merubah mindset yang sekedar mengambil peranakanya menjadi mindset untuk memerah juga susunya”, ungkapnya.  “rata-rata kambing peranakan etawa dapat menghasilkan susu satu liter per hari”, jelasnya.  Yogurt semi padat ini menjadi alternatif baru dalam olahan produk ternak dan menjadi harapan baru konsumsi susu masyarakat Indonesia.