Butir-butir pakan itu sering tampak remeh, padahal nasib larva bisa bergantung padanya. Di fase paling awal kehidupan ikan dan udang, yang menentukan bukan hanya kandungan nutrisi, tapi juga ukuran dan ketahanan pakan ketika sudah menyentuh air. Prof. Ir. Purnama Sukardi, Ph.D., pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNSOED, memulai risetnya dari keluhan yang berulang di kolam-kolam budi daya: larva banyak mati karena pakan tidak pas.
**Teknologi sebagai Solusi **
Larva bergerak seperti titik bening yang nyaris tak terbaca. Bukaan mulutnya kecil, sebentar saja terlambat atau salah ukuran, nutrisi bisa meleset. “Larva ikan memiliki bukaan mulut yang sangat kecil. Oleh karena itu, pakan yang diberikan harus berukuran mikro atau bahkan nano agar dapat dikonsumsi dengan baik,” jelas peneliti di bidang fisiologi nutrisi organisme air ini. Dari situ, ide Nanoenkapsulasi menjadi jalan relevan: pakan dibuat mikro, stabil, dan lebih mudah diserap.
Teknologi ini bekerja dengan membungkus bahan aktif, termasuk nutrisi pakan, menggunakan lapisan pelindung tertentu hingga membentuk partikel berukuran sangat kecil. Bungkus itu penting karena pakan akuakultur punya musuh yang sering tak terlihat: leaching, nutrisi larut ke air sebelum sempat dimakan ikan atau udang.
Begitu nutrisi bocor, efisiensi pakan turun dan kualitas lingkungan perairan ikut tertekan. Melalui enkapsulasi, bahan pakan dilindungi oleh matriks yang bisa dibangun sebagai struktur komposit, sehingga nutrisi tidak mudah larut dan dilepaskan lebih terkendali.
Di tangan Purnama, kapsul itu tidak hanya menyelamatkan nutrisi supaya tidak keburu hilang. Ia juga membuka ruang pakan fungsional, pakan yang sekaligus membawa “isi tambahan” untuk pertumbuhan dan kesehatan. “Dengan teknologi ini, kita dapat memasukkan berbagai komponen nutrisi penting di dalam kapsul pakan.” ungkapnya.
**Dampak dan Transfer Pengetahuan **
Risetnya memanfaatkan hidrolisat peptida dari limbah perikanan yang kemudian dienkapsulasi untuk mendukung pertumbuhan dan respons imun udang vaname. Ia juga mengembangkan pakan mikro terenkapsulasi dari maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber protein, dikombinasikan dengan matriks albumin agar mudah diserap larva ikan. Di sini Kampus Berdampak menjadi dekat: ada upaya meningkatkan efisiensi nutrisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, seperti tepung ikan.
Dampak yang diincar tidak berhenti di panen. Teknologi enkapsulasi juga diproyeksikan membantu keberlanjutan lingkungan melalui enkapsulasi bakteri yang berfungsi sebagai agen bioremediasi. Bakteri yang langsung dilepas ke perairan tercemar sering cepat “habis” sebelum sempat bekerja. Dengan kapsul yang melindungi sekaligus memberi nutrisi, bakteri bisa bertahan lebih lama dan bekerja lebih efektif memperbaiki kualitas perairan.
Menurut Purnama, hambatan terbesar bukan semata teknologi, melainkan proses transfer pengetahuan kepada pembudi daya. Karena itu, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan menjadi bagian dari rencana. Cara lain dilakukan lewat kerja sama dengan industri dan keterlibatan mahasiswa.
Ke depan, ia membayangkan pembudi daya mampu memproduksi pakan sendiri dengan bahan lokal di daerah masing-masing. Dengan itu, biaya produksi bisa ditekan, sementara kemandirian usaha akan naik. “Ke depan, akuakultur akan menjadi salah satu tulang punggung penyediaan pangan. Seperti halnya manusia yang dahulu berburu kemudian beralih menjadi membudidayakan hewan, sektor perikanan juga akan bergerak ke arah yang sama,” ujarnya.




