Kebutuhan akan sistem peternakan ayam yang efisien, higienis, dan berdaya saing tinggi mendorong Universitas Jenderal Soedirman menghadirkan inovasi Unsoed Closed House. Inovasi ini digagas sebagai wujud kontribusi nyata universitas dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri.
Unsoed Closed House dikelola langsung oleh Badan Pengelola Usaha (BPU) universitas. Fasilitas ini terdiri atas empat unit closed house, yaitu A, B, C, dan D, dengan total kapasitas mencapai 100.000 ekor ayam per periode produksi.
"Unsoed Closed House dikelola oleh Badan Pengelola Usaha (BPU). Terdapat 4 closed house (A, B, C, D) dengan kapasitas total 100.000 ekor per periode," ujar Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc.Agr, IPU, Asean Eng., Rektor Universitas Jenderal Soedirman.
Dari sisi kapasitas, unit A, B, dan C masing-masing menampung 20.000 ekor, sementara unit D memiliki kapasitas terbesar dengan 40.000 ekor, sehingga total keseluruhan mencapai 100.000 ekor ayam per periode.
Dukung Ketahanan Pangan dan Perkuat Kolaborasi dengan Industri
Kehadiran Unsoed Closed House memberikan sejumlah manfaat strategis, di antaranya mendukung ketahanan pangan nasional melalui produksi ayam skala besar yang terkelola dengan baik. Fasilitas ini juga menjadi wadah integrasi praktikum mahasiswa dengan kegiatan kewirausahaan, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan usaha peternakan modern.
Selain itu, Unsoed Closed House turut memperkuat kolaborasi dengan pihak industri, sekaligus menjadi salah satu sumber peningkatan pendapatan bagi universitas. Model bisnis ini menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam pengembangan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Kembangkan Bisnis Sejak 2018, Raih Profit di Atas 50 Persen
Perjalanan Unsoed Closed House dimulai pada 2018 dengan tahap pengembangan konsep bisnis (developing business concept). Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan proofing concept dan produksi pada periode 2018-2024, sebagai fondasi kematangan operasional fasilitas.
Memasuki 2025, fokus pengembangan diarahkan pada perluasan pasar, standarisasi produk, efisiensi biaya, serta pemantauan digital untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan. Selanjutnya pada 2026, pengelolaan diarahkan pada tindakan sesuai Prosedur Operasional Baku (POB) serta diversifikasi produk guna memperluas nilai tambah usaha.
Dari sisi keberlanjutan bisnis, Unsoed Closed House telah membukukan profit di atas 50 persen, menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan usaha peternakan berbasis kampus mampu memberikan hasil yang kompetitif sekaligus mendukung tridarma perguruan tinggi.
Melalui inovasi Unsoed Closed House, Universitas Jenderal Soedirman menegaskan komitmennya dalam menghadirkan model bisnis kampus yang aplikatif, mendukung ketahanan pangan nasional, serta memperkuat sinergi antara pendidikan, kewirausahaan, dan industri.





