Publish: 3 November 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sel, 3/11/26] Pengembangan gandum tropis di Indonesia terus dilakukan melalui riset kolaboratif lintas perguruan tinggi. Salah satu lokasi penelitian berada di Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Tanaman gandum yang dibudidayakan di lahan seluas 100 meter persegi tersebut dijadwalkan memasuki masa panen pada pekan ini. Penelitian ini bertujuan memetakan kesesuaian agroklimat di sejumlah wilayah dengan karakteristik ketinggian berbeda sebagai dasar pengembangan produksi benih dan gandum untuk pangan.
Riset tersebut melibatkan enam perguruan tinggi, yakni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Andalas (Unand), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat pengembangan gandum tropis sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan gandum impor yang mencapai sekitar 12 juta ton per tahun.
Guru Besar bidang Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Unsoed, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., bertindak sebagai koordinator tim peneliti dari Unsoed. Adapun koordinator dari perguruan tinggi lainnya adalah Prof. Tri Koesoemaningtyas dari IPB, Prof. Irfan Suliansyah dari Unand, dan Prof. M. Farid Badarudin dari Unhas.
“Riset ini diarahkan untuk menemukan wilayah yang sesuai bagi produksi benih dan pengembangan gandum sebagai bahan pangan,” ujar Prof. Totok, alumnus program doktor (S3) Kyushu University, Fukuoka, Jepang, saat ditemui di Fakultas Pertanian Unsoed, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, penelitian ini melibatkan dosen, peneliti, dan mahasiswa dari masing-masing perguruan tinggi. Keterlibatan berbagai unsur akademisi tersebut diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan penelitian sekaligus mendorong pengembangan gandum di Indonesia.
Salah satu kegiatan monitoring penelitian dilaksanakan di lahan percobaan gandum Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (27/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Dr. Nurwanita Ekasari Putri, S.P., M.Si. dari Unand, Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P. dari Unsoed, serta Prof. Dr. Ir. Desta Wirnas, S.P., M.Si. dan Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu Endro Kusumo, M.S. dari IPB.
Empat Lokasi untuk Pemetaan Agroklimat Penelitian dilakukan di empat lokasi yang mewakili karakteristik agroklimat berdasarkan ketinggian tempat. Keempatnya meliputi Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl); Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, sekitar 1.200 mdpl; Cisarua, Bogor, sebagai wilayah dataran menengah; serta Dramaga, Bogor, yang mewakili dataran rendah.
Pemilihan lokasi tersebut bertujuan mengidentifikasi tingkat kesesuaian lingkungan bagi pertumbuhan dan pengembangan gandum. Pemetaan agroklimat mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain suhu udara, curah hujan, kelembapan, intensitas penyinaran matahari, ketinggian tempat, dan kondisi tanah. “Melalui pemetaan tersebut, kami ingin mengetahui wilayah yang paling sesuai untuk produksi benih maupun produksi gandum sebagai bahan pangan. Dataran tinggi diarahkan untuk mendukung produksi benih, sedangkan dataran menengah dan rendah diteliti potensinya untuk pengembangan produksi gandum,” jelas Prof. Totok Agung.
Siklus Tanam Relatif Singkat Salah satu potensi pengembangan gandum tropis terletak pada siklus pertumbuhannya yang relatif singkat. Menurut Prof. Totok Agung, tanaman gandum dapat dipanen sekitar tiga bulan setelah penanaman, bergantung pada kondisi lingkungan dan teknik budidaya yang diterapkan.
Di Kalibening, Banjarnegara, tanaman gandum yang dibudidayakan pada lahan percobaan seluas 100 meter persegi telah mendekati masa panen. Hasil pengamatan dari lokasi ini nantinya menjadi bagian dari data penelitian untuk mengevaluasi kemampuan adaptasi tanaman terhadap kondisi agroklimat setempat.
Potensi Lahan Indonesia untuk Pengembangan Gandum Hasil penelitian adaptasi gandum yang dilakukan di berbagai wilayah memberikan gambaran bahwa Indonesia memiliki sumber daya lahan dan kondisi agroklimat yang berpotensi mendukung pengembangan tanaman gandum. Meski demikian, potensi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemetaan wilayah yang sesuai dan penentuan musim tanam yang tepat agar produktivitas dapat dioptimalkan.
