[unsoed.ac.id, Sel, 10/3/26] Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana khas bagi Umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Namun, bagi mereka yang menjalani Ibadah puasa jauh dari tanah air, Ramadan seringkali menghadirkan pengalaman yang berbeda sekaligus penuh cerita.
Hal tersebut dirasakan oleh Wilda Khafida, M.Sc, dosen muda Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Saat ini sedang menempuh pendidikan doktor di Institute of Biology and Earth Sciences UKEN, Polandia. Negara yang terletak di kawasan Eropa tersebut memiliki sekitar 38 juta penduduk dan menjadi salah satu negara dengan jumlah populasi terbesar di Uni Eropa. Meskipun demikian, jumlah penduduk muslim di Polandia masih sangat sedikit, bahkan kurang dari satu persen dari total populasi.
Menurut Wilda, perkembangan komunitas muslim di Polandia justru menunjukkan kemajuan dari tahun ke tahun. Ia mengenang ketika menempuh magister tahun 2018 di Polandia, saat itu komunitas “Muslim Girl” beranggotakan 50 orang. Namun saat kembali di bulan Desember tahun 2025 untuk melanjutkan studi doktornya, jumlah anggota komunitas tersebut meningkat hingga mencapai 400 an. Masyarakat Polandia juga memiliki keingintahuan terkait Islam, kadang bertanya apa itu sholat, kenapa muslimah memakai jilbab, kenapa harus berpuasa di bulan Ramadan, sehingga Wilda juga berupaya untuk menjelaskan dengan menggunakan bahasa lokal Polandia, agar mudah dimengerti oleh masyarakat.
Sebagai seorang ekologis, aktivitas penelitian membawa Wilda ke alam terbuka, fasilitas Ibadah tidak selalu tersedia, saudari Wilda harus dapat memanfaatkan tempat yang ada. “Hal yang saya syukuri selama di Polandia adalah saya terbiasa menjaga wudhu, karena fasilitas Ibadah tidak selalu tersedia, saya harus memanfaatkan tempat yang ada. Saya pernah sholat di perpustakaan, di hutan, di halaman bahkan di pinggir danau”, ungkap Wilda.
Bagi Wilda, menjalani Ramadan di negeri 4 musim bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika memasuki musim winter. Cuaca menjadi mendung, bahkan suhu mencapai -20°C, sehingga untuk beraktivitas diluar ruangan Wilda harus mengenakan baju 3-4 lapis. Wilda bahkan pernah merasakan puasa selama 18 jam. “Saya pernah merasakan puasa selama 18 jam, Waktu Magrib di jam 9 malam, Isya di jam 11 malam sedang Adzan subuh di jam 2 pagi”, ungkap Wilda. Kondisi ini pastilah membutuhkan tubuh yang prima, sehingga untuk mengatasinya Wilda lebih memilih makanan dengan tinggi protein dan lemak agar tubuh tidak cepat merasakan kelelahan. Bagaimana dengan halal food di Polandia?. Wilda mengungkapkan “Halal food, banyak tersedia di kota Warsawa, Krakow dan Gdansk, disana terdapat daging bersertifikat halal, di Polandia juga banyak terdapat restoran vegan, restoran Turki, Arab dan Timur Tengah yang dapat dijadikan alternatif pilihan”.
Kisah saudari Wilda Khafida, M.Sc ini juga dibagikan melalui kajian Ramadan Masjid Kampus Nurul Ulum Unsoed, pada Hari Minggu, tanggal 8 Maret 2026 yang diikuti oleh mahasiswa muslim di Unsoed
Islam di Polandia telah berkembang sejak tahun 1683, yaitu melalui Muslim Tartar yang merupakan komunitas muslim tertua di Polandia. Hal ini menyebabkan semakin berkembangnya fasilitas ibadah atau Islamic Center yang terdapat di kota-kota besar seperti di kota Gdansk. Perkembangan Islam di Polandia juga didukung adanya Liga muslim yang merupakan organisasi keIslaman di Polandia. Islamic center pada saat Ramadan juga banyak kegiatan seperti pengajian rutin, sholat tarawih pembagian “takjil” untuk masyarakat non muslim Polandia. Islamic center di Polandia, seringkali dilengkapi dengan dapur lengkap sehingga komunitas muslim dapat mengolah makanan disana, selain itu juga terdapat area Playground untuk tempat bermain anak-anak.
Wilda merasakan Ramadan pertama di Polandia yaitu di bulan Juni 2018. Namun saat ini saudari Wilda dapat merasakan Ramadan bersama keluarga ditemani anak dan suami. Hal ini dikarenakan Suami saudari Wilda juga sedang menempuh studi doctoral di Jagiellonian University Poland.
#unsoedberdampak #sdgs4 #sdgs10
