Publish: 24 September 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Rab, 23/9/2026] Empat mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil meraih Juara 1 Kompetisi Legal Study Case tingkat internasional dalam rangkaian Legislative Summit Festival Universitas Jenderal Soedirman. Prestasi tersebut diraih melalui kajian mengenai pemblokiran Grok AI oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dari perspektif perlindungan data dan privasi digital.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Jihan Aliyah Iskandar, Tasya Khamilyya Febrianti, Najla Salsabila Khairunissa, dan Ektifaya Gynura Qurrota Ayun. Jihan yang bertindak sebagai ketua tim menjelaskan, keikutsertaan mereka berawal dari ketertarikan terhadap isu pemblokiran Grok AI yang saat itu menjadi perhatian publik. Tim kemudian melihat isu tersebut sebagai persoalan hukum yang relevan untuk dikaji, khususnya terkait perkembangan teknologi, perlindungan data, dan privasi digital.
“Isu pemblokiran Grok AI menjadi titik awal kami memilih topik ini. Sebagai mahasiswa hukum, kami melihat ada persoalan yang menarik untuk dikaji, terutama dari sisi perlindungan data dan privasi digital,” ujar Jihan.
Penyusunan karya tulis dilakukan pada 31 Agustus hingga 6 September 2026. Tim menelusuri duduk perkara pemblokiran Grok AI dan mengkaji sejumlah regulasi yang relevan, di antaranya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi serta Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Dalam proses tersebut, tim mendapat bimbingan dari dosen Fakultas Hukum Unsoed, Fathimah Azzahro, S.H., M.H. dan Luthfi Kalbu Adi, S.H., M.H.
Presentasi sebagai tahapan akhir kompetisi dilaksanakan pada 11 September 2026. Persiapan menjadi tantangan tersendiri karena pengumuman tiga tim terbaik yang berhak mengikuti babak presentasi disampaikan sehari sebelum pelaksanaan. Tim harus mempersiapkan materi dalam waktu terbatas sekaligus memastikan setiap anggota memahami substansi kajian dan pembagian tugas masing-masing. Selain keterbatasan waktu, tim juga menghadapi tantangan berupa minimnya literatur dan preseden hukum mengenai regulasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong tim melakukan penelusuran sumber dan analisis hukum secara lebih mendalam. Bimbingan dosen turut membantu mempertajam sudut pandang dan argumentasi yang digunakan dalam kajian.
“Bimbingan dosen sangat membantu kami dalam mempertajam analisis dan menyempurnakan argumentasi. Proses ini juga membuat kami belajar bagaimana melihat isu teknologi yang berkembang dari perspektif hukum,” ungkap Jihan. Capaian tersebut menjadi pengalaman bagi keempat mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dalam mengkaji persoalan hukum kontemporer. Mereka berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Unsoed lainnya untuk berani mengikuti kompetisi dan mengeksplorasi isu-isu baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi, tim berpesan agar kompetisi tidak hanya dipandang sebagai ajang untuk meraih juara, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun kolaborasi. Kerja sama tim serta keberanian untuk mengangkat isu yang belum banyak dikaji menjadi bagian penting dalam proses mereka hingga meraih prestasi tersebut.