Selain aspek budidaya, tantangan pengembangan gandum juga mencakup penanganan pascapanen dan pengujian hasil panen melalui proses pengolahan. Tahapan ini diperlukan untuk mengetahui karakteristik gandum hasil produksi dalam negeri serta kesesuaiannya dengan kebutuhan industri pangan.
Untuk mendukung upaya tersebut, penjajakan kerja sama dengan industri pengolahan gandum mulai dilakukan. Salah satunya melalui kerja sama Fakultas Pertanian Unsoed dengan PT Sri Boga. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri, terutama dalam menguji kesesuaian karakteristik gandum lokal sebagai bahan baku pangan.
Keselarasan antara hasil produksi dan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan gandum nasional. Karena itu, penguatan kemampuan budidaya dan pengolahan perlu diiringi dukungan kebijakan pemerintah agar produksi gandum dalam negeri dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi Hingga saat ini, hampir seluruh kebutuhan gandum nasional masih dipenuhi melalui impor, dengan volume mencapai sekitar 12 juta ton per tahun. Ukraina dan Australia disebut sebagai negara pemasok utama gandum untuk Indonesia.
Tingginya ketergantungan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan gandum dalam negeri. Upaya ini membutuhkan penelitian berkelanjutan, khususnya untuk menghasilkan varietas yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan lingkungan tropis Indonesia.
Selain pengembangan varietas, pemetaan kesesuaian agroklimat juga diperlukan untuk menentukan wilayah produksi benih dan lokasi budidaya gandum sebagai bahan pangan. Kedua aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun sistem produksi gandum yang sesuai dengan karakteristik wilayah Indonesia.
Melalui pengembangan varietas, optimalisasi lahan, dan penguatan teknologi budidaya, produksi gandum domestik diharapkan dapat terus ditingkatkan sehingga secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Banjarnegara Memiliki Riwayat Pengembangan Gandum Pengembangan gandum di Banjarnegara bukan merupakan hal baru. Kabupaten ini pernah menjadi lokasi program pengembangan gandum yang didukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah pada 2011 dan 2012. Pada 2011, penanaman gandum dilaksanakan di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, dengan luas sekitar lima hektare. Program tersebut kemudian diperluas pada 2012 hingga mencapai 40 hektare di sejumlah desa yang tersebar di Kecamatan Batur, Pejawaran, dan Wanayasa.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Banjarnegara memiliki rekam jejak dalam pengembangan budidaya gandum. Penelitian konsorsium perguruan tinggi saat ini menjadi salah satu upaya untuk melanjutkan potensi tersebut melalui pendekatan ilmiah, khususnya pemetaan kesesuaian agroklimat dan pengembangan produksi gandum.
Melanjutkan Riset Gandum Selama Dua Dekade Penelitian gandum di Indonesia telah berlangsung sekitar dua dekade dan menghasilkan kurang lebih 12 varietas unggul. Namun, pengembangan komoditas ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas, keterbatasan wilayah budidaya, hingga kesiapan industri dalam memanfaatkan gandum produksi dalam negeri.
Produktivitas gandum yang dihasilkan saat ini masih berkisar 2–3 ton per hektare. Selain itu, budidaya gandum selama ini lebih banyak terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi, sementara pemanfaatan hasil panen oleh industri pangan nasional masih perlu dikembangkan.
Konsorsium penelitian yang mulai berjalan sejak 2025 tersebut berupaya memperluas cakupan pengembangan gandum melalui pendekatan dari hulu hingga hilir. Penelitian tidak hanya berfokus pada pengembangan varietas dan teknik budidaya, tetapi juga mencakup pemetaan kesesuaian wilayah, produksi benih, peningkatan produktivitas, penanganan pascapanen, hingga pengujian hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan industri pangan.
Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, keterlibatan dosen dan mahasiswa, serta penjajakan kemitraan dengan industri, pengembangan gandum tropis diharapkan semakin terarah. Penelitian ini sekaligus menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam menggali potensi sumber daya pertanian nasional guna mendukung diversifikasi pangan dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
#unsoedberdampak




