[unsoed.ac.id, Sen, 02/3/26] Pernahkah Anda mendengar istilah perawatan paliatif? Istilah ini memang populer dalam dunia medis, namun belum begitu familiar di kalangan masyarakat umum. Sebagaimana dilansir dalam laman World Health Organization (WHO), perawatan paliatif adalah upaya meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga pasien yang menghadapi penyakit berat, dengan cara meringankan beban fisik, pikiran, sosial, hingga spiritual.
Lalu, benarkah hanya tenaga medis saja yang bisa melakukan perawatan paliatif? Jawabannya: “tidak!”
Dr.dr. Raditya Bagas Wicaksono (dr. Bagas), dosen ahli Bioetika Unsoed, menawarkan perspektif baru yakni perawatan paliatif yang memadukan unsur kearifan lokal di Indonesia. Sebuah praktik perawatan paliatif berbasis rumah atau keluarga, dengan pendekatan etnografi yang menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam proses pengambilan keputusan medis.
“Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini adalah perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal di Indonesia,” papar dosen yang sudah bekerja di Unsoed Sejak 2019 ini.
Bagas menjelaskan, bahwa perspektifnya ini merupakan temuannya ketika melakukan studi doktoral di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Ia mempertahankan riset berjudul “Home Palliative Care in Indonesia : An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values.” dr. Bagas menyelesaikan riset cukup cepat, yakni 3 tahun 9 bulan. Meskipun rata-rata studi doktoral di Belanda biasanya antara 4 sampai 8 tahun.
Komentar-komentar dosen pembimbing dan penguji internasional dari lintas disiplin pada saat sidang disertasi akhir tahun 2025 lalu, juga sangat positif. Riset dr. Bagas dinilai memberi kontribusi penting bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, terutama pada masyarakat dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki jejaring keluarga yang kuat.
Sebagai penerima beasiswa LPDP dalam studi doktoralnya, dr. Bagas merasa memiliki amanah untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat Indonesia dari hasil studinya.
“Saya berjanji akan berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif budaya lokal. Kami juga sedang menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya untuk pasien penyakit serius berdasarkan temuan penelitian ini,” terang dr. Bagas dengan optimisme tinggi, yang kini mulai aktif kembali mengajar di Unsoed sejak 2 Maret 2026.
Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr. dr. MM Rudi Prihatno, M.Kes., menyebut perspektif baru yang dibawa dr. Bagas merupakan bukti bahwa lulusan Unsoed mampu bersaing di tingkat global sekaligus tetap berakar pada persoalan bangsa. “Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dr. Bagas dan keluarga, tetapi juga bagi kami di Unsoed,” paparnya.
Ya, keberhasilan dr. Bagas menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya tentang gelar dan publikasi, tetapi juga tentang empati dan keberpihakan. Dari Purwokerto hingga Amsterdam, dr. Bagas membawa satu gagasan sederhana namun mendalam, bahwa perawatan terbaik bagi pasien tidak hanya bersumber dari teknologi medis, melainkan juga dari sentuhan keluarga dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak#sdgs3#sdgs4
