Profil Peneliti

Tyas Retno Wulan

Gelar: 

Dr., M.Si.

Pendidikan: 

Deskripsi Personal: 

Selama ini Buruh Migran Indonesia (BMI) yaitu para pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri hanya dianggap menghasilkan remiten ekonomi.  Dimana remiten ekonomi ini berupa uang kiriman kepada keluarga yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.  Peneliti dari Jurusan Sosiologi Unsoed Dr. Tyas Retno Wulan selama ini bergelut dengan permasalahan buruh migran ini.  Dari berbagai penelitiannya salah satunya dalam menemukan bahwa selain remiten ekonomi para buruh migran juga menghasilkan remiten sosial yang nilainya kadang lebih besar dari remiten ekonomi.  “Buruh migran tidak hanya menghasilkan remiten ekonomi namun juga remiten sosial berupa pengetahuan, gagasan dan kapital sosial lainnya,” ungkapnya.  Bahkan remiten sosial ini jika dikelola dengan tepat akan berhasil memberdayakan buruh migran setelah pulang ke tanah air sehingga tidak perlu kembali lagi menjadi buruh migran.  Papernya yang berjudul ‘Peran Strategis UNSOED untuk melindungi dan memberdayakan Buruh Migran Indonesia’  yang juga diilhami dari hasil penelitiannya mengantarkan Tyas menjadi Dosen Berpretasi tingkat Universitas (Sen,15/9) dan saat ini sedang bersiap untuk mengikuti pemilihan dosen berprestasi tingkat nasional.

Bertemu dengan buruh migran di Hongkong, Taiwan, Malaysia dan juga melakukan peneltian di Wonosobo dan Banyumas mendorong Tyas untuk terus mencari solusi terbaik bagi persoalan buruh migran.  “Dari sekitar enam juta buruh migran Indonesia, delapan puluh persennya adalah perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” ungkapnya.  Mereka ini yang menurut Tyas sering mengalami berbagai persoalan baik ketika berangkat, saat berada di sana, dan bahkan ketika kembali ke tanah air.  “Mereka adalah wanita-wanita luar biasa yang berjuang demi keluarganya, oleh karena itu kita harus mencari jalan terbaik untuk memberdayakan mereka agar bisa berhasil setelah kembali ke tanah air,” lanjutnya.  Salah satu yang bisa dilakukan menurut Tyas adalah dengan memberdayakan mereka dengan remiten sosial mereka.  “Sebagai contoh personil BMI telah fasih berbahasa Mandarin, maka mereka menjadi guru serta mengenalkan budaya mandarin kepada anggota lainnya, BMI yang ahli memasak ala Chinese food, diharapkan mereka dapat melatih teman-temannya ujungnya adalah pemberdayaan pada BMI dan lingkungan dengan memanfaatkan ketrampilan dan kemampuannya,” jelasnya. 

Peran universitas sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tiga dharma menurut Tyas juga sangat strategis dalam memberdayakan buruh migran.  “Sebagaimana tri dharma perguruan tinggi, maka Universitas dapat berperan dengan dengan cara mengintegrasikan dan mensinergikan hasil penelitian, pendidikan serta diaplikasikan kepada masyarakat,” ungkapnya.  Dalam persoalan buruh migran ini, maka peran universitas adalah melakukan penelitian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi buruh migran, melaksanakan pengabdian masyarakat dengan mengaplikasikan penelitian tersebut.  “Model perlindungan dan pemberdayaan dengan mengintegrasikan hasil penelitian, pengabdian masyarakat dan pendidikan telah terbukti memberikan motivasi bagi para BMI untuk berkarya sekaligus memberdayakan BMI untuk melindungi hak-hak mereka sebagai warga negara,” ungkapnya.