Publish: 22 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Kam, 22/10/26] Indonesian Association for Public Administration (IAPA) mendorong penguatan tata kelola pemerintahan Indonesia melalui lima rekomendasi strategis yang mencakup penguatan etika administrasi publik, kebijakan berbasis bukti, tata kelola yang transparan dan akuntabel, meritokrasi, serta penguatan ekosistem pendidikan tinggi. Rekomendasi tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam IAPA Annual Conference dan International Conference on Public Administration and Social Sciences (ICPSH) 2026 yang diselenggarakan di Unsoed, Purwokerto, pada 21–23 Oktober 2026.
Mengusung tema “Navigating Transitions: Governance, Society, and Global Connectivity in the Age of Digital Transformation”, konferensi ini menjadi forum pertukaran gagasan bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan administrasi publik, dinamika sosial, serta konektivitas global di tengah transformasi digital.
Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ., yang menyampaikan lima rekomendasi IAPA dalam sesi konferensi, menekankan pentingnya penguatan etika pemerintahan, perumusan kebijakan berbasis bukti ilmiah, tata kelola yang akuntabel, transparan dan partisipatif, penerapan meritokrasi, serta pengembangan ekosistem pendidikan tinggi.
“Ada lima rekomendasi yang perlu menjadi perhatian. Pertama, penguatan etika dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua, penyusunan kebijakan berbasis bukti yang didukung riset, teori, dan pengetahuan ilmiah agar kebijakan memiliki proyeksi serta dampak yang jelas. Ketiga, penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, transparan, dan partisipatif. Keempat, penguatan meritokrasi di Indonesia. Kelima, penguatan ekosistem pendidikan tinggi agar semakin baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, penyusunan kebijakan publik perlu melibatkan hasil penelitian dan pengetahuan ilmiah agar keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Selain itu, meritokrasi perlu diperkuat dengan menempatkan kompetensi, kualifikasi, integritas, dan kinerja sebagai dasar pengisian jabatan publik.
IAPA juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam mendukung pemerintah melalui pengembangan keilmuan dan penyampaian rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan asosiasi profesi dinilai penting untuk memperkuat kapasitas kelembagaan serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan.
Ketua Panitia, Prof. Dr. Dwiyanto Indiahono, dalam sambutannya menekankan bahwa konferensi menjadi ruang pertemuan bagi akademisi dan praktisi untuk memperluas wawasan serta membangun kolaborasi dalam menghadapi perubahan tata kelola pemerintahan.
“Konferensi ini menjadi ruang pertemuan bagi akademisi dan praktisi untuk bertukar pengetahuan, memperluas jejaring, serta membahas tantangan administrasi publik di tengah transformasi digital. Kami berharap rangkaian kegiatan ini menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan perbaikan tata kelola pemerintahan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua IAPA dalam sambutannya menyampaikan komitmen asosiasi untuk memperkuat kontribusi keilmuan administrasi publik melalui penelitian, pengembangan kapasitas, dan rekomendasi kebijakan.
“IAPA berkomitmen memperkuat kontribusi keilmuan administrasi publik melalui penelitian, pengembangan kapasitas, dan rekomendasi kebijakan. Kami berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas profesional semakin erat sehingga ilmu administrasi publik dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Konferensi utama pada Kamis (22/10) diawali dengan laporan Ketua Panitia, dilanjutkan sambutan Ketua IAPA, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed, Prof. Dr. Slamet Rosyadi, serta Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. Pembukaan kegiatan turut menampilkan tari tradisional dan kentongan sebagai bagian dari pengenalan kekayaan budaya Banyumas kepada para delegasi. Dekan FISIP Unsoed menyampaikan bahwa konferensi tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas kolaborasi akademik dan mempertemukan berbagai perspektif mengenai tata kelola pemerintahan.
“Penyelenggaraan konferensi ini menjadi kesempatan untuk memperluas kolaborasi akademik dan mempertemukan berbagai perspektif mengenai tata kelola pemerintahan. Kami berharap forum ini memperkuat pengembangan pendidikan, penelitian, dan kerja sama internasional di bidang administrasi publik dan ilmu sosial,” tuturnya.
Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si., juga menekankan pentingnya forum akademik internasional dalam memperkuat jejaring dan kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat.
“Unsoed menyambut baik penyelenggaraan IAPA Annual Conference dan ICPSH 2026 sebagai forum pertukaran gagasan dan penguatan jejaring akademik internasional. Kami berharap konferensi ini menghasilkan pemikiran yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan, dan kerja sama yang berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Sesi panel menghadirkan sejumlah pembicara dari Indonesia dan mancanegara, yakni Prof. Alfred Tat-Kei Ho dari Hong Kong, Prof. Dr. Eko Prasojo dari Indonesia, Prof. Agus Pramusinto dari Indonesia, serta Associate Professor Dr. Sida Sonsri dari Thailand. Sesi panel berikutnya menghadirkan H.E. Sergei Tolchenov, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Prof. Wan Rohila Ganti binti Wan Abdul Ghapar dari Malaysia, Dr. Anderson Villa dari Filipina, dan Prof. Dr. Muslih Faozanudin, M.Sc., dari Unsoed.
Pembahasan dalam sesi panel memberikan ruang pertukaran perspektif mengenai perkembangan administrasi publik, inovasi tata kelola, serta tantangan pemerintahan di tengah perubahan teknologi dan hubungan global. Kehadiran pembicara dari berbagai negara juga memperluas kesempatan untuk berbagi pengalaman dan praktik dalam merespons dinamika sosial serta kebutuhan masyarakat.
Selain sesi panel, konferensi diisi presentasi ilmiah melalui sesi paralel di sejumlah ruang di lingkungan Unsoed. Para presenter memaparkan hasil penelitian sesuai bidang kajian masing-masing dengan pendampingan ketua sesi dan petugas pengatur waktu. Kegiatan ini menjadi sarana diseminasi hasil penelitian sekaligus memperluas jejaring akademik nasional dan internasional.
Rangkaian konferensi pada Kamis (22/10) dijadwalkan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada pemenang kompetisi mahasiswa, presenter terbaik, dan penerima penghargaan lainnya. Agenda dilanjutkan dengan penyampaian rekomendasi konferensi oleh Ketua IAPA serta penutupan resmi oleh Dekan FISIP Unsoed. Pada Jumat (23/10), kegiatan berlanjut melalui program Cultural and Community Engagement.
Melalui penyelenggaraan IAPA Annual Conference dan ICPSH 2026, Unsoed memperkuat perannya sebagai ruang kolaborasi akademik nasional dan internasional. Forum ini diharapkan menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang mendukung pengembangan ilmu administrasi publik, peningkatan kualitas kebijakan, serta terwujudnya tata kelola pemerintahan yang berintegritas, profesional, adaptif, transparan, dan akuntabel. #unsoedberdampak




