Hantavirus, nama yang mungkin terdengar asing di telinga awam, adalah salah satu penyebab infeksi zoonosis emergen yang sebenarnya telah lama ditemukan. Virus ini tidak memilih korbannya berdasarkan usia atau status sosial. Siapa pun yang menghirup debu terkontaminasi atau menyentuh kotoran tikus yang terinfeksi dapat mengalami infeksi.
Mengenal Virus Penyebab
Hantavirus adalah anggota keluarga Hantaviridae, genus Orthohantavirus, yang merupakan virus RNA untai tunggal berselubung (enveloped single-stranded RNA virus). Namanya diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat virus ini pertama kali diisolasi pada tahun 1978 oleh Ho Wang Lee setelah wabah misterius menyerang tentara selama Perang Korea pada awal 1950-an.
Terdapat lebih dari 20 spesies Hantavirus yang diketahui berbahaya bagi manusia. Masing-masing memiliki inang atau reservoir yang spesifik. Hantaan virus dibawa oleh tikus ladang Asia (Apodemus agrarius) dan menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS berat. Seoul virus dibawa oleh tikus rumah (Rattus norvegicus) dan penyebarannya paling luas di dunia, termasuk Asia Tenggara. Sin Nombre virus dibawa oleh deer mouse di Amerika Utara dan menjadi penyebab Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang mematikan. Sementara itu, Andes virus ditemukan di Amerika Selatan dan menjadi satu-satunya Hantavirus yang terbukti dapat menular antarmanusia.
Yang membuat Hantavirus perlu diwaspadai adalah kemampuannya bertahan hidup di lingkungan selama beberapa hari hingga minggu, terutama di tempat lembap dan sejuk. Uniknya, tikus dan hewan pengerat liar yang menjadi inang tidak pernah sakit. Mereka adalah pembawa diam atau hospes reservoir yang mengeluarkan virus melalui urin, feses, dan air liur seumur hidup.
Epidemiologi
Hantavirus bukan penyakit tropis eksklusif. Virus ini telah ditemukan di hampir setiap benua, kecuali Antartika. Dua bentuk klinis infeksi Hantavirus adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, yang ditemukan terutama di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, yang ditemukan di Amerika.
Sejak April 2026, wabah virus ini diidentifikasi di kapal pesiar Belanda, MV Hondius. Kapal tersebut bertolak pada 1 April 2026 dari Ushuaia, Argentina, lalu berlabuh di perairan Kepulauan Canary, Spanyol, pada 8 April 2026.
Hingga 8 Mei 2026, dilaporkan total lima kasus terkonfirmasi HPS, tiga di antaranya strain Andes virus, serta tiga kasus suspek. Laporan terkini menyebutkan tiga orang meninggal dunia, dua dirawat, dan tiga lainnya bergejala ringan. Kasus tersebut terjadi dari kurang lebih 150 orang di kapal dengan 23 kewarganegaraan.
Laporan Kementerian Kesehatan RI dari 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 mencatat 251 kasus suspek Hantavirus, dengan 23 kasus terkonfirmasi di sembilan provinsi di Indonesia. Kasus di Indonesia bukan varian Andes. Di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara, ditemukan strain Seoul virus yang dibawa oleh tikus Rattus norvegicus.
Kelompok yang paling berisiko meliputi petani dan pekerja sawah yang terpapar tikus ladang secara rutin, petugas kebersihan, pekerja gudang, penghuni permukiman padat, tentara dan penjelajah alam yang berkemah di daerah endemis, serta tenaga laboratorium yang menangani hewan pengerat tanpa alat pelindung diri yang memadai.
Cara Penularan
Penularan Hantavirus dapat terjadi ketika seseorang menghirup debu atau aerosol yang mengandung sekresi urin, feses, atau air liur tikus dan hewan pengerat lain yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui gigitan tikus, meski jarang, atau saat seseorang menyentuh mata, hidung, dan mulut setelah kontak dengan bahan yang terkontaminasi.
Penularan antarmanusia melalui kontak sangat erat dengan pasien, baik melalui droplet maupun sekret, hanya terjadi pada Andes virus. Hantavirus tidak menular melalui jabatan tangan, udara terbuka, makanan matang, atau gigitan nyamuk.
Bagaimana Virus Menyerang Tubuh
Virus ini dapat dianalogikan seperti saboteur yang masuk diam-diam melalui udara. Ketika partikel aerosol terkontaminasi terhirup, Hantavirus langsung mengincar sel-sel endotel, yaitu lapisan tipis yang melapisi dinding pembuluh darah. Dari sinilah kerusakan berawal.
Virus berikatan dengan integrin β3 dan β5 pada permukaan sel endotel, lalu mengambil alih mesin seluler untuk memperbanyak diri. Ironisnya, kerusakan jaringan bukan semata-mata karena efek sitopatik virus, melainkan akibat respons imun tubuh yang berlebihan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai cytokine storm atau badai sitokin.
