Berita

Cikakak Mengajar, Mahasiswa Belajar : Edu Tour Eksplorasi Kearifan Lokal Banyumas

[unsoed.ac.id, Sen, 20/4/2026] Diprakarsai oleh dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, Gita Anggria Resticka, S.S.,M.A, Edu Tour Eksplorasi Kearifan Lokal Masyarakat Adat di Desa Wisata Cikakak Banyumas menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebijaksanaan lokal. Kegiatan ini merupakan salah satu luaran dari rangkaian kegiatan Program Kementerian Kebudayaan dengan Skema Kategori Kajian Objek Pemajuan kebudaayaan dan Cagar Budaya.

Di Cikakak, mahasiswa tidak hanya datang sebagai pengamat, tetapi hadir sebagai pembelajar nmendengar cerita, menyelami tradisi, mempraktikkan kuliner lokal, hingga memahami nilai-nilai hidup yang diwariskan masyarakat adat. Cikakak mengajarkan tentang harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Sementara mahasiswa belajar bahwa pelestarian budaya bukan hanya tentang mendokumentasikan, tetapi juga tentang memahami, menghargai, dan ikut merawat warisan tersebut agar tetap hidup di masa depan. Dari ruang kelas menuju ruang budaya, dari teori menuju pengalaman di sinilah pendidikan menemukan maknanya: belajar langsung dari kehidupan.

Kegitaan eksplorasi budaya ini dilaksanakan di Desa Cikakak, 20 April 2026.. Kegiatan ini diikuti oleh 50 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa asing KNB, mahasiswa asing JSS dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Budaya. Peserta eksplorasi disambut dengan tarian Cikakak Ngrembaka dilanjutkan oleh sambutan dari Kepala Desa Cikakak Bapak Akim. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bagaimana Desa Cikakak ini bukan hanya sebagai bagian penilitian tetapi lebih luasnya sebagai pelestarian kebudayaan. “Tentang Desa Cikakak, daerah yang lebih mengedepankan tentang adat dan budaya. Akan tetapi, yang paling utama adalah bagaimana untuk menjaga adat dan kelestarian budaya.” Pungkasnya.

Kegiatan diawali dengan tarian penyambutan khas dari Cikakak yaitu Tari Ngrembaka. Kegiatan diikuti dengan “Ndopok Budaya” bersama narasumber juru kunci Cikakak yaitu Pak Suyitno. Pada Ndopok Budaya, juru kunci menceritakan berbagai adat, tradisi, kuliner, kesenian, kerajinan dan cagar budaya yang memiliki nilai keariofan lokal masyarakat Cikakak. Kemudian berikutnya yaitu eksplorasi cagar budaya yaitu Masjid Saka Tunggal yang merupakan salah satu wisata religi dan alam. Para mahasiswa diceritakan mengenai perjalanan sejarah dan filosofi budaya masjid tertua di Indonesia yang merupakan warisan spiritual dan budaya yserta menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang terus hidup lintas generasi. Tidak hanya itu, para mahasiswa kemudian diajak untuk melihat pembuatan kerajinan khas Cikakak dan praktik membuat makanan khas yaitu Ayam Gechok.

Selanjutnya, para mahasiswa diperkenalkan dengan salah satu tempat yang konon merupakan tempat petilasan Kiai Mustolih, seorang toko agama yang menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut. Banyak peziarah yang kerap mengunjungi tempat petilasan tersebut. Namun demikian, akses ke dalam makam tidak bisa sembarangan sehingga dalam eksplorasi belum sampai ke dalam makam.

“Di butuhkan juru kunci. Setiap kita mau ziarah ke makam, kita harus melalui juru kunci.” Jelas pemandu wisata Desa Cikakak. Disebutkan juga tradisi-tradisi yang masih kerap dilaksanakan di masyarakat adat Cikakak yaitu Rewanda Bojana dan Jaro Rojab Perjalanan kebudayaan dillanjutkan dengan berkunjung ke UMKM kerajinan khas Desa Cikakak, Aza Craft. Di sana, peserta diperlihatkan bagaimana mengolah kelapa yang tidak berisi menjadi kerajinan kepala monyet gantung yang menjadi ciri khas desa tersebut. Selain itu, peserta juga ikut serta bereksperimen menjajal ecoprint.

Makanan erat kaitannya dengan kebudayaan. Eksplorasi budaya ini tak luput juga dari agenda icip-icip makanan khas. Peserta disajikan Nasi Penggel dan Ayam Gecok sebagai makanan khas desa wisata tersebut. Kedua makanan itu pun kerap disajikan dalam kegiatan adat Desa Cikakak.

Mahasiswa internasional juga turut merasakan keseruannya. Mereka menikmati rangkaian acara. Sadi, mahasiswa asal Tajikistan, mengungkapkan kesannya. “Pengalaman ini adalah pengalaman yang luar biasa.” Selanjutnya, mahasiswa asal Thailand, Fahmi Sabila, pun ikut serta menambahkan kesannya. “Terima kasih kami mahasiswa internasional bisa eksplore banyak, lihat secara langsung budaya lokal.”

Eksplorasi kebudayaan Desa Cikakak pada akhirnya berhasil dilaksanakan dengan luaran yang sesuai dengan tujuan kegiatan tersebu yaitu dukungan pelestarian budaya berkelanjutan, memahami nilai-nilai tradisi masyarakat, dan dokumentasi praktik budaya lokal.

#unsoedberdampak #sdgs4 #sdgs7 #sdgs8