Publish: 20 Juli 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sen, 20/7/26] Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia. Salah satu upaya tersebut diwujudkan dengan penyelenggaraan In-House Training Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang dilaksanakan pada Jumat (17/7/2026), pukul 13.00–15.00 WIB, dan diikuti oleh pegawai RSGMP Unsoed.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan seluruh pegawai dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan, khususnya pada kasus henti jantung dan henti napas yang memerlukan tindakan cepat dan tepat sebelum pasien mendapatkan penanganan lanjutan.
Pelatihan menghadirkan dr. Rahmah Fitri Utami, dokter RSGMP Unsoed, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, dr. Rahmah menjelaskan bahwa Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) merupakan kemampuan dasar yang penting dimiliki oleh setiap insan rumah sakit, tidak hanya tenaga medis, tetapi juga seluruh pegawai yang berpotensi menjadi penolong pertama ketika terjadi keadaan darurat.
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan kondisi henti jantung, prinsip keselamatan penolong, penilaian awal korban, aktivasi sistem kegawatdaruratan, teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) sesuai pedoman terbaru, hingga pentingnya kolaborasi tim dalam proses penyelamatan pasien.
Selain penyampaian materi secara teori, peserta juga mengikuti sesi praktik dan simulasi Bantuan Hidup Dasar. Pada sesi ini, peserta mempraktikkan langkah-langkah penanganan korban secara sistematis, mulai dari memastikan keamanan lokasi, memeriksa respons korban, meminta bantuan, melakukan kompresi dada yang efektif, hingga mengevaluasi kondisi korban. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta sehingga diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri saat menghadapi situasi kegawatdaruratan di lingkungan rumah sakit.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Rahmah Fitri Utami menekankan bahwa keberhasilan penyelamatan pasien sangat dipengaruhi oleh kecepatan mengenali kondisi gawat darurat dan ketepatan tindakan awal yang diberikan.
"Setiap menit sangat berarti pada kasus henti jantung. Semakin cepat Bantuan Hidup Dasar diberikan, semakin besar peluang pasien untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, pemahaman dan keterampilan BHD perlu dimiliki oleh seluruh pegawai rumah sakit agar dapat memberikan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi," jelas dr. Rahmah.
Pelaksanaan In-House Training Bantuan Hidup Dasar ini merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi pegawai sekaligus mendukung implementasi budaya keselamatan pasien (patient safety) di RSGMP Unsoed. Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan setiap pegawai memiliki kesiapan untuk berperan aktif dalam memberikan pertolongan awal apabila terjadi kondisi kegawatdaruratan, baik di area pelayanan maupun di lingkungan rumah sakit secara umum.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta aktif berdiskusi, mengajukan berbagai pertanyaan, serta mengikuti praktik dengan semangat. Interaksi yang terjalin selama pelatihan menunjukkan tingginya komitmen pegawai RSGMP Unsoed untuk terus meningkatkan kompetensi demi memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Melalui kegiatan ini, RSGMP Universitas Jenderal Soedirman menegaskan komitmennya dalam membangun budaya pembelajaran berkelanjutan (continuous learning) serta memastikan setiap pegawai memiliki kemampuan dasar dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Kompetensi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pelayanan rumah sakit yang profesional, responsif, dan sesuai dengan standar mutu serta keselamatan pasien.




