Publish: 26 Juni 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
Ketika listrik padam, biasanya kampung ikut redup. Tapi suatu malam di Sidakangen, Kalimanah, Purbalingga, ada kabar yang justru membuat orang-orang tersenyum. “Apalagi saya dapat laporan dari warga, wilayah mereka mati lampu tapi tempat mereka masih terang,” kata Ir. Yogi Ramadhani, S.T., M.Eng, dosen Teknik Elektro UNSOED, mengenang momen yang paling ia ingat. Terang itu bukan dari genset yang berisik, bukan pula dari kabel sambungan darurat. Ia datang dari sinar matahari yang disimpan siang hari, lalu dipakai untuk menjaga sebuah rumah kaca tetap hidup. Di sanalah Yogi dan tim mewujudkan gagasan kampus berdampak: teknologi tidak boleh berhenti jadi tumpukan laporan. “Suatu inovasi yang berdampak dan bagus itu adalah suatu inovasi yang tidak hanya berhenti di laporan penelitian, tapi inovasi yang juga dapat diterapkan di masyarakat,” ujarnya.
**Membumikan Inovasi **
Nama programnya cukup panjang: “Peningkatan Kapasitas Sistem PLTS Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Implementasi Otomasi Pertanian pada Greenhouse Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga”. Tapi kerja di lapangan tampak lebih ringkas: membuat greenhouse menjadi “smart” dan mencapai “mandiri energi”. Energi matahari dipilih karena sederhana sekaligus melimpah dan “energi cahayanya itu bisa dikonversi ke energi listrik.” Di greenhouse itu, pekerjaan yang biasanya memakan waktu dan tenaga dipindahkan ke sistem otomasi. Dulu pemupukan, pencampuran, penyiraman, dan lainnya dilakukan secara manual. Ia mendengar keluhan petani yang sangat manusiawi: “lagi hujan deras mereka mau cek lahan malas juga.” Maka ia memasang Internet of Things (IoT) untuk membuat komunikasi data berjalan. Petani bisa memantau lahan dari rumah, asal ada akses internet.
Rangkaian listriknya sederhana: panel surya menghasilkan arus searah, diatur lewat “solar charge controller”, disimpan di baterai, lalu diubah oleh inverter agar peralatan bisa menyala. Kerja greenhouse dilakukan melalui otomasi yang dibantu oleh IoT. Karena itu, di sisi pemantauan, data muncul berupa angka yang terkait dengan kelembapan ruang, kelembapan tanah, dan kadar oksigen. Informasi soal itu, termasuk status pH air di aquaponic, dapat diakses lewat telepon genggam. Otomasi membuat dosis pupuk tidak lagi ditebak-tebak. “Sekarang kalau dosisnya harusnya 1:4 ya 1:4. Konsisten.” Konsistensi itu, katanya, membawa dampak ke hasil panen. Produksi jadi lebih stabil, lalu “pendapatan bertambah”. Kelompok Wanita Tani, mitra utama di sana, disebutnya “sangat senang” karena kerja jadi lebih ringan dan pemborosan bisa ditekan.
Tantangan dan Harapan
Namun teknologi selalu punya syarat sosial. Tantangan utamanya, kata Yogi, adalah melatih petani agar mau “berhubungan dengan teknologi”. Proyek ini tidak datang sekali lalu selesai. “Sejak tahun 2022 kalau tidak salah sudah kami pasang,” katanya, dan setiap tahun ada pengembangan: dari memantau menjadi mencampur pupuk otomatis, dari satu greenhouse menjadi dua. Lokasi itu “dipakai juga untuk magang mahasiswa”, membuat mahasiswa ikut meneliti di tempat yang sama dengan petani belajar mengoperasikan alat. Pada akhirnya, kampus berdampak bukan tentang seberapa canggih alatnya, melainkan harus bisa diaplikasikan di masyarakat. Ia pun memberi pesan untuk mahasiswanya: “Kita tidak harus menghasilkan teknologi yang canggih tapi dampaknya tidak ada. Lebih baik buat teknologi sederhana tapi dampaknya besar.” Di Sidakangen, dampak itu kadang berbentuk paling sederhana: lampu yang tetap menyala ketika kampung gelap, lalu panen jadi lebih pasti.




