Berita

Unsoed Selesaikan Pembangunan Gedung IME, Targetkan Cetak Lebih Banyak Dokter Spesialis

[unsoed.ac.id, Kam, 12/2/26] – Universitas Jenderal Sudirman (Unsoed) resmi menyelesaikan pembangunan Gedung Integrated Medical Education (IME) di Fakultas Kedokteran (FK), Purwokerto, Banyumas.

Proyek multiyears yang didanai melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun 2025 ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan fasilitas pendidikan medis dan riset di kampus.

Ketua Tim Kerja SBSN dan KDP, Bagus Setiawan mengatakan kunjungan kali ini untuk melihat, lebih arah dampaknya terkait pembangunan yang sudah dilaksanakan di Unsoed dari produk SBSN. Saat ini sedang berlangsung pembangunan Gedung IME, dan ini merupakan pengalaman Unsoed yang ketiga melalui projek SBSN.

“Unsoed termasuk yang cepat dalam proses pembangunan dan menjadi rujukan dalam pelaksanaan SBSN. Tahun 2025 memang ada perubahan skema pembiayaan dari single years menjadi multiyears karena efisiensi anggaran, namun Unsoed mampu beradaptasi dengan sangat baik,” jelasnya.

Menurut Bagus, pembangunan Gedung IME sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bidang kedokteran, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya pada penguatan sektor kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Humas Prof.Dr.Sos Waluyo Handoko S.IP.,M.Si mengatakan pembangunan Gedung ini merupakan komitmen Unsoed dalam membantu program pemerintah Asta Cita Presiden Prabowo terkait Bidang Kesehatan yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Ketua Tim SBSN Unsoed 2025, Prof. Dr. Kharisun, menjelaskan bahwa pembangunan gedung ini merupakan langkah strategis Unsoed untuk menjawab kebutuhan tenaga dokter nasional yang masih jauh dari standar World Health Organization (WHO).

“Standar WHO mensyaratkan satu dokter per 1.000 penduduk, sementara kondisi saat ini masih belum ideal. Sebagai Fakultas berakreditasi unggul, seharusnya FK Unsoed bisa menerima 250 mahasiswa, tapi karena keterbatasan faslitias ruang dan laboratorium maka baru bisa menerima 175 orang. Dengan gedung IME ini diharapkan dapat untuk meningkatkan kuota mahasiswa.” ujar Prof. Kharisun dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).

Gedung IME berlokasi di Jalan Dr. Gumbreg dibangun dengan nilai kontrak sebesar Rp 52,8 miliar oleh kontraktor PT Krakatau Indah kerja sama operasional (KSO) dan PT Margorejo. Konstruksi fisik dijadwalkan selesai pada Februari 2026, namun operasional penuh gedung baru akan dimulai pada tahun ajaran baru mendatang, sekitar Agustus atau September 2026.

“Saat ini gedung sudah selesai hampir 100%, namun kami masih menunggu proses pengadaan peralatan laboratorium yang mayoritas merupakan alat impor. Targetnya, pada semester baru nanti, fasilitas ini sudah bisa digunakan sepenuhnya oleh mahasiswa,” tambahnya.

Keberadaan Gedung IME diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswa baru FK Unsoed. Jika sebelumnya Unsoed hanya menerima 120 mahasiswa per tahun, saat ini jumlahnya telah meningkat menjadi 175 orang. Dengan fasilitas baru, Unsoed menargetkan kapasitas maksimal hingga 250 mahasiswa per tahun sesuai standar akreditasi unggul yang disandang.

Fokus pada Program Spesialis

Selain untuk pendidikan dokter umum, Gedung IME akan menjadi pusat pengembangan program dokter spesialis. Saat ini, FK Unsoed telah memiliki empat program spesialis, yakni Anestesi dan Terapi Intensif, Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), Neurologi, serta Patologi Anatomi.

Dalam waktu dekat, Unsoed tengah mengusulkan enam program spesialis tambahan, di antaranya spesialis bedah, mata, penyakit dalam, anak, paru, dan kulit. Jika seluruh usulan disetujui, Unsoed akan memiliki total 10 program studi spesialis.

“Kami berharap investasi besar dari dana masyarakat melalui SBSN ini bisa kembali ke masyarakat dalam bentuk lulusan dokter berkualitas. Kami juga berkomitmen untuk melakukan perawatan gedung dan alat secara berkelanjutan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” pungkas Prof. Kharisun.

Proyek ini sendiri dilaksanakan dalam waktu 300 hari kalender dengan masa pemeliharaan selama 360 hari, guna memastikan kualitas bangunan tetap terjaga sebelum diserahkan sepenuhnya untuk kegiatan akademik.

#unsoed1963#merdekamajumenduniabedampak#sdgs4