Kampus Baru, Teman Baru, tetapi Kok Masih Merasa Sendiri?
Publish: 30 September 2026 - 00.00 WIB - Views Count: 3 Tayangan
Diyah Woro Dwi Lestari, S.Psi. MA
Katanya masa kuliah adalah masa paling seru dalam hidup. Tapi bagaimana kalau minggu-minggu pertama justru membuat kita ingin pulang?
Bayangkan kamu baru dua minggu menjadi mahasiswa. Grup WhatsApp© angkatan sudah ramai, jadwal kuliah mulai padat, dan galeri ponsel penuh foto kegiatan pengenalan kampus. Teman-temanmu tampak sudah punya geng, sibuk nongkrong, bahkan merencanakan liburan bersama. Sementara itu, kamu masih bingung mau duduk dengan siapa saat kuliah besok.
Sebut saja Rani, mahasiswa baru yang merantau ke kota lain. Awalnya ia sangat bersemangat. Akhirnya bisa kuliah di jurusan impiannya, tinggal sendiri, dan bebas mengatur kegiatan sehari-hari. Rasanya seperti memulai babak baru kehidupan. Namun, setelah keseruan minggu pertama berlalu, semuanya mulai terasa berbeda. Rani belum menemukan teman yang benar-benar dekat. Ia sering makan sendirian dan merasa canggung ketika harus bergabung dengan kelompok teman sekelasnya. Suatu malam, sepulang dari kegiatan kampus yang melelahkan, Rani menelepon ibunya. "Bu, aku pengin pulang." Padahal, baru dua minggu lalu ia begitu bersemangat meninggalkan rumah.
Cerita Rani memang fiktif, tetapi pengalaman seperti ini cukup akrab dengan kehidupan mahasiswa baru. Memasuki perguruan tinggi tidak selalu semudah yang terlihat dalam unggahan Instagram atau cuitan di X milik teman-teman kita.
Welcome to university! Selamat datang di dunia yang serba baru
Menjadi mahasiswa baru bukan sekadar mengganti seragam sekolah dengan pakaian bebas atau belajar memanggil pengajar dengan sebutan dosen. Ada perubahan besar yang menyertainya. Jadwal belajar yang dahulu relatif teratur kini harus dikelola sendiri. Teman-teman yang sudah dikenal selama bertahun-tahun berganti dengan orang-orang baru. Bagi mahasiswa perantau, perubahan tersebut juga mencakup tempat tinggal, makanan, kebiasaan sehari-hari, dan jarak dari keluarga.
Dalam psikologi perkembangan, usia mahasiswa umumnya berada dalam periode emerging adulthood, yaitu masa ketika seseorang mulai mengeksplorasi identitas, mengembangkan kemandirian, serta membangun hubungan dan peran sosial yang baru. Masa ini menawarkan banyak kesempatan untuk berkembang, tetapi juga dapat menghadirkan ketidakpastian.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap 32 artikel ilmiah yang diterbitkan Sundqvist dan rekan-rekannya pada 2024 menunjukkan bahwa transisi pendidikan dapat berkaitan dengan perubahan kesepian dan kesehatan mental. Pengalaman transisi tidak selalu negatif; dukungan sosial dan kemampuan individu menghadapi perubahan turut berperan dalam menentukan bagaimana masa peralihan tersebut dijalani.
Tidak semua mahasiswa akan mengalami kesulitan yang sama. Ada yang langsung menikmati kehidupan kampus, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk merasa nyaman. Jadi gak semua kondisi mahasiswa itu sama ya.
Homesickness : ketika yang dirindukan bukan cuma rumah
Pernah tiba-tiba kangen masakan ibu setelah makan mi instan tiga hari berturut-turut? Atau merindukan kamar sendiri justru ketika kamar kos sudah ditata sebagus mungkin? Perasaan rindu rumah atau homesickness merupakan salah satu pengalaman yang dapat muncul ketika seseorang harus berpisah dari lingkungan yang selama ini memberikan rasa aman dan nyaman.
Yang dirindukan pun tidak selalu rumah secara fisik. Bisa jadi suasana makan malam bersama keluarga, obrolan receh dengan saudara, atau teman lama yang sudah memahami kita tanpa perlu banyak penjelasan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Oktober 2025 terhadap 90 mahasiswa perantau tahun pertama yang tinggal di asrama Universitas Klabat di Sulawesi Utara menemukan bahwa 71,1% responden mengalami homesickness kategori tinggi.
Penelitian tersebut juga menemukan hubungan negatif antara kemampuan penyesuaian diri dan homesickness. Artinya makin sulit mahasiswa menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan yang baru di perantauan, makin tinggi kecenderungan untuk mengalami homesickness.Tentu saja, hasil penelitian dari satu kampus tersebut tidak dapat digeneralisasikan kepada seluruh mahasiswa Indonesia. Namun, temuan ini mengingatkan kita bahwa kerinduan terhadap rumah merupakan persoalan yang patut diperhatikan dalam proses adaptasi mahasiswa baru. Menariknya, seseorang bisa saja mulai mampu menyesuaikan diri dengan rutinitas kampus, tetapi masih merindukan rumah. Keduanya tidak selalu bertentangan.
Banyak teman, tetapi belum tentu merasa punya teman
