Publish: 26 Juni 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
Di ruang kelas Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Lynda Susana mengajar Cultural Studies dan metode penelitian budaya. Namun, sebagian pelajaran terpenting justru tidak selalu bermula dari bangku kuliah. Ia datang dari panggung lengger, dari percakapan dengan seniman sepuh, dari desa-desa yang masih menyimpan kesenian tetapi sering kehilangan penerusnya.
Perhatian Lynda terhadap budaya lokal Banyumas tumbuh perlahan. Saat menjadi mahasiswa di Semarang, ia pernah terpilih sebagai duta budaya Jawa Tengah ke Malaysia. Dari pengalaman itu, ia menyadari betapa beragamnya kebudayaan Jawa Tengah. Ketika pindah ke Purwokerto pada 2003 dan mulai mengajar setahun kemudian, pandangannya tertambat pada Banyumas. Ada banyak tradisi yang hidup, tetapi belum banyak tergali. Puncaknya terjadi pada 2014, ketika ia melihat kebangkitan lengger lanang, sebuah tradisi yang memantik rasa ingin tahu sekaligus kontroversi.
Bergerak Keluar Kampus
Bagi Lynda, lengger bukan sekadar tari. Di dalamnya ada tubuh, sejarah, spiritualitas, pertanian, rasa syukur, juga luka sosial yang panjang. Lengger lanang kerap dicibir karena laki-laki menari dengan rias dan gerak feminin. Lengger perempuan pun tidak luput dari prasangka, sering dianggap terlalu menggoda. Stigma itu, kata Lynda, bisa membuat penari kehilangan ruang tampil, pekerjaan, bahkan keberanian untuk meneruskan jalan kesenian.
Dalam membangun jembatan antara kampus dan komunitas lengger, Lynda memilih jalan yang pelan tetapi membumi. UNSOED, baginya, tidak cukup hadir sebagai pengamat yang datang membawa teori, lalu pulang membawa data. Kampus perlu menjadi mitra yang menyediakan ruang, membuka akses, mempertemukan seniman dengan mahasiswa, dan membantu komunitas menembus hambatan, melalui promosi digital, penyusunan proposal, sampai jaringan pementasan.
Dari situlah kerja akademik Lynda bergerak keluar kampus. Ia tidak datang kepada komunitas sebagai penilai, apalagi hakim. Ia memilih bertanya: masalah apa yang sedang dihadapi, lalu apa yang bisa dikerjakan bersama. Ketika sebagian komunitas lengger tidak memiliki akses promosi, ia dan tim membantu membuat kanal YouTube, media sosial, dan pelatihan konten kreatif.
Di beberapa tempat, pekerjaan itu pelan-pelan membuahkan hasil. Di Baturaden, misalnya, Lynda pernah terlibat dalam sarasehan bersama warga sekitar. Ia mencoba menggeser cara pandang masyarakat, dari menilai lengger dengan kacamata prasangka menjadi melihatnya sebagai kebudayaan. “Kalian lihat bahwa mereka juga punya keluarga,” katanya dalam salah satu pertemuan. Setelah dialog semacam itu, ruang tampil mulai terbuka dan penerimaan warga membaik.
Mendokumentasikan Kebudayaan
Mahasiswa juga diajak masuk ke lingkaran kerja kebudayaan ini. Mereka turun ke komunitas, membuat laporan, mendokumentasikan pertunjukan, bahkan mengolah cerita seniman lokal ke dalam karya sinema dengan takarir bahasa Inggris. Dari situ, kelas tidak berhenti sebagai ruang teori. Ia menjadi pintu untuk belajar etnografi, komunikasi lintas generasi, dan kepekaan sosial.
Lynda percaya bahwa pelestarian budaya hari ini tidak bisa mengabaikan dunia digital. Media sosial dapat menjadi arsip, etalase, sekaligus jembatan bagi generasi muda. Namun, ia juga sadar, pengalaman menonton langsung tidak bisa sepenuhnya digantikan layar gawai. Karena itu, dokumentasi perlu berjalan bersama panggung, biografi seniman, dan penguatan komunitas.
Di tangan Lynda, kampus berdampak bukan slogan besar yang jauh dari warga. Ia hadir dalam bentuk sederhana: menemani seniman menyusun jalan, mengajak mahasiswa belajar dari desa, dan mengubah riset menjadi kerja yang terasa manfaatnya.




