Berita

Peneliti Unsoed Kembangkan BIOKULTURMIX, Teknologi Pengurai Limbah Isi Perut Sapi Jadi Pupuk Ramah Lingkungan

[unsoed.ac.id, Kam, 05/02/26] — Peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali menghadirkan inovasi ramah lingkungan di bidang peternakan. Dosen Fakultas Peternakan Unsoed, Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP, mengembangkan BIOKULTURMIX, sebuah aktivator berbasis mikroba yang mampu mempercepat penguraian limbah peternakan ruminansia, khususnya limbah isi perut sapi, menjadi pupuk kompos berkualitas.

Inovasi ini dinilai memberikan solusi aplikatif bagi peternak sekaligus berkontribusi pada pengelolaan limbah peternakan yang lebih berkelanjutan. Bahkan, BIOKULTURMIX mendapat apresiasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai inovasi yang berpotensi mendukung pengurangan pencemaran lingkungan akibat limbah peternakan.

Dr. Agustinah menjelaskan bahwa gagasan pengembangan BIOKULTURMIX berangkat dari keprihatinannya terhadap tingginya pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah peternakan yang belum dikelola secara optimal.

“Bagaimana mengolah limbah peternakan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kita tahu limbah peternakan itu sangat mencemari dan sangat mengganggu lingkungan sekitar,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

BIOKULTURMIX merupakan aktivator yang dibuat dari limbah isi perut sapi yang diproses melalui metode tertentu sehingga menghasilkan mikroba pengurai aktif. Aktivator ini bekerja dengan cara dicampurkan ke dalam kotoran ternak yang ditambahkan serbuk gergaji kayu, abu, dan kapur dolomit. Mikroba dalam BIOKULTURMIX akan menguraikan bahan tersebut menjadi kompos secara lebih cepat dan efisien.

Satu liter BIOKULTURMIX mampu menghasilkan hingga satu ton kompos, dengan waktu pengomposan sekitar 14 hari, jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Atas inovasi tersebut, BIOKULTURMIX telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada tahun 2025.

Dampak nyata dari penggunaan BIOKULTURMIX telah dirasakan oleh peternakan rakyat, salah satunya di Desa Sumbang. Peternakan sapi dengan sekitar 60 ekor yang sebelumnya belum mengelola limbahnya secara optimal, kini mampu memproduksi dan menjual kompos secara rutin.

Ke depan, Dr. Agustinah bersama tim dosen Fakultas Peternakan Unsoed berencana mengembangkan inovasi lanjutan untuk menciptakan metode pembuatan pupuk yang lebih praktis bagi peternak.

“Kami ingin mencari metode atau alat agar proses pembuatan pupuk lebih praktis, karena selama ini pembalikan kompos cukup melelahkan dan memakan waktu,” jelasnya.

Menurutnya, semakin cepat limbah peternakan diolah, maka semakin cepat pula pencemaran dapat dikurangi.

Dampak nyata adanya produk aktivator ini terdapat pada peternakan rakyat, salah satu contoh di Desa Sumbang. Peternakan sapi dengan jumlah 60 ekor yang sebelumnya tidak dikelola sama sekali sekarang bahkan peternaknya sudah bisa menjual kompos secara rutin. 

“Semakin cepat mengatasi limbah, berarti semakin cepat mengatasi polusi dan semakin cepat menjaga bumi,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

#unsoed1963#merdekamajumendunia#sdgs4#sdgs9#sdgs13