Berita

Dosen Unsoed Perkuat Fondasi Ilmiah Konservasi Laut Lepas Selatan Jawa – Bali – NTT

[unsoed.ac.id, Kam, 25/6/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) turut berkontribusi dalam penguatan dasar ilmiah pengelolaan kawasan konservasi laut melalui partisipasinya pada Lokakarya Identifikasi Kajian Ilmiah Kelautan di Kawasan Lepas Pantai Selatan Jawa–Bali–Nusa Tenggara Timur yang berlangsung di Bali, 22–23 Juni 2026.

Keikutsertaan Unsoed difasilitasi oleh Pusat Biodiversitas dan Maritim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed. Dalam kegiatan tersebut, Unsoed diwakili oleh dosen Program Studi Ilmu Kelautan, Mukti Trenggono, S.Kel., M.Si., yang memiliki kepakaran di bidang oseanografi.

Lokakarya yang diselenggarakan Direktorat Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia itu mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, asosiasi perikanan, dan organisasi konservasi untuk merumuskan kebutuhan data serta prioritas kajian ilmiah dalam mendukung pengembangan Large-Scale Marine Protected Area (LSMPA) di wilayah Selatan Jawa–Bali–NTT.

“Pembahasan ilmiah mencakup empat tema utama, yaitu oseanografi dan dinamika laut dalam, biodiversitas laut dalam, perikanan industri, serta sosial-ekonomi dan tata kelola,” ujar Mukti.

Pengembangan LSMPA Selatan Jawa–Bali–NTT menjadi bagian dari upaya mendukung target perlindungan 30 persen wilayah perairan Indonesia pada tahun 2045. Untuk mewujudkannya, diperlukan integrasi data oseanografi, biodiversitas, perikanan, tata ruang laut, hingga kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

Dalam forum tersebut, berbagai pakar memaparkan hasil kajian terkait karakteristik perairan Selatan Jawa yang dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia, monsun, upwelling, ENSO, dan Indian Ocean Dipole. Faktor-faktor tersebut berperan penting dalam menentukan produktivitas perairan, konektivitas habitat, distribusi spesies, serta kondisi ekosistem laut.

Mukti menekankan bahwa perencanaan kawasan konservasi laut lepas harus didasarkan pada data yang kuat dan terintegrasi. Menurutnya, informasi mengenai arus, suhu, salinitas, produktivitas perairan, biodiversitas, serta aktivitas perikanan perlu dianalisis secara bersama untuk menghasilkan batas dan zonasi kawasan yang sesuai dengan proses ekologis yang berlangsung.

“Perencanaan kawasan konservasi laut lepas membutuhkan data yang kuat, terintegrasi, dan memiliki cakupan waktu yang memadai. Dengan pendekatan tersebut, hotspot ekologis, habitat penting, koridor migrasi, hingga wilayah yang menghadapi tekanan lingkungan dapat diidentifikasi secara lebih akurat,” jelasnya.

Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed berperan mendukung kontribusi tersebut melalui penguatan kajian multidisiplin, pengembangan jejaring penelitian, serta integrasi hasil riset yang relevan dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya kelautan.

Melalui kontribusi akademik tersebut, Unsoed menegaskan komitmennya dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan berbasis sains guna mewujudkan konservasi laut yang efektif dan berkelanjutan di Indonesia.

#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak#sdgs4#sdgs14#sdgs17