Publish: 3 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 3/7/26] – Lima mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengembangkan Magnetic Hydrogel (MagGel) Kurkumin-Fe₃O₄, sebuah material inovatif yang berpotensi mendukung terapi fotodinamik (Photodynamic Therapy/PDT) pada kanker payudara. Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Belmawa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pengembangan inovasi ini berangkat dari tingginya angka kasus kanker payudara di Indonesia. Berdasarkan data Globocan 2024 dan Kementerian Kesehatan RI, terdapat 66.271 kasus baru kanker payudara pada tahun 2022 dengan 22.598 kematian. Sebagian besar kasus masih terdeteksi pada stadium lanjut, sehingga menurunkan peluang keberhasilan pengobatan. Kondisi tersebut mendorong tim mahasiswa Unsoed untuk mengembangkan material yang dapat meningkatkan efektivitas terapi kanker dengan pendekatan yang lebih terarah.
Riset dilaksanakan di Laboratorium Kimia Anorganik FMIPA Unsoed dengan memanfaatkan kombinasi tiga komponen utama, yakni kurkumin sebagai agen fotosensitizer, hidrogel sebagai sistem penghantaran obat (drug delivery system), serta nanopartikel Fe₃O₄ yang bersifat magnetik. Ketiga komponen tersebut dirancang menjadi satu sistem terpadu untuk membantu mengantarkan senyawa aktif menuju lokasi tumor secara lebih presisi.
Ketua tim peneliti, Eksanty Julia Natalie, menjelaskan bahwa terapi fotodinamik bekerja dengan memanfaatkan cahaya pada panjang gelombang tertentu untuk mengaktifkan fotosensitizer yang telah terakumulasi pada sel kanker. Aktivasi tersebut menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS), yaitu molekul oksigen reaktif yang mampu merusak sel kanker tanpa memberikan dampak yang besar terhadap jaringan sehat di sekitarnya.
Menurutnya, tantangan utama penggunaan kurkumin sebagai fotosensitizer adalah sifatnya yang sulit larut dalam air dan mudah terdegradasi di dalam tubuh sehingga efektivitasnya menjadi terbatas.
"Kurkumin sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik sebagai agen antikanker, tetapi stabilitasnya masih menjadi kendala. Melalui MagGel Kurkumin-Fe₃O₄, kami berupaya memberikan sistem penghantaran yang dapat melindungi kurkumin sekaligus mengarahkannya menuju jaringan target dengan bantuan medan magnet," jelas Eksanty.
Ia menambahkan bahwa kajian literatur menunjukkan kurkumin, hidrogel, maupun nanopartikel Fe₃O₄ telah banyak diteliti secara terpisah. Namun, integrasi ketiga komponen tersebut dalam satu sistem Magnetic Hydrogel untuk terapi fotodinamik kanker payudara menggunakan iradiasi LED berenergi rendah masih sangat terbatas.
"Kebaruan penelitian kami terletak pada integrasi ketiga komponen tersebut dalam satu platform. Harapannya, sistem ini mampu meningkatkan stabilitas kurkumin, memperbaiki proses penghantaran obat, serta meningkatkan efektivitas terapi dengan efek samping yang lebih minimal," ujarnya.
Lebih lanjut, Eksanty berharap hasil penelitian ini tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi dapat menjadi dasar pengembangan material biomedis yang aman, efektif, dan terjangkau bagi penanganan kanker payudara di masa mendatang.
Riset ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Eksanty Julia Natalie sebagai ketua, bersama Aisy Nabilah Anisah, Fadlillah Hari Alfarizi, Devi Mei Ningrum, dan Muthi'ah Syahidah, di bawah bimbingan Anung Riapanitra, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Anung mengapresiasi capaian mahasiswa dalam mengembangkan riset yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
"Yang membanggakan bukan hanya hasil penelitiannya, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menerjemahkan persoalan kesehatan masyarakat menjadi solusi berbasis sains yang dapat dipahami secara sederhana. Pendekatan seperti inilah yang diharapkan mampu menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat," tuturnya.
Selain menargetkan publikasi ilmiah sebagai luaran penelitian, tim berharap inovasi MagGel Kurkumin-Fe₃O₄ dapat menjadi pijakan bagi pengembangan teknologi terapi kanker yang lebih efektif sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovasi mahasiswa dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan di Indonesia.





