[unsoed.ac.id, Kam, 12/3/26] – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menyelenggarakan Kuliah Umum Akuakultur 2026 bertema “Antimicrobial Resistance (AMR) in Aquaculture: Mechanisms, Drivers and Sustainable Solutions” pada Selasa (10/3/2026) di Aula FPIK Unsoed. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas salah satu tantangan global dalam sektor kesehatan dan budidaya perikanan, yaitu resistensi antimikroba.
Kuliah umum menghadirkan narasumber internasional Assoc. Prof. Mohd Firdaus Bin Nawi dari Kulliyyah of Science, International Islamic University Malaysia (IIUM). Diskusi dipandu oleh Lilik Setiyaningsih, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Akuakultur FPIK Unsoed.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peneliti di bidang perikanan dan akuakultur yang memiliki ketertarikan pada isu kesehatan ikan dan keberlanjutan sistem budidaya perikanan. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami lebih dalam tantangan resistensi antimikroba yang saat ini menjadi perhatian serius dalam pendekatan kesehatan terpadu (One Health), yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Mohd Firdaus Bin Nawi menjelaskan bahwa Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan AMR sebagai salah satu risiko terbesar bagi kesehatan masyarakat dunia.
“AMR menjadi isu yang sangat serius karena dapat menyebabkan antibiotik yang sebelumnya efektif menjadi tidak lagi mampu mengendalikan infeksi. Kondisi ini juga berkaitan dengan sektor akuakultur, di mana tekanan penyakit yang tinggi sering mendorong penggunaan antibiotik secara intensif dalam sistem budidaya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme mampu bertahan dari paparan antibiotik yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit diobati dan berpotensi menyebar ke organisme lain maupun lingkungan perairan.
“Penggunaan antibiotik dalam akuakultur memang dapat dilakukan untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit. Namun, penggunaan yang tidak tepat seperti dosis yang tidak sesuai, pengobatan yang tidak tuntas, serta lemahnya pengawasan dapat mempercepat munculnya bakteri yang resisten,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya pendekatan budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan. Beberapa alternatif yang dapat diterapkan antara lain vaksinasi ikan, penggunaan probiotik, fitobiotik berbasis ekstrak tanaman, imunostimulan, serta penerapan good aquaculture practices untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber yang membahas perkembangan riset terkini terkait AMR serta peluang kolaborasi penelitian internasional di bidang kesehatan ikan dan akuakultur berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, FPIK Unsoed berharap dapat meningkatkan wawasan akademisi dan mahasiswa mengenai tantangan resistensi antimikroba sekaligus mendorong pengembangan praktik budidaya perikanan yang lebih bertanggung jawab, inovatif, dan berkelanjutan.

#unsoed1963 #merdekamajumendunia #berdampak #sdgs3#sdgs4#sdgs14
