Publish: 23 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Kam, 23/7/26] Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memperkuat upaya konservasi penyu melalui edukasi kepada generasi muda pesisir dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset bertajuk “Penguatan Ekonomi dan Konservasi Penyu Berbasis Eduwisata di Pantai Kembar Terpadu Kebumen.” Kegiatan yang berlangsung di Pantai Kembar Terpadu, Kabupaten Kebumen, Kamis (16/7/2026), ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kelompok Konservasi Penyu Kembar Terpadu Kebumen, WWF Indonesia, dan SD Negeri 2 Tambakmulyo, Kecamatan Puring.
Program yang menjadi bagian dari kegiatan Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed ini menghadirkan tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed yang dipimpin Dr. rer. nat. Riyanti, S.T., M.Biotech., bersama mahasiswa FPIK.
Edukasi konservasi diikuti siswa SD Negeri 2 Tambakmulyo dengan pendampingan Kepala Sekolah Rastono. Materi juga diperkuat oleh Marine ETP Species Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia, Ratih R. Ayustina, yang menjelaskan pentingnya perlindungan penyu sebagai satwa laut yang dilindungi beserta peran masyarakat dalam menjaga habitat peneluran dan ekosistem pesisir.
Melalui penyampaian yang interaktif, para siswa diperkenalkan pada berbagai jenis penyu, siklus hidup, habitat peneluran, ancaman terhadap kelestariannya, hingga pentingnya menjaga kebersihan pantai dan laut sebagai bagian dari upaya konservasi.
Ketua tim pengabdian, Dr. Riyanti, mengatakan edukasi sejak usia dini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat pesisir.
“Edukasi ini dirancang agar anak-anak dapat memahami konservasi secara sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan relevan dengan lingkungan pesisir tempat mereka tinggal,” ujarnya.
Menurutnya, penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, namun populasinya terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan habitat, pencemaran sampah plastik, aktivitas manusia di kawasan pantai, perubahan iklim, hingga penangkapan yang tidak disengaja.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang penyu, tetapi juga diajak membangun sikap peduli terhadap pantai, laut, dan keanekaragaman hayati di sekitarnya. Pesan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengganggu sarang maupun mengambil telur penyu menjadi bagian penting dari edukasi ini,” jelasnya.
Kegiatan tersebut juga mengenalkan peran Kelompok Konservasi Penyu Kembar Terpadu Kebumen yang dipimpin Hartono dalam pemantauan pantai peneluran, perlindungan sarang, relokasi telur apabila diperlukan, perawatan dan pelepasan tukik, serta edukasi kepada masyarakat. Kehadiran kelompok konservasi memberikan pengalaman belajar langsung mengenai praktik konservasi di lapangan.
Tim pengabdian Unsoed menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, WWF Indonesia, kelompok konservasi, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan upaya pelestarian penyu sekaligus mendukung pengembangan eduwisata konservasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Unsoed menegaskan komitmennya dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati laut melalui pendidikan, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Edukasi kepada siswa pesisir diharapkan menjadi langkah awal untuk membentuk generasi muda yang peduli dan aktif menjaga kelestarian penyu serta ekosistem pantai di Kabupaten Kebumen.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




