Publish: 4 Agustus 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sel, 4/8/26] Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) terus mendorong hilirisasi hasil penelitian melalui pengabdian kepada masyarakat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026, tim dosen Fapet Unsoed memperkenalkan teknologi produksi biourine yang diperkaya ekstrak Gamal kepada Kelompok Tani Ternak (KTT) Purbalingga Farm, Sabtu (1/8/2026).
Program ini menjadi salah satu wujud penerapan hasil riset perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan limbah peternakan dan penyediaan pupuk organik yang ramah lingkungan. Melalui teknologi sederhana berbasis aerasi dan fermentasi, limbah urin ternak yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diolah menjadi pupuk organik cair yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ketua Tim PkM Fapet Unsoed, Prasetyo, M.P., mengatakan pengelolaan limbah peternakan masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Padahal, apabila dikelola dengan teknologi yang tepat, limbah tersebut dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi peternak sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
"Kami ingin membuktikan bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui teknologi pengolahan biourine ini, limbah peternakan dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan instalasi pengolahan biourine yang sederhana dan mudah dioperasikan oleh peternak. Teknologi ini memanfaatkan mikroba lokal (MOL) sebagai starter fermentasi serta ekstrak tanaman Gamal (Gliricidia sepium) sebagai bahan pengaya nutrisi sehingga kualitas pupuk organik cair yang dihasilkan menjadi lebih baik.
Selain transfer teknologi, tim juga memberikan pendampingan pengelolaan limbah secara terpadu. Wilis Cahyani memberikan pelatihan pembuatan kompos, sedangkan Danang Nurcahyo mendampingi penguatan kelembagaan kelompok agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Prasetyo menambahkan, pendekatan yang diterapkan dalam program ini mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal sehingga teknologi dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat.
"Kami memanfaatkan mikroba lokal dan tanaman Gamal yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan peternak. Harapannya, teknologi ini tidak bergantung pada bahan yang mahal sehingga dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan," katanya.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Heru Sugianto. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani merupakan langkah strategis dalam mempercepat adopsi inovasi di sektor pertanian dan peternakan.
"Inovasi seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung dan memberikan nilai tambah ekonomi, maka manfaatnya akan jauh lebih besar dibandingkan hanya berhenti sebagai hasil riset," ungkap Heru.
Bagi anggota KTT Purbalingga Farm, teknologi biourine membuka peluang usaha baru melalui pemanfaatan limbah peternakan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Ketua KTT Purbalingga Farm berharap pendampingan dari perguruan tinggi dapat terus berlanjut, tidak hanya pada tahap pelatihan, tetapi juga hingga proses produksi dan pemasaran.
"Kami optimistis produk ini dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi anggota kelompok. Yang kami harapkan ke depan bukan hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan hingga produk benar-benar mampu dipasarkan secara luas," ujarnya.
Melalui program ini, Fapet Unsoed berupaya memperkuat hilirisasi riset melalui pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem pertanian yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Ke depan, teknologi biourine diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi sirkular di sektor peternakan, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




