Publish: 2 November 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sen, 2/11/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jumat (30/10). Pemasangan perangkat ini merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana sekaligus penguatan kesiapsiagaan masyarakat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada Januari 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Village Tangguh Bencana yang didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed melalui skema Smart Village. Program tersebut dirancang secara terpadu dengan menggabungkan pemanfaatan teknologi peringatan dini, edukasi kebencanaan, pelatihan kesiapsiagaan masyarakat, serta konservasi lahan pertanian di kawasan rawan bencana.
Pemasangan perangkat dilakukan oleh tim Unsoed yang terdiri atas Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., Dr. Zaroh Irayani, S.Si., M.Si. dari Divisi Kajian Ilmiah, serta dua mahasiswa yang terlibat dalam proses perakitan teknologi. Kegiatan ini juga mendapat dukungan aktif masyarakat setempat, termasuk ketua RT, kelompok tani, dan komunitas Pemuda Tangguh Bencana. Bentuk partisipasi warga terlihat dari kesiapan dudukan instalasi yang telah disiapkan sebelum tim Unsoed tiba di lokasi.
Dr. Dyah Susanti menjelaskan, pemasangan EWS merupakan kelanjutan dari kontribusi Unsoed dalam mendampingi masyarakat Desa Serang setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor. Pada masa tanggap darurat, Unsoed sebelumnya telah menyalurkan bantuan berupa pelayanan kesehatan, logistik, serta pemenuhan kebutuhan sanitasi. Pendampingan tersebut kemudian dilanjutkan melalui penerapan pengetahuan akademik dan teknologi untuk mendukung upaya mitigasi bencana.
“Kami mencoba memberikan kontribusi dari sisi akademisi maupun teknologi, tidak hanya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga untuk mitigasi,” ujar Dyah.
Perangkat EWS yang dipasang berfungsi memantau curah hujan sebagai salah satu indikator potensi banjir dan tanah longsor. Apabila hasil pengukuran mencapai ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan alarm sebagai peringatan dini bagi masyarakat di sekitar lokasi. Untuk menjaga keberlangsungan operasional, perangkat tersebut dilengkapi panel surya sebagai sumber energi alternatif apabila terjadi gangguan pasokan listrik dari jaringan PLN.
Instalasi EWS ditempatkan di lokasi yang menjadi pusat aktivitas komunitas Pemuda Tangguh Bencana, tepatnya di Dusun III atau Kaliurip, Desa Serang. Penentuan lokasi mempertimbangkan riwayat dampak bencana sebelumnya, sekaligus kemudahan masyarakat dalam melakukan pemantauan dan pengamanan perangkat.
Saat ini, sistem tersebut masih dalam tahap uji coba selama satu minggu untuk memastikan kinerja dan kesesuaiannya dengan kondisi lapangan. Pengujian juga mencakup jangkauan suara alarm, terutama ketika terjadi hujan lebat yang disertai petir.
Keberadaan sistem peringatan dini ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali potensi ancaman dan mengambil langkah antisipasi secara tepat. Hal ini menjadi penting mengingat pengalaman bencana sebelumnya masih menyisakan kekhawatiran bagi sebagian warga. Dengan adanya EWS, masyarakat diharapkan memiliki waktu dan informasi yang memadai untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum kondisi berkembang menjadi bencana. “Harapannya, dengan adanya alat ini nantinya warga tidak terlalu panik, tetapi tetap bersiaga,” tutur Dyah.
Setelah masa uji coba berakhir, Tim Kesiagaan Bencana Unsoed akan melakukan evaluasi bersama masyarakat dan memberikan pelatihan kepada anggota Pemuda Tangguh Bencana serta perangkat desa. Materi pelatihan meliputi pengenalan mekanisme kerja perangkat, prosedur penggunaan, dan koordinasi yang perlu dilakukan ketika sistem memberikan peringatan. Selanjutnya, pengelolaan EWS direncanakan diserahkan kepada pemerintah desa agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan. Meski demikian, Unsoed tetap membuka ruang pendampingan dan pemantauan melalui komunikasi dengan masyarakat setempat.
Pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap kondisi lingkungan dan prosedur penyelamatan diri. Pengurangan risiko bencana juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama dalam mengenali tanda-tanda alam serta mempersiapkan jalur evakuasi yang aman.
“Persiapan bencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Masyarakat perlu bersama-sama membaca tanda-tanda alam, tetap waspada, dan menyiapkan jalur evakuasi yang aman,” pungkas Dyah.
Selain penguatan sistem peringatan dini, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hulu dan lereng sebagai daerah penyangga lingkungan. Upaya konservasi dapat dilakukan melalui perlindungan pohon-pohon besar serta penanaman pohon konservasi dan tanaman produktif. Dengan demikian, upaya menjaga keseimbangan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat.
#unsoedberdampak




