Di balik kandang ternak yang produktif, selalu ada sisi lain yang harus diurus dengan serius, yaitu limbah. Bagi Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, M.P., IPU., ASEAN Eng., dosen Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Kerja Fakultas Peternakan UNSOED, peternakan modern tidak boleh hanya bicara soal daging, bobot badan, atau keuntungan ekonomi. Ia juga harus memikirkan lingkungan yang hidup berdampingan dengannya.
Sebagai akademisi yang banyak menekuni teknologi produksi ternak potong, khususnya domba, Agustinah melihat limbah sebagai bagian dari tanggung jawab usaha peternakan. “Setiap usaha peternakan, baik perbibitan, pembesaran, maupun penggemukan, pasti menghasilkan limbah,” jelasnya.
Jika tidak dikelola, limbah peternakan dapat memunculkan bau, mencemari air, menghasilkan gas metana, dan meningkatkan populasi lalat. Dari persoalan sehari-hari yang sering dianggap biasa itulah gagasan BIOKULTURMIX lahir.
UNSOED Berdampak dan BIOKULTURMIX
Bagi Agustinah, riset baru terasa lengkap ketika bisa diterapkan. Laporan penelitian dan publikasi ilmiah tetap penting, tetapi keduanya belum cukup jika tidak berlanjut menjadi manfaat yang bisa dirasakan masyarakat. Prinsip itu sejalan dengan semangat kampus berdampak, ketika ilmu tidak berhenti di kampus, melainkan bergerak ke kandang, lahan, dan kehidupan peternak.
BIOKULTURMIX merupakan aktivator hasil fermentasi isi rumen sapi untuk mempercepat pembuatan pupuk organik. Bahan bakunya berasal dari Rumah Pemotongan Hewan, yakni isi rumen sapi yang masih segar dan belum menjadi feses. Di dalamnya terdapat mikroorganisme yang masih hidup dan aktif, sehingga dapat membantu proses penguraian bahan organik.
Bahan itu kemudian difermentasi secara anaerob, mengikuti kondisi alami di dalam rumen sapi. Dengan cara ini, sesuatu yang semula dianggap sisa justru diolah menjadi sumber daya baru. Hasil penelitian menunjukkan, BIOKULTURMIX mampu mempercepat proses dekomposisi kompos. Jika aktivator komersial umumnya membutuhkan sekitar 24 hari, BIOKULTURMIX dapat mempersingkatnya menjadi 12 sampai 16 hari.
Riset tentang aktivator kompos sebenarnya telah dirintis Agustinah sejak 2007. Namun, BIOKULTURMIX sebagai produk spesifik baru mulai dikembangkan secara mandiri pada akhir 2024. Ia lahir dari perjalanan panjang, dari laboratorium, pengalaman lapangan, hingga kebutuhan nyata para peternak.
Implementasi dan Kolaborasi
Di laboratorium, banyak hal bisa dikendalikan. Di lapangan, tantangannya berbeda. Agustinah kerap berhadapan dengan persoalan sumber daya manusia, koordinasi antarpeternak, kelompok yang belum solid, serta sinergi kelembagaan yang masih lemah. Menariknya, hambatan terbesar bukan pada bahan alam, melainkan pada motivasi, kerja bersama, dan keberlanjutan kelompok.
Karena itu, implementasi BIOKULTURMIX memerlukan banyak pihak. Peternak ruminansia menjadi mitra utama. Dinas terkait, pemerintah daerah, lembaga pendamping, dan kampus ikut memegang peran. Di UNSOED, inovasi ini juga menjadi bahan riset lanjutan dan praktikum mahasiswa.
Beberapa pengalaman lapangan memberi kesan kuat bagi Agustinah. Ia pernah terlibat dalam pendirian pabrik pupuk organik di Purbalingga, mendampingi peternak yang aktif meminta pelatihan, serta terlibat dalam pendampingan pembuatan pupuk organik di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusa Kambangan. Di sana, pengolahan limbah juga menjadi kegiatan produktif bagi warga binaan.
Agustinah berharap peternak dan masyarakat tidak lagi melihat kotoran ternak semata-mata sebagai limbah. Dengan teknologi dan kemauan untuk berubah, ia bisa menjadi pupuk, sumber nilai ekonomi, sekaligus jalan menuju pertanian organik yang lebih sehat. BIOKULTURMIX menunjukkan bahwa inovasi kampus dapat berangkat dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.




