Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali menorehkan prestasi dalam mendukung kedaulatan pangan nasional yang ramah lingkungan. Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed, Prof. Ir. Kharisun, Ph.D., berhasil mengembangkan Pupuk NZEO-SRPlus (Nitrogen Zeolite Slow Release Plus), sebuah formula pupuk alami berbasis zeolit yang dirancang untuk melepaskan unsur hara secara perlahan guna meminimalkan pemborosan biaya operasional tani.
Inovasi ini dinilai memberikan solusi ganda bagi sektor pertanian global dengan meningkatkan produktivitas hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem tanah. Pupuk NZEO-SRPlus dikembangkan sebagai jawaban atas problematika penggunaan pupuk nitrogen konvensional oleh petani yang selama ini cenderung berlebihan, sehingga kerap memicu pemborosan modal serta pencemaran lingkungan akibat residu kimia.
Prof. Kharisun menjelaskan bahwa teknologi slow release berbasis zeolit alami ini mampu mengikat unsur nitrogen dengan kuat dan melepaskannya secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman. Formula tersebut membuat efisiensi penyerapan nitrogen menjadi sangat tinggi, sehingga tanah tetap sehat dan biaya pemupukan dapat ditekan secara signifikan.
“Pupuk nitrogen selama ini digunakan secara berlebihan sehingga terjadi pemborosan dan pencemaran. Pupuk NZEO-SRPlus hadir sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Efektivitas produk hasil program telah teruji nyata di lapangan. Saat ini, Pupuk NZEO-SRPlus sukses diaplikasikan di 6 kabupaten lintas provinsi, meliputi Cirebon, Brebes, Cilacap, Banyumas, Kebumen, dan Sleman. Keberhasilan di berbagai demplot tersebut memperkuat rencana strategis hilirisasi riset untuk melakukan scale up atau perluasan skala distribusi ke berbagai wilayah pertanian lain di Indonesia pada periode tahun 2028 hingga 2029.
Melalui kehadiran Pupuk NZEO-SRPlus, Fakultas Pertanian Unsoed membuktikan kontribusi nyata akademisi dalam memodernisasi sektor pertanian rakyat, mentransformasi budidaya konvensional menjadi sistem pertanian berkelanjutan, serta memperkokoh ketahanan pangan dari tingkat daerah hingga nasional.





