Berita

Doktor Baru Fapet Unsoed Ungkap Kunci Adaptasi dan Reproduksi Sapi Perah Impor di Iklim Tropis

[unsoed.ac.id, Ming, 15/02/26] –  Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) kembali melahirkan doktor baru melalui Ujian Promosi Doktor Program Studi S3 Peternakan atas nama Apsari Kumalajati (NIM D3A019001), Kamis (12/2/2026).

Dalam sidang terbuka tersebut, promovendus mempertahankan disertasi berjudul “Indeks Adaptasi dan Kinerja Reproduksi Hubungannya dengan Konsentrasi Hormon dan Metabolit Darah pada Sapi Perah Dara Impor dari Australia.”

Sidang dipimpin Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dengan promotor Prof. Dr. Ir. Mas Yedi Sumaryadi, M.S., IPU., ASEAN Eng., serta ko-promotor Prof. Dr. Ir. Dadang Mulyadi Saleh, M.S., M.Agr.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. Tim penguji turut menghadirkan Prof. Ir. Mulyoto Pangestu, M.Rep.Sc., Ph.D. dari Monash University.

Ujian ini juga dihadiri pimpinan fakultas, guru besar, kepala laboratorium, serta mitra strategis dari BBPTU-HPT Baturraden dan Badan Karantina Cilacap sebagai bentuk kolaborasi akademik dan praktis di sektor peternakan.

Dalam pemaparannya, Apsari menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi perah Friesian Holstein (FH) dara masih tinggi, sementara adaptasi terhadap iklim tropis menjadi tantangan biologis yang berdampak langsung pada kinerja reproduksi.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa stres panas kronis memicu perubahan metabolik dan hormonal yang berimplikasi langsung pada penurunan performa reproduksi. Artinya, persoalan adaptasi bukan hanya isu manajemen kandang, tetapi menyangkut stabilitas fisiologis ternak secara menyeluruh,” ujar Apsari.

Hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap di BBPTU-HPT Baturraden menunjukkan nilai Temperature Humidity Index (THI) mencapai 76,2 atau kategori stres panas sedang. Kondisi tersebut memicu peningkatan hormon kortisol yang mengindikasikan aktivasi respons stres akibat tekanan lingkungan tropis.

Pada tahap berikutnya, ditemukan penurunan intensitas berahi dan angka kebuntingan, serta peningkatan service per conception (S/C). Intervensi hormonal menggunakan kombinasi PGF₂α dan GnRH terbukti meningkatkan respons estrus, namun keberhasilan kebuntingan tetap sangat dipengaruhi oleh keseimbangan metabolik.

“Temuan pentingnya adalah intervensi hormonal bersifat suportif. Tanpa stabilitas metabolit darah seperti NEFA, BHBA, dan BUN, peluang kebuntingan tetap rendah. Jadi, pendekatan reproduksi harus terintegrasi dengan manajemen nutrisi dan adaptasi iklim,” jelasnya.

Ketua Sidang, Ir. Novie Andri Setianto, menilai disertasi ini memiliki relevansi strategis bagi pengembangan sapi perah tropis.

““Kajian ini menunjukkan konstruksi berpikir yang sistematis, berbasis data, dan memiliki kontribusi nyata terhadap pengembangan sapi perah tropis. Ini bukan sekadar riset laboratorium, tetapi pijakan ilmiah untuk transformasi manajemen peternakan modern,” katanya.

Sementara itu, Promotor Prof. Mas Yedi Sumaryadi menekankan bahwa keberhasilan reproduksi merupakan hasil interaksi multidimensional.

“Saudari Apsari berhasil membuktikan bahwa adaptasi lingkungan, regulasi hormonal, dan stabilitas metabolik adalah satu kesatuan. Kontribusi ilmiahnya signifikan bagi pengembangan sapi perah tropis dan penguatan produksi susu nasional,” ungkapnya.

Setelah melalui sesi tanya jawab yang komprehensif, dewan penguji secara mufakat menetapkan Apsari Kumalajati lulus dengan predikat A.

Dengan demikian, Dr. drh. Apsari Kumalajati, M.Si. resmi menyandang gelar Doktor di bidang Peternakan. Capaian ini diharapkan memperkuat peran Fapet Unsoed sebagai pusat riset dan inovasi dalam mendukung kedaulatan susu nasional berbasis sains tropis berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

#unsoed1963 #merdekamajumenduniaberdampak #sdgs4