[unsoed.ac.id, Rab, 11/2/26] — Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus memperkuat perannya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan dengan meningkatkan kualitas pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) BIPA yang diikuti oleh 21 pengajar, Selasa (10/2/2026), bertempat di Gedung Unsoed Mandiri Creativepreneur Center.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unsoed, Prof. Dr. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum. ToT BIPA diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas pengajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing, seiring meningkatnya mobilitas internasional dan penguatan program internasionalisasi kampus.
Direktur International Relations Office (IRO) Unsoed, Dr. Agus Haryanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengajar BIPA agar kualitas pembelajaran terus terjaga dan berkembang.
“Ini merupakan Training of Trainers bagi pengajar BIPA. Saat ini, terdapat 34 mahasiswa asing yang menempuh studi di Unsoed, serta 66 mahasiswa asing yang mengikuti program magang atau internship,” ujarnya.
Menurut Dr. Agus, keberadaan program BIPA memiliki peran strategis dalam mendukung kenyamanan dan keberhasilan mahasiswa asing selama menempuh pendidikan di Unsoed. Oleh karena itu, Unsoed berupaya menghidupkan kembali program BIPA pada tahun ini, termasuk melalui penambahan jumlah pengajar.
Training of Trainers BIPA ini menghadirkan dua narasumber dari Asosiasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) Jawa Tengah, yaitu Ketua APPBIPA Jawa Tengah Dr. Wati Istanti, M.Pd. dan Sekretaris APPBIPA Jawa Tengah Citra Aniendita Sari, S.S., M.Hum.
Dalam pemaparannya, Dr. Wati Istanti menyampaikan materi pengenalan BIPA dan lintas budaya pemelajar asing. Ia menjelaskan bahwa pengajar BIPA harus memenuhi standar kualifikasi pendidikan, kepribadian dan sosial, kompetensi profesional, serta wawasan kebangsaan.
Ia juga menguraikan perbedaan karakteristik pembelajaran BIPA di dalam dan luar negeri.
“Pengajar BIPA di dalam negeri dapat mengajarkan aspek keterampilan tertentu dan berkoordinasi dengan pengajar lain. Sementara pengajar BIPA di luar negeri dituntut menguasai seluruh aspek kebahasaan dan budaya Indonesia, baik secara teori maupun praktik,” jelasnya.
Sementara itu, Citra Aniendita Sari memaparkan materi terkait pemberdayaan dan strategi pengembangan program BIPA melalui pendekatan budaya. Ia menekankan pentingnya pemahaman budaya untuk memudahkan komunikasi, menghindari benturan budaya (cultural shock), serta memperkaya wawasan dan penghayatan pemelajar BIPA terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
“Pendekatan pemberdayaan budaya dalam pengajaran BIPA dapat dilakukan melalui pendekatan berbasis bahasa dan pendekatan budaya sebagai isi. Pembelajaran BIPA plus budaya daerah menjadi sarana memahami kearifan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Unsoed menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa asing, memperkuat internasionalisasi kampus, serta berkontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu pendidikan berkualitas.

Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan

Direktur International Relations Office (IRO)

Pemaparan materi oleh Narasumber

Foto bersama
#unsoed1963#merdekamajumenduniaberdampak#sdgs4
