Publish: 26 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sen, 26/10/26] Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si., mempresentasikan penelitian tentang advokasi digital pekerja migran perempuan Indonesia di Hong Kong dalam workshop internasional “Global Indonesians as a Shifting Diaspora” yang diselenggarakan di National University of Singapore (NUS), pada 22–23 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, Dr. Tyas mengangkat pentingnya pengakuan terhadap pekerja migran perempuan sebagai bagian dari diaspora Indonesia yang memiliki suara, hak, dan peran aktif dalam membentuk identitas bangsa lintas negara. Penelitian ini menyoroti bagaimana media digital menjadi ruang bagi pekerja migran untuk menyuarakan kepentingan dan memperjuangkan hak-hak mereka.
Penelitian tersebut mengkaji aktivitas Yuni Andarwati, kreator konten yang memanfaatkan TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook untuk menyuarakan persoalan pekerja migran Indonesia. Advokasi digital yang dilakukannya menjangkau berbagai isu pekerja migran, tidak hanya di Hong Kong, tetapi juga di Malaysia, Kamboja, dan Taiwan.
Melalui metode etnografi digital, yang mencakup analisis konten dan wawancara dengan Yuni Andarwati, penelitian ini menunjukkan bahwa media digital dapat menjadi ruang alternatif bagi pekerja migran untuk membangun jejaring, berbagi pengetahuan, dan menyuarakan hak-hak mereka. Ruang tersebut dipahami sebagai transnational counterpublics, yakni ruang publik lintas negara yang memungkinkan kelompok dengan kepentingan tertentu menyuarakan perspektifnya, sekaligus mendorong munculnya figur digital migrant advocate.
“Selama ini pekerja migran perempuan sering diposisikan sebagai objek kebijakan. Lewat riset ini, saya ingin menunjukkan bahwa mereka adalah subjek yang aktif membentuk diaspora Indonesia, dan mereka berhak diakui sebagai bagian dari diaspora itu,” ujar Dr. Tyas.
Menurutnya, pekerja migran tidak hanya berperan sebagai tenaga kerja di luar negeri, tetapi juga sebagai aktor sosial yang berkontribusi dalam membangun jejaring transnasional dan memperjuangkan hak melalui ruang digital. Perspektif ini mendorong pengakuan terhadap pengalaman, pengetahuan, dan kontribusi pekerja migran dalam kehidupan sosial lintas negara.
Keikutsertaan Dr. Tyas dalam workshop tersebut merupakan hasil seleksi call for papers yang diselenggarakan oleh Asia Research Institute NUS. Dari Indonesia, enam akademisi terpilih untuk berpartisipasi bersama pemakalah dari sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Australia, Prancis, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.
Partisipasi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi riset internasional bagi FISIP Unsoed dan membawa kajian mengenai pekerja migran dari daerah ke dalam diskusi akademik global.
Keterlibatan Dr. Tyas dalam isu pekerja migran berangkat dari pengalaman lebih dari dua dekade dalam penelitian, advokasi, dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia, khususnya perempuan migran di Hong Kong dan Malaysia. Bidang kajiannya meliputi migrasi transnasional, gender, remitansi sosial, serta kebijakan perlindungan pekerja migran. Ia juga menjadi Pembina SERUNI, organisasi komunitas pekerja migran di Banyumas.
“Suara pekerja migran dari Banyumas layak didengar di forum global. Semoga ini juga menyemangati mahasiswa dan dosen kita untuk terus menyuarakan riset di forum internasional,” tambahnya.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




