Profil Peneliti

Ahadiyat Yugi R

Gelar: 

S.P., M.Si., D.Tech.Sc.

Pendidikan: 

Deskripsi Personal: 

Lahan kering selama ini telah menjadi perhatian para pakar penelitian.  Bukan sekedar karena belum dioptimalkan, namun juga karena luas lahan kering di Indonesia mencapai 100 Juta hektare.  Hal ini mendorong Ahadiyat Yugi R, SP.,M.Si,D.Tech,Sc, Dosen Agroteknologi UNSOED untuk mencari cara memaksimalkan potensi lahan kering.  “Daerah lahan kering yang tidak ada irigasi menyebabkan pertanian di lahan ini sangat bergantung air hujan, di satu sisi pertanian di lahan kering juga berhadapan dengan tantangan kurangnya unsur hara yang penting salah satunya fosfor (P) yang rendah”, demikian ungkap Doktor lulusan Thailand ini.

Ada dua hal yang sedang dilakukan penerima UNSOED Awards 2014 bidang penelitian ini untuk mewujudkan harapan bertani di lahan kering.  Pertama adalah dengan menyeleksi tanaman hingga menemukan tanaman yang toleran kering dan berhasil tinggi dan kedua, melakukan konservasi air dengan pendekatan biologis.  “Saya menyeleksi varietas-varietas padi gogo yang toleran kering, efisien fosfor (P) dan memiliki daya hasil tinggi dari BP Padi maupun galur-galur yang ada termasuk Padi Gogo UNSOED”, demikian ungkapnya.  Tanah kering yang masam biasanya akan kekurangan P padahal Fosfor (P) termasuk nutrisi makro yang dibutuhkan tanaman sebagai sumber energi yang sangat penting untuk pembentukan bulir padi.  Jika Pnya kurang, maka tanaman tidak akan berdaya hasil tinggi.  Dari hasil penelitiannya sejak 2008 ditemukan varietas yang toleran kering tapi defisien fosfor (P), di satu sisi ada varietas dan galur yang memiliki P tinggi tapi kurang toleran kering.  “Untuk mendapat padi yang toleran kering dan efisien P maka perlu dilakukan penyilangan”, demikian papar Dr. Yugi.

Setelah seleksi tanaman, hal berikutnya yang dilakukan oleh Dr. Yugi adalah konservasi air di lahan kering dengan pendekatan biologis.  “Tujuan dari penelitian ini adalah mengikat agar air yang didapat dari hujan bisa bertahan cukup lama di dalam tanah hingga melewati musim kemarau”.  Dr. Yugi sangat berharap hasil penelitiannya nanti akan membuat lahan kering tetap potensial ditanami meskipun musim kemarau.  “Akan sulit untuk mendapat hasil yang sama besar dengan musim hujan, namun setidaknya ketersediaan air di musim kemarau akan membuat produksi tetap tinggi”, demikian katanya.

Cara yang sedang dikembangkan Dr. Yugi adalah dengan memanfaatkan rumput gajah dan sereh.  Kedua tanaman ini menurutnya memiliki perakaran yang banyak.  “Akar yang banyak juga akan menghasilkan pori yang banyak di dalam tanah, pori yang banyak sangat potensial untuk menyerap air lebih banyak”, demikian jelasnya.  Dengan pengendalian pertumbuhan daun tanaman, Dr. Yugi membuat rumput gajah dan sereh ini berakar semakin banyak dan menyimpan air semakin banyak juga. 

Dengan penelitian yang dilakukannya ini, Dr. Yugi berharap para petani yang lahannya kering setiap kemarau tidak perlu khawatir lagi.  “Penanamannya nanti dikombinasikan diantara tanaman padi, tapi dibutuhkan perlakukan dengan mengendalikan pertumbuhannya agar tepat dan tidak menyerap nutrisi tanaman pokoknya”, demikian katanya.  Dengan penelitian ini, 100 Juta hektare lahan kering Indonesia menemukan harapan untuk dapat diberdayakan menjadi lahan pertanian potensial.