Ketersediaan pakan ternak yang berkualitas kerap menjadi persoalan di lahan marginal dan pada musim kemarau, ketika sumber pakan konvensional sulit tumbuh optimal. Menjawab tantangan tersebut, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., dosen Fakultas Pertanian, mengembangkan Pearl Millet sebagai sumber pakan ternak bernutrisi tinggi yang toleran terhadap kekeringan.
Pearl Millet, atau dikenal juga sebagai mutiara milet atau bajra, merupakan sereal padat nutrisi dengan kandungan protein dan mineral yang lebih unggul dibandingkan beras atau jagung. Tanaman ini berpotensi besar sebagai pakan ternak yang sangat toleran kekeringan, sekaligus menjadi solusi ketahanan pangan ternak di lahan marginal dan musim kemarau.
"Pearl Millet (mutiara milet atau bajra) adalah sereal padat nutrisi yang lebih unggul kandungan protein dan mineralnya dibandingkan beras atau jagung. Potensial untuk pakan ternak yang sangat toleran kekeringan, menjadi solusi ketahanan pangan ternak di lahan marginal dan musim kemarau," ujar Totok.
Kandungan Protein dan Energi Lebih Unggul dari Beras dan Jagung
Totok menjelaskan, Pearl Millet mampu tumbuh optimal di lahan kering, dengan kandungan protein mencapai 3,5-14,4 gram per 100 gram, serta energi sebesar 360-382 kkal. Kandungan protein ini tercatat lebih unggul dibandingkan beras maupun jagung yang selama ini menjadi sumber pakan utama.
Selain padat energi, Pearl Millet juga kaya akan mineral dan vitamin lengkap, di antaranya zat besi sebesar 6,4-11,0 mg, seng 3,1-7,1 mg, fosfor 242-590 mg, magnesium 97-137 mg, serta kalsium 46-49 mg. Tanaman ini juga mengandung asam amino esensial dan antioksidan tinggi, sehingga sangat mendukung kebutuhan nutrisi ternak secara menyeluruh.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Pearl Millet dinilai sangat cocok dikembangkan pada lahan marginal maupun saat musim kemarau, ketika ketersediaan pakan hijauan konvensional cenderung menurun.
Dikembangkan Melalui Tahapan Polycrossing hingga Seleksi Galur Unggul
Pengembangan Pearl Millet di Fakultas Pertanian dilakukan secara bertahap. Sebelum 2025, dilakukan introduksi dan perbanyakan benih sebagai tahap awal riset. Selanjutnya pada 2025, dilakukan proses polycrossing untuk menghasilkan keragaman genetik unggul.
Pada periode 2026-2028, penelitian dilanjutkan dengan tahap seleksi dan penggaluran untuk memperoleh galur-galur terbaik. Tahapan ini kemudian diarahkan menuju Uji Daya Hasil Pendahuluan (UDHP), Uji Daya Hasil Lanjutan (UDHL), hingga Uji Multi Lokasi (UML) pada periode setelah 2028, sebagai bagian dari proses pelepasan varietas unggul Pearl Millet secara resmi.
Melalui pengembangan Pearl Millet, Totok menegaskan komitmen Fakultas Pertanian dalam menghadirkan riset pemuliaan tanaman pakan yang aplikatif, sekaligus mendukung ketahanan pangan ternak nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan.
Kategori: SDG 1, SDG 2, SDG 3, SDG 8, SDG 9, SDG 12, IKU 5