Pada HFRS, kebocoran kapiler terjadi terutama di ginjal, sehingga menyebabkan gagal ginjal akut dan perdarahan. Pada HPS, paru-paru menjadi target utama. Cairan membanjiri alveoli, menyebabkan edema paru masif dan kegagalan napas dalam hitungan jam hingga hari. Inilah yang membuat HPS perlu diwaspadai. Pasien dapat tampak sehat pada pagi hari, tetapi menjadi kritis pada malam harinya.
Gambaran Klinik
Masa inkubasi HFRS adalah 1–8 minggu, dengan rata-rata 2–4 minggu. Perjalanan klinis HFRS dibagi dalam lima fase klasik. Fase pertama adalah fase demam selama 3–7 hari, yang ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri kepala hebat, nyeri punggung bawah, mual, dan penglihatan kabur. Fase kedua adalah fase hipotensi, yang berlangsung dalam hitungan jam hingga hari, ditandai dengan tekanan darah yang turun drastis dan dapat menyebabkan syok.
Fase ketiga adalah fase oliguria selama 3–7 hari. Pada fase ini, produksi urin berkurang drastis, disertai edema dan perdarahan. Setelah itu, pasien memasuki fase diuresis, ketika urin kembali meningkat, tetapi muncul risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Fase terakhir adalah fase konvalesen, yaitu pemulihan bertahap selama beberapa minggu hingga bulan.
Sementara itu, HPS umumnya diawali fase prodromal selama 3–5 hari. Gejalanya menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, kelelahan, dan sakit kepala. Setelah itu, pasien dapat memasuki fase kardiopulmoner, yang ditandai dengan sesak napas mendadak dan berat, batuk, hipoksemia, serta edema paru. Kondisi ini dapat berujung kematian dalam 24–48 jam.
Diagnosis dan Tatalaksana
Diagnosis infeksi Hantavirus tidak hanya ditegakkan dengan melihat gejala, karena fase awalnya dapat menyerupai flu biasa. Pemeriksaan laboratorium penunjang diperlukan, antara lain serologi IgM/IgG antibodi, imunohistokimia, dan pemeriksaan molekuler seperti PCR.
Hingga saat ini, belum ada antivirus spesifik yang disetujui secara universal untuk Hantavirus. Tata laksana bersifat suportif dan ditujukan untuk menjaga fungsi organ vital.
Pasien perlu segera dirawat di ICU untuk pemantauan ketat fungsi ginjal dan paru. Pada kasus HPS berat dengan hipoksemia, pasien memerlukan oksigenasi dan ventilasi mekanis. Pada kasus HFRS dengan gagal ginjal akut, hemodialisis atau cuci darah dapat diperlukan.
Manajemen cairan juga harus dilakukan secara cermat. Cairan yang terlalu banyak dapat memperburuk edema paru, sedangkan cairan yang terlalu sedikit dapat memperberat gagal ginjal. Ribavirin intravena menunjukkan manfaat pada beberapa studi untuk HFRS jika diberikan pada fase awal infeksi.
Kuncinya adalah kecepatan. Semakin dini pasien dibawa ke fasilitas kesehatan yang memadai, semakin besar peluang keselamatannya. Jangan menunggu kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan medis.
Pencegahan adalah Kunci
Kabar baiknya, Hantavirus dapat dicegah. Tidak diperlukan teknologi canggih, cukup pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan hidup bersih. Pertama, kendalikan populasi tikus. Simpan makanan dalam wadah kedap udara, tutup lubang masuk tikus di rumah, pasang perangkap, dan jaga kebersihan lingkungan sekitar.
Kedua, bersihkan kotoran tikus dengan aman. Jangan menyapu dalam kondisi kering. Semprotkan terlebih dahulu dengan disinfektan, seperti campuran pemutih 1:10, tunggu lima menit, lalu lap menggunakan sarung tangan. Setelah itu, buang ke tempat sampah tertutup.
Ketiga, gunakan alat pelindung diri saat bekerja di area berisiko. Masker N95 sangat penting untuk pekerjaan di gudang berdebu, lumbung, atau area dengan jejak tikus.
Keempat, lakukan ventilasi ruangan sebelum memasuki area yang lama tidak digunakan. Buka pintu dan jendela selama 30 menit sebelum membersihkan ruangan berdebu yang mungkin menjadi sarang tikus.
Kelima, segera ke dokter jika mengalami demam tinggi, nyeri punggung, dan sesak napas setelah kontak dengan tikus. Informasikan riwayat paparan kepada dokter agar kecurigaan ke arah Hantavirus dapat segera dipertimbangkan.
Penutup
Hantavirus adalah pengingat bahwa batas antara dunia manusia dan alam liar semakin tipis. Urbanisasi yang tidak terencana, perubahan iklim yang mendorong pergeseran habitat tikus, dan kurangnya edukasi publik adalah kombinasi alarm yang dapat memicu wabah kapan saja.
Meski demikian, kita tidak perlu takut berlebihan. Senjata terbaik melawan Hantavirus adalah pengetahuan, kewaspadaan, dan kebersihan lingkungan. Dengan memahami musuh kita secara ilmiah dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana, kita dapat memutus rantai penularan ini sebelum ia berkesempatan menunjukkan wajah ganasnya.
Lindungi diri, lindungi keluarga, lindungi komunitas.
