Persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang belum terpadu masih menjadi tantangan tersendiri di tengah masyarakat, baik dari sisi lingkungan maupun potensi ekonominya yang belum tergarap maksimal. Menjawab persoalan tersebut, Prof. Dr. Slamet Rosyadi, M.Si., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengembangkan inovasi Bank Sampah Berbasis Komunitas.
Bank Sampah Ramah merupakan solusi konkret untuk mengubah sampah dan bahan lingkungan menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Melalui pendekatan ini, sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan ikan yang kemudian diberdayakan dengan hasil panen, sehingga turut mendukung ketahanan pangan di tingkat masyarakat.
"Bank Sampah Ramah adalah solusi konkret mengubah sampah dan bahan lingkungan menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan ikan, diberdayakan dengan hasil panen, sehingga turut mendukung ketahanan pangan," ujar Slamet.
Tumbuhkan Kesadaran Lingkungan Melalui Pemilahan Sampah Terpadu
Slamet menjelaskan, inovasi ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat melalui sistem pemilahan dan pengelolaan sampah terpadu. Program ini memanfaatkan sampah organik maupun anorganik, mengolah sampah organik menjadi pupuk dan pakan ikan, serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi para nasabah bank sampah.
Selain itu, program ini dijalankan dengan pendampingan yang berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Pendekatan yang digunakan pun bersifat partisipatif dan berbasis masyarakat, sehingga keberlanjutan program dapat terus terjaga.
Kelola 1,7 Ton Sampah Per Tahun, Libatkan Lebih dari 80 Nasabah
Program Bank Sampah Berbasis Komunitas ini telah melalui perjalanan panjang sejak diluncurkan pada 2018, dilanjutkan dengan pendampingan dan pembinaan internal pada periode 2018-2022, serta perluasan wilayah implementasi pengelolaan sampah berbasis komunitas pada periode 2016-2020.
Hingga saat ini, program telah melibatkan lebih dari 80 nasabah, dengan capaian pengelolaan sampah rumah tangga mencapai 1,7 ton per tahun. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas mampu memberikan dampak ganda, baik dari sisi kelestarian lingkungan maupun penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Melalui inovasi Bank Sampah Berbasis Komunitas, Slamet menegaskan komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam menghadirkan riset dan pengabdian yang aplikatif, sekaligus mendorong pemanfaatan sampah organik untuk ketahanan pangan berbasis partisipasi masyarakat.





