Publish: 5 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sen, 5/10/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus mendorong pengembangan pangan alternatif berbasis komoditas lokal melalui inovasi mie fungsional bebas gluten berbahan tepung singkong termodifikasi atau Mocaf (Modified Cassava Flour). Produk inovasi tersebut diuji kepada 100 responden di Bojong Gede, Bogor, Minggu (4/10/2026), untuk mengetahui penerimaan konsumen sekaligus memperoleh masukan bagi penyempurnaan produk.
Uji produk diselenggarakan Pusat Koordinasi Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) LPPM Unsoed sebagai bagian dari Program Hiliriset Dorongan Teknologi Tahun 2026 Kemendiktisaintek bertajuk “Produksi Skala Pilot dan Pra-Komersial Mie Fungsional Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi bagi Peningkatan TKT dan Akselerasi Komersialisasi Industri.”
Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP., IPU., ASEAN Eng., mengatakan pengembangan mie Mocaf dilatarbelakangi kebutuhan memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan terhadap gandum impor.
“Diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan. Singkong memiliki potensi besar karena dapat dikembangkan menjadi tepung Mocaf dan digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan sebagai alternatif pengganti sebagian maupun seluruh penggunaan terigu,” ujarnya.
Koordinator Puskor IHSP Unsoed sekaligus inventor formula dan teknologi produksi mie fungsional bebas gluten berbasis Mocaf, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., menjelaskan inovasi tersebut juga merespons meningkatnya kebutuhan pangan dengan karakteristik fungsional.
“Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular, termasuk diabetes dan obesitas, mendorong kebutuhan terhadap pangan dengan karakteristik seperti rendah indeks glikemik, tinggi serat, dan bebas gluten. Kondisi ini membuka peluang pengembangan pangan fungsional berbasis komoditas lokal, termasuk singkong,” jelasnya.
Hasil pra-studi kelayakan pada 2025 menunjukkan inovasi mie Mocaf layak dikembangkan dari aspek teknis, pasar, dan finansial, dengan NPV positif, IRR lebih dari 20 persen, serta payback period sekitar tiga tahun. Produk ini juga telah memiliki paten granted nomor IDP000103454 dan sertifikat halal.
Sementara itu, Ketua Program Hiliriset Dorongan Teknologi Mie Mocaf, Dr. Furqon, STP., M.Si., mengatakan program dilaksanakan melalui sinergi dengan UD Usaha Mandiri Banjarnegara.
“Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapan teknologi dan komersialisasi mie Mocaf melalui produksi skala pilot dan pra-komersial yang tervalidasi dan tersertifikasi, sekaligus menyiapkan model bisnis serta sistem distribusi yang dapat diimplementasikan,” ujarnya.
Selama dua tahun, tim menargetkan peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 6 menjadi level 8 melalui validasi proses, stabilisasi mutu, penyempurnaan regulasi, serta penguatan kanal distribusi.
Hasil uji konsumen menunjukkan respons positif. Sebagian besar responden menyukai dan menerima produk serta berminat membeli apabila harganya kompetitif. Dari aspek sensori, kenampakan, warna, aroma, dan cita rasa dinilai sangat baik. Namun, tekstur masih perlu disempurnakan karena dinilai kurang elastis.
Uji tersebut juga menunjukkan masih terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai Mocaf. Sebagian responden belum pernah mengonsumsi pangan berbasis Mocaf dan menilai ketersediaannya di pasaran masih terbatas dengan harga relatif lebih tinggi dibandingkan terigu.
Temuan tersebut menjadi masukan bagi tim untuk menyempurnakan teknologi dan mutu produk sekaligus memperkuat edukasi konsumen, efisiensi produksi, ketersediaan bahan baku, serta strategi distribusi dan pemasaran.
Antusiasme responden terhadap mie Mocaf menjadi sinyal positif bagi proses hilirisasi. Unsoed terus mendorong agar inovasi berbasis komoditas lokal tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi berkembang menjadi produk yang siap secara teknologi, mutu, regulasi, model bisnis, dan komersialisasi untuk mendukung diversifikasi pangan nasional.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




