Publish: 16 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Kam, 16/7/2026] Kecintaan terhadap musik keroncong kembali mengantarkan Nabila Meilia Putri, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), meraih Juara II kategori Keroncong Putri pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026. Kompetisi berlangsung pada 14–15 Juli 2026 di Auditorium Fakultas Biologi Unsoed dan diikuti 32 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah, terdiri atas 13 peserta putra dan 19 peserta putri.
Prestasi tersebut menjadi kelanjutan perjalanan panjang Nabila dalam dunia seni, khususnya musik keroncong. Bakat seni telah tumbuh sejak kecil dari lingkungan keluarga. Ayahnya memiliki kemampuan melukis dan bermusik, sedangkan ibunya juga memiliki ketertarikan pada dunia musik. Sejak usia lima tahun, Nabila telah mengenal berbagai cabang seni, mulai dari menggambar, menari, hingga bernyanyi.
Perjalanan kompetisinya dimulai saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia mengikuti lomba tari sejak kelas II SD, kemudian mulai menekuni kompetisi vokal pada kelas IV SD dan berhasil meraih Juara I tingkat kecamatan. Memasuki jenjang SMP, Nabila aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler band dan rebana sebagai vokalis.
Ketertarikannya pada musik keroncong justru bermula dari sebuah tantangan. Saat masih duduk di bangku SMA, gurunya mendorong Nabila mengikuti lomba keroncong tingkat Banyumas Raya. Meski awalnya belum mengenal genre tersebut secara mendalam, ia berhasil meraih Juara III. Sejak saat itu, kecintaannya terhadap keroncong terus tumbuh dan mengantarkannya meraih berbagai prestasi.
Sejumlah pencapaian yang telah diraih Nabila antara lain Juara III Lomba Vokal Keroncong tingkat Madrasah/SMA se-Banyumas Raya tahun 2021, Juara III Peksiminas 2024, Juara I Peksimida Jawa Tengah 2024 kategori Keroncong Putri, Juara I Peksimitas Unsoed tahun 2024 dan 2026, serta Juara II Peksimida Jawa Tengah kategori Keroncong Putri tahun 2026.
Di tengah anggapan sebagian generasi muda bahwa keroncong merupakan musik lama, Nabila memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, keroncong memiliki keindahan musikal yang khas sekaligus nilai sejarah yang patut dilestarikan.
"Keroncong musiknya mengalun menenangkan. Ada ketentuan sesuai partitur sehingga tidak bisa diimprovisasi sembarangan. Selain itu, lirik-liriknya banyak menggambarkan perjuangan para pahlawan Indonesia," ungkap Nabila.
Di luar aktivitas akademiknya sebagai mahasiswa Biologi, Nabila juga aktif bergabung dengan komunitas keroncong Gema Kencana Banyumas. Bersama komunitas tersebut, ia kerap tampil dalam pertunjukan musik di Kota Lama Banyumas, acara kebudayaan, hingga berbagai kegiatan masyarakat.
Menurutnya, bermusik tidak hanya menjadi sarana melestarikan budaya, tetapi juga memberikan keseimbangan dalam menjalani aktivitas perkuliahan. "Di Biologi banyak praktikum dan penugasan. Bermain musik menjadi pengalihan yang positif sekaligus menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri," ujarnya.
Di akhir wawancara, Nabila menyampaikan apresiasi kepada para pembinanya di Fakultas Biologi, Dr. Endang Ariyani Setyowati, M.Si. dan Sri Adi Karyono, S.H., yang telah membimbingnya memahami pakem musik keroncong selama mengikuti berbagai ajang kompetisi.
Dengan konsistensinya mengukir prestasi, Nabila berharap musik keroncong tetap diminati oleh generasi muda sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan salah satu warisan budaya bangsa. Prestasi yang diraihnya juga menjadi bukti bahwa mahasiswa Unsoed mampu berprestasi di bidang seni sekaligus berperan aktif menjaga eksistensi musik tradisional Indonesia.




