Publish: 6 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sel, 06/10/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Pusat Biodiversitas dan Maritim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) berpartisipasi dalam 9th China–Southeast Asian Countries Marine Cooperation Forum yang berlangsung di The Bazaar Hotel Bangkok, Thailand, 24–25 September 2026. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya Unsoed memperkuat jejaring dan kontribusi riset dalam kerja sama kelautan di tingkat internasional.
Forum mempertemukan peneliti, akademisi, serta perwakilan lembaga pemerintah dan institusi kelautan dari China dan sejumlah negara Asia Tenggara. Berbagai topik strategis dibahas, antara lain observasi dan prediksi laut serta iklim, perlindungan ekosistem dan biodiversitas laut, bioteknologi kelautan, ilmu geosistem dan mitigasi bencana, hingga blue economy dan sustainable ocean.
Forum dibuka pada 24 September 2026 melalui opening ceremony yang dihadiri sejumlah pejabat dari China dan Thailand. Pembukaan diawali pemutaran video kerja sama kelautan China–Asia Tenggara, dilanjutkan sambutan dari Director-General Department of Marine and Coastal Resources, Ministry of Natural Resources and Environment (MNRE) Thailand Dr. Pinsak Suraswadi; Director-General Department of International Cooperation, Ministry of Natural Resources (MNR) China Ms. CHEN Danhong; Vice Minister Ministry of Natural Resources (MNR) China Mr. SUN Shuxian; serta Advisor to Minister MNRE Thailand Ms. Darika Sarunyagate.
Unsoed diwakili Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed, Dr.rer.nat. Riyanti, S.T., M.Biotech., dan Mukti Trenggono, S.Kel., M.Si. Keduanya berkontribusi dalam sesi ilmiah melalui pemaparan hasil penelitian di bidang biodiversitas, bioteknologi kelautan, observasi laut, dan dinamika oseanografi.
Riyanti tampil dalam Session II: Marine Ecosystem Protection, Biodiversity Research and Marine Biotechnology R&D dengan mempresentasikan penelitian berjudul “Unlocking the Secondary Metabolite Potential of Marine Sinomicrobium sp. PAP.21 Using Genomic and Metabolomic Approaches.”
Penelitian tersebut membahas pemanfaatan pendekatan genomik dan metabolomik untuk mengeksplorasi potensi metabolit sekunder dari mikroorganisme laut Sinomicrobium sp. PAP.21. Kajian ini menjadi bagian dari pengembangan riset biodiversitas dan bioteknologi kelautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Keikutsertaan Unsoed dalam forum ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil riset sekaligus memperluas kolaborasi dengan peneliti dan institusi kelautan dari China dan negara-negara Asia Tenggara,” ujar Riyanti.
Sementara itu, Mukti Trenggono mempresentasikan hasil penelitian 2025 MarExplore Cruise melalui kajian berjudul “Ocean Current Dynamics Revealing by Vessel-Mounted ADCP Measurements from the 2025 MarExplore Cruise”. Penelitian tersebut merupakan hasil kerja sama antara First Institute of Oceanography (FIO) China dan Unsoed.
Presentasi tersebut membahas dinamika arus laut berdasarkan pengukuran menggunakan Vessel-Mounted Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) dalam pelaksanaan 2025 MarExplore Cruise. Keterlibatan ini memperkuat kontribusi Unsoed dalam pengembangan pengetahuan mengenai observasi laut dan dinamika oseanografi.
“Forum ini memberikan ruang bagi Unsoed untuk berbagi hasil penelitian sekaligus mendapatkan perspektif dan pengetahuan baru terkait observasi laut dan dinamika oseanografi dari para peneliti di kawasan,” kata Mukti.
Peserta forum berasal dari berbagai institusi di China dan Asia Tenggara, antara lain First Institute of Oceanography (FIO), Department of Marine and Coastal Resources Thailand, Universiti Malaya, Universiti Malaysia Terengganu, Universiti Brunei Darussalam, Viet Nam National University Ho Chi Minh City, serta sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia.
Selain pemaparan hasil penelitian, forum juga membahas berbagai tantangan kelautan di kawasan, seperti perubahan lingkungan laut, kerusakan ekosistem, pencemaran laut, pemutihan karang, degradasi mangrove, dan erosi pantai. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama kelautan antara China dan negara-negara Asia Tenggara.
Pada akhir kegiatan, forum menghasilkan Forum Declaration sebagai salah satu bentuk komitmen keberlanjutan kerja sama kelautan regional. Forum juga membahas rencana penyelenggaraan 10th China–Southeast Asian Countries Marine Cooperation Forum.
Keikutsertaan Unsoed melalui Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM menunjukkan peran perguruan tinggi dalam memperkuat kerja sama kelautan internasional. Melalui forum tersebut, Unsoed tidak hanya memperkenalkan hasil riset, tetapi juga membuka peluang pengembangan jejaring dan kolaborasi penelitian bersama institusi perguruan tinggi, lembaga riset, serta pemerintah di China dan negara-negara Asia Tenggara. #unsoedberdampak




