Publish: 26 Juni 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
Bagi sebagian orang, tumpukan jerami padi yang menguning di tepian sawah mungkin hanyalah limbah sisa panen yang menunggu dibakar. Namun, di tangan Prof. Dr.sc.agr. Ir. Muhamad Bata, M.S., IPU., limbah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan peternakan berkelanjutan atau biasa dikenal bioekonomi sirkular.
Guru Besar Fakultas Peternakan UNSOED ini tidak sekadar berkutat dengan angka di balik meja laboratorium. Dia membawa semangat juang dari George-August University Jerman, tempatnya dulu menimba ilmu, ke tempat pengabdian panjangnya di Banyumas. Visinya tentang peternakan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menyatu dalam denyut nadi pertanian. Bioekonomi sirkular selalu menekankan bahwa kotoran ternak tidak dibuang begitu saja, tetapi dikembalikan ke lahan sebagai pupuk. Sedangkan jerami dari sawah menjadi pakan.
Nutrisi: Bukan Sekadar Gemuk
"Bagi saya, nutrisi itu bukan sekadar soal ternak cepat gemuk. Nutrisi itu tentang keseimbangan," ungkap guru besar yang sudah menekuni nutrisi ternak sejak studi magister di IPB ini. Fokus risetnya menyasar pada nutrisi dan pakan ternak ruminansia mulai dari sapi, kamping, sampai domba. Keseimbangan mikroorganisme di sana adalah kunci. Menurut profesor yang juga perancang model integrasi produksi dan riset terapan bernama Sapi Amanah Farm, jika keseimbangan terganggu, performa ternak bisa turun dan limbah akan meningkat. Prioritas dia adalah bagaimana menghasilkan ternak yang optimal, tetapi tetap meminimalkan limbah dan emisi. Melalui Sapi Amanah Farm, Bata menawarkan pengelolaan pakan berbasis riset, pengukuran performa ternak secara ilmiah, hingga pengolahan limbah menjadi pupuk dan energi. Model ini menawarkan prinsip replikasi bagi desa atau BUMDes melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan penerapan teknologi pakan sederhana guna menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan input produksi.
Kampus Berdampak: Riset yang "Hidup"
Definisi “Kampus Berdampak” bagi Bata sederhana: ilmu harus hadir di tengah masyarakat dan manfaatnya terasa luas. Dalam perspektif peternakan, ukurannya bisa dilihat dari sejauh mana teknologi diadopsi peternak, bagaimana kampus mendorong produktivitas dan efisiensi, meningkatkan pendapatan, sekaligus menekan emisi serta limbah. Semua indikator itu saling terkait. Mahasiswa selalu dilibatkan dalam “laboratorium hidup’’ di unit usaha dan kandang yang dikelola Bata. Mahasiswa turut belajar mempraktikkan formulasi pakan, pengamatan performa ternak, dan analisis kualitas pupuk. Namun, dia mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun akan sia-sia belaka tanpa kesiapan SDM dan kelembagaan. Di tingkat desa, tantangan terbesarnya ada pada penerapan budaya disiplin SOP dan literasi manajerial. SOP harus dijalankan dengan konsisten, komitmen penuh, dan keberanian untuk terus belajar. Itulah alasannya dia mendorong peran BUMDes untuk hadir bukan sekadar sebagai pedagang, melainkan sebagai agregator pakan dan pengelola limbah yang terstruktur. "Riset itu harus menjawab masalah nyata. Jangan hanya berhenti pada publikasi atau angka statistik,” pesan Bata kepada mahasiswanya. Dia menekankan pentingnya integritas ilmiah yang dipraktikkan sesuai data di lapangan. Ketika masyarakat percaya, maka inovasi akan lebih mudah diterima. Bagi desa yang ingin memulai, dia memberikan resep sederhana: mulailah dari skala kecil dengan sistem yang benar, jaga ketersediaan pakan, dan kelola limbah dengan konsisten.