Kembali pada Rani ya…Sebenarnya ia tidak kekurangan teman. Setiap hari ia bertemu puluhan mahasiswa, ada teman seangkatannya maupun kakak angkatan. Ia juga memiliki beberapa grup percakapan yang nyaris tidak pernah sepi. Masalahnya, Rani belum menemukan seseorang yang membuatnya nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Ia mulai membandingkan dirinya dengan teman-teman yang terlihat begitu mudah bergaul. Semakin sering melihat foto kebersamaan mereka di media sosial, semakin kuat perasaannya bahwa ia tertinggal.
Padahal, banyaknya teman tidak selalu sama dengan kedekatan emosional. Dalam psikologi, ada konsep sense of belonging, yaitu perasaan diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari suatu lingkungan atau kelompok. Bagi mahasiswa baru, rasa memiliki ini tidak selalu muncul pada hari pertama perkuliahan. Hubungan yang bermakna biasanya dibangun melalui interaksi berulang, pengalaman bersama, dan kesempatan untuk saling mengenal.
Penelitian tahun 2026 terhadap 76 mahasiswa baru Psikologi Universitas Negeri Semarang yang merantau menemukan bahwa kecemasan dan kesepian banyak muncul pada awal perkuliahan, terutama ketika mahasiswa menghadapi persoalan atau melewati waktu-waktu tertentu seperti akhir pekan. Sebagian besar responden kemudian melaporkan penyesuaian yang lebih baik, dengan bantuan kegiatan sosial dan komunikasi bersama keluarga.
Jadi, ketika teman-temanmu terlihat sudah menemukan circle masing-masing, bukan berarti kamu harus buru-buru melakukan hal yang sama. Memiliki satu atau dua teman yang membuatmu merasa nyaman bisa lebih bermakna daripada mengenal seluruh isi angkatan tetapi tetap merasa asing.
Adaptasi bukan lomba siapa paling cepat punya “circle”
Setiap orang memiliki cara dan kecepatan yang berbeda dalam menghadapi perubahan. Sebagian mahasiswa merasa nyaman dengan mengikuti banyak kegiatan. Sebagian lainnya lebih suka mengenal lingkungan secara perlahan. Ada yang langsung menemukan sahabat sejak kegiatan pengenalan kampus. Ada juga yang baru menemukan teman dekat setelah mengerjakan tugas kelompok, mengikuti organisasi, atau tanpa sengaja bertemu teman yang sama-sama tersesat mencari ruang kuliah. Semua pengalaman tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian diri.
Namun, penting juga untuk mengenali ketika kesulitan adaptasi mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, perasaan sedih atau cemas yang terus berlangsung, kesulitan tidur, menarik diri dari semua kegiatan, atau kehilangan semangat hingga tidak mampu mengikuti perkuliahan. Jika hal tersebut terjadi, mencari bantuan dari konselor kampus, psikolog, atau tenaga kesehatan merupakan pilihan yang tepat. Tidak perlu menunggu sampai keadaan terasa sangat berat.
Bagi kampus, kegiatan pengenalan mahasiswa juga sebaiknya tidak berhenti pada memperkenalkan gedung, sistem akademik, dan organisasi kemahasiswaan. Mahasiswa baru membutuhkan kesempatan membangun hubungan sosial yang aman, mengenal layanan konseling, dan mendapatkan pendampingan selama masa transisi. Tidak harus langsung nyaman, yang penting mulai menemukan tempat
Seiring hari berjalan, rutinitas baru mungkin mulai terbentuk. Menemukan warung makan yang cocok dengan selera, berani mengajak salah satu teman jajan atau menemukan teman yang sama sama menyukai film horror, itu cukup untuk mulai proses adaptasi. Mulai aja dulu dengan langkah kecil untuk menyamankan diri sendiri dengan lingkungan baru. Jika sesekali masih kangen rumah, ingin pulang disaat gak enak badan atau mengerjakan tugas yang sulit banget, gak pa pa banget ya. Masih sering telpon ibu di rumah, juga gak masalah. Mulai aja dari langkah yang kecil, namun jangan pernah berhenti berusaha Mungkin saat ini, kota baru ini belum dirasa sebagai “rumah kedua”, tapi setidaknya kehidupan yang semula terasa asing mulai menjadi lebih akrab.
Barangkali begitulah proses adaptasi bekerja. Bukan perubahan mendadak dari merasa asing menjadi sepenuhnya nyaman, melainkan serangkaian pengalaman kecil yang perlahan membangun rasa aman dan percaya diri. Jadi, untuk kamu yang baru memasuki dunia perkuliahan, tidak perlu terburu-buru membuktikan bahwa kehidupan kampusmu sudah sempurna. Tidak harus langsung punya banyak teman. Tidak harus mengikuti semua kegiatan. Tidak harus selalu terlihat bahagia dalam setiap unggahan media sosial.
Beri dirimu kesempatan untuk mengenal lingkungan baru, membangun hubungan secara perlahan, dan menemukan ritmemu sendiri. Kamu tidak harus langsung merasa berada di rumah untuk mulai membangun kehidupan di tempat yang baru.

Rekomendasi Bacaan Untukmu

-
Publish: 10 September 2026 - 00.00 WIB

-
Publish: 29 Juli 2026 - 08.45 WIB