Krisis kualitas dan rendahnya harga jual gula jawa (gula merah) menjadi persoalan yang selama ini membelit para perajin gula di berbagai daerah. Nira kelapa yang mudah rusak akibat kontaminasi mikroba sejak proses penyadapan kerap membuat gula yang dihasilkan bermutu rendah, bahkan berisiko bagi kesehatan konsumen. Menjawab persoalan tersebut, Karseno, S.P., M.P., Ph.D., dosen Fakultas Pertanian, mengembangkan sebuah inovasi bernama Tangkis.
Tangkis adalah pengawet nira alami yang diformulasikan dari ekstrak bahan-bahan alami, di antaranya kelapa muda, buah mangga, dan kayu nangka. Produk ini dirancang khusus untuk melindungi nira dari kerusakan akibat aktivitas mikroba sejak tahap penyadapan hingga proses pengolahan menjadi gula merah.
"Tangkis adalah pengawet nira berbahan alami dari ekstrak kelapa muda, buah mangga, dan kayu nangka. Produk ini melindungi nira dari kerusakan mikroba sejak proses penyadapan," ujar Karseno.
Menghasilkan Gula Merah Premium Tanpa Risiko Kesehatan Menurut Karseno, penggunaan Tangkis terbukti menghasilkan gula merah dengan kualitas premium tanpa menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen. Hal ini menjadi nilai tambah tersendiri di tengah maraknya penggunaan bahan pengawet kimia yang berpotensi berbahaya dalam produksi gula jawa konvensional.
Dari sisi mutu, gula merah yang diolah menggunakan Tangkis memiliki warna yang lebih cerah, tekstur yang padat dan keras, serta tahan terhadap jamur. Produk ini juga memiliki kadar air yang rendah sehingga lebih awet, aman untuk kesehatan, dan bebas dari zat karsinogenik.
Tak hanya soal kualitas, Tangkis juga terbukti mampu mendongkrak nilai ekonomi gula jawa di tingkat perajin. Karseno menyebutkan bahwa penggunaan pengawet alami ini dapat meningkatkan harga jual gula merah hingga 20-30 persen dibandingkan gula tanpa perlakuan khusus.
Telah Dirasakan Lebih dari 700 Perajin di Dua Kabupaten Inovasi Tangkis bukan sekadar konsep di atas kertas. Sejak diperkenalkan pada tahun 2013, produk ini telah memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat perajin gula jawa. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 700 perajin telah merasakan manfaat penggunaan Tangkis dalam usaha mereka.
Penerapan inovasi ini juga telah menjangkau dua kabupaten, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ketahanan pangan nasional melalui produk-produk berkualitas tinggi. Dengan capaian tersebut, Tangkis diharapkan dapat terus direplikasi ke sentra-sentra produksi gula jawa lain di Indonesia, sehingga semakin banyak perajin yang dapat merasakan peningkatan kualitas produk sekaligus kesejahteraan ekonomi.
Melalui inovasi Tangkis, Karseno menegaskan komitmen Fakultas Pertanian dalam menghadirkan riset yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya para perajin gula jawa yang selama ini menghadapi tantangan menjaga kualitas produk di tengah keterbatasan teknologi pengawetan alami.





