Publish: 21 Agustus 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 21/8/26] Dawet Ayu merupakan salah satu minuman khas yang menjadi bagian dari identitas kuliner Banjarnegara. Untuk menjaga eksistensinya di tengah perkembangan produk minuman modern, Dawet Ayu terus dikembangkan melalui inovasi produk, teknologi produksi, kemasan, manajemen usaha, dan pemasaran.
Upaya tersebut dilakukan melalui program “Pengembangan Dawet Ayu sebagai Produk Tradisional Unggulan Banjarnegara Menjadi Minuman Instan Berbasis Teknologi Semi Otomatis Tahun Ke-2”. Pada tahun kedua pelaksanaan program, Selasa (4/8/2026), pengembangan diarahkan untuk meningkatkan kepraktisan sekaligus daya saing Dawet Ayu agar memiliki peluang pasar yang lebih luas.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah kemasