Berita, Prestasi

Sarjana Pertama di Keluarga dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Vera Nur Fadiya Lulusan Terbaik FMIPA Unsoed

 
Tak ada yang lebih mengharukan dari momen saat seseorang mewujudkan mimpi yang bahkan belum pernah sempat diimpikan orang tuanya.

Vera Nur Fadiya melangkah di atas panggung Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman dengan toga yang rapi dan senyum yang tak bisa disembunyikan. Di barisan kursi belakang, ayah dan ibunya duduk—dua orang yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah—kini menyaksikan anak bungsunya dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Nilai 4,00 tak semata angka tertinggi di transkrip nilai. Bagi Vera, angka itu adalah penanda sebuah perjalanan panjang yang dilalui dengan kesabaran dan keberanian. Dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ia merantau menuju Purwokerto untuk menempuh pendidikan di Universitas Jenderal Soedirman. Sebuah perjalanan yang bagi sebagian orang mungkin terasa biasa, tetapi bagi Vera adalah langkah pertama menapaki dunia yang sama sekali baru.

Di balik toga yang kini dikenakannya, tersimpan cerita tentang bagaimana ia belajar memahami dunia perguruan tinggi hampir sepenuhnya sendiri.

“Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Di keluarga aku rata-rata pendidikannya sampai SMP. Jadi waktu masuk pendidikan tinggi, aku benar-benar belajar banyak hal sendiri,” tutur Vera.

Ia adalah sarjana pertama di keluarga intinya. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta yang mengurus peternakan sapi di kampung halaman—memberi pakan, membersihkan kandang, hingga merawat ternak setiap hari. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang setia menjaga keluarga dari rumah. Dari kehidupan yang sederhana itulah Vera tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah jalan hidup seseorang.

Tidak ada kakak yang bisa ditanya bagaimana mengisi Kartu Rencana Studi. Tidak ada orang tua yang bisa menjelaskan bagaimana menyusun proposal skripsi. Dunia kampus adalah wilayah baru yang harus ia petakan sendiri, pelan-pelan, langkah demi langkah. Namun justru dari proses itulah ketangguhan Vera terbentuk.

Organisasi Bukan Penghalang, Tapi Bekal

Di tengah tuntutan akademik Jurusan Matematika yang terkenal menantang, Vera tidak memilih jalan yang paling mudah. Ia justru membuka lebih banyak ruang untuk belajar.

Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) dan dipercaya memegang amanah sebagai Kepala Departemen Pendidikan. Di sana, ia tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga menjadi penggerak. Ia mengoordinasikan kelompok belajar, merancang workshop akademik, hingga memfasilitasi berbagai program yang membantu mahasiswa lain menghadapi tantangan perkuliahan.

Kesibukan itu tidak berhenti di satu organisasi. Vera juga menjadi bagian dari Generasi Baru Indonesia (GenBI) setelah terpilih sebagai penerima Beasiswa Bank Indonesia pada tahun 2024 dan 2025. Di organisasi tersebut, ia kembali dipercaya sebagai Kepala Departemen Pendidikan—peran yang menuntutnya merancang program pengembangan anggota, mengoordinasikan kegiatan sosial, serta menyiapkan anggota GenBI untuk menjadi representasi Bank Indonesia dalam berbagai kegiatan institusi.

Bagi Vera, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau menambah kesibukan. Ia melihatnya sebagai ruang belajar yang berbeda dari ruang kelas.

“Di organisasi aku belajar banyak hal, terutama manajemen waktu. Kita tetap harus menempatkan kuliah sebagai prioritas, tapi juga bisa mengembangkan diri lewat kegiatan organisasi,” ujarnya.

Di sanalah ia belajar memimpin, mengatur waktu, dan memahami bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari buku.

Menempa Diri Lewat Akademik, Kompetisi, dan Pengalaman Profesional

Di sela kesibukan organisasi dan tuntutan kuliah yang tidak ringan, Vera juga terus mencari ruang untuk mengembangkan dirinya. Baginya, dunia kampus bukan sekadar tempat mengejar nilai, tetapi ruang untuk mencoba berbagai pengalaman baru.

Pada tahun 2024, ia berhasil menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Marscion Universitas Padjadjaran. Di tahun yang sama, ia juga memperoleh pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) FMIPA Unsoed serta masuk dalam Top 5 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Soedirman 2024.

Keseriusannya dalam bidang akademik juga membawanya mengikuti kegiatan 3 Day School on Harmonic and Functional Analysis di Institut Teknologi Bandung pada Desember 2025. Melalui forum tersebut, Vera berkesempatan berdiskusi langsung dengan para akademisi mengenai kajian analisis matematika tingkat lanjut.

Di luar kegiatan kampus, Vera juga mulai menapaki pengalaman profesionalnya. Ia pernah menjalani magang sebagai Data Analyst Intern di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan, di mana ia terlibat dalam pengolahan serta visualisasi data statistik untuk mendukung publikasi informasi kepada masyarakat.

Saat ini, Vera juga aktif sebagai tutor privat matematika di Purwokerto, mengajar siswa dari tingkat sekolah hingga mahasiswa. Pengalamannya semakin diperkuat melalui berbagai sertifikasi profesional, di antaranya sertifikasi Microsoft Office dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tahun 2025 serta sertifikasi Content Creator BNSP tahun 2024.

Bagi Vera, seluruh pengalaman itu menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan—terutama dalam bidang analisis data, sebuah bidang yang semakin dibutuhkan di tengah dunia yang semakin bergantung pada informasi dan teknologi.

Menanggung Mimpi yang Belum Sempat Dimiliki

Di balik lembaran transkrip nilai yang sempurna itu, ada kisah yang jauh lebih sunyi: doa-doa yang dipanjatkan dari sebuah rumah sederhana di Kuningan.

Ayahnya setiap hari mengurus ternak sapi—memberi pakan, membersihkan kandang, dan memastikan ternak tetap sehat. Sementara ibunya mengurus rumah tangga dan memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Mereka tidak pernah memaksakan target akademik kepada Vera. Tidak pernah menuntut nilai tertentu. Yang mereka berikan hanya satu hal yang sederhana namun kuat: kepercayaan.

“Aku merasa kalau bisa menempuh pendidikan tinggi, itu seperti mewakili mimpi orang tua juga. Mereka mungkin tidak sempat merasakan kuliah, tapi lewat aku mereka bisa merasakan kebahagiaan itu.”

Kalimat itu ia ucapkan tanpa nada berlebihan. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna yang dalam. Kelulusan Vera bukan hanya tentang satu orang mahasiswa yang meraih gelar sarjana. Ia adalah tentang mimpi yang akhirnya menemukan jalannya.

Pesan untuk Mahasiswa Unsoed

Kini, setelah toga dilepas dan riuh wisuda perlahan mereda, Vera menatap babak baru hidupnya dengan perasaan syukur yang tenang. Empat tahun perjalanan kuliah—dari masa adaptasi yang penuh kebingungan hingga sidang skripsi yang melelahkan—ia kenang bukan sebagai beban, melainkan sebagai proses yang membentuk dirinya.

Kepada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang masih berada di tengah perjalanan itu, Vera meninggalkan pesan sederhana.

“Setiap orang pasti punya fase sulit. Tapi sebaik-baiknya proses pasti ada akhirnya. Jadi jalani saja pelan-pelan, lakukan yang terbaik setiap hari. Tidak harus selalu cepat, yang penting terus mencoba dan tidak berhenti berusaha.”

Dari sebuah keluarga sederhana di Kabupaten Kuningan hingga podium lulusan terbaik FMIPA Unsoed, Vera Nur Fadiya membuktikan satu hal: mimpi tidak selalu lahir dari keluarga yang sudah terbiasa bermimpi besar. Kadang, mimpi itu justru dimulai dari satu orang yang berani melangkah lebih dulu.