Publish: 14 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Rab, 14/10/26] Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Dr. sc. hum. Budi Aji, S.KM., M.Sc., masuk dalam Top 2% World Ranking Scientists 2026 versi Stanford University dan Elsevier. Capaian ini menegaskan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang Clinical Medicine dan Public Health.
Pengakuan tersebut diraih melalui konsistensi publikasi ilmiah dan ribuan sitasi atas karya-karyanya yang menjadi rujukan peneliti dari berbagai negara. Rekam jejak akademiknya tidak hanya mencerminkan produktivitas riset, tetapi juga keterlibatan dalam menjawab persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
Alumni Heidelberg University, Jerman, ini mengembangkan penelitian yang berangkat dari realitas sosial di Indonesia. Fokus kajiannya antara lain perlindungan kesehatan bagi petani penderes gula kelapa, akses pelayanan kesehatan bagi lansia di wilayah pedesaan Banyumas, serta dampak pembiayaan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS Kesehatan.
“Sains yang baik adalah sains yang tidak berjarak dengan masyarakat. Saat kita meneliti masalah kesehatan petani atau lansia di desa, kita tidak hanya sedang menulis artikel jurnal, tetapi sedang menyuarakan hak-hak kesehatan mereka agar didengar oleh pembuat kebijakan,” ujar Prof. Budi Aji, Selasa (13/10/2026).
Kiprah internasional Prof. Budi Aji juga diperkuat melalui keterlibatannya dalam Global Burden of Disease (GBD) Collaboration Network, jaringan kolaborasi peneliti dunia yang berpusat di University of Washington, Amerika Serikat. Melalui kolaborasi tersebut, ia turut berkontribusi dalam publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi, di antaranya The Lancet dan Nature Human Behaviour.
Di tengah tanggung jawabnya sebagai Dekan FIKes Unsoed periode 2022–2026, Prof. Budi Aji juga mengembangkan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui media kreatif. Salah satunya berupa film pendek yang telah memiliki hak cipta dan mengangkat isu stigma terhadap lansia serta pencegahan stunting.
Menurutnya, pengakuan di tingkat global merupakan motivasi untuk terus memperkuat kontribusi riset bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa capaian akademik perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat.
“Penghargaan dan peringkat global tentu menjadi motivasi tambahan. Namun, target utama kami di Unsoed tetap satu: bagaimana hasil pemikiran dan riset ini bisa terus memberi dampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Capaian ini diharapkan dapat mendorong peneliti muda dan mahasiswa untuk percaya diri menghasilkan karya ilmiah serta membangun jejaring kolaborasi internasional. Bagi Prof. Budi Aji, pengembangan ilmu pengetahuan perlu tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat, sehingga riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi turut menjadi landasan bagi perbaikan kebijakan dan pembangunan kesehatan.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




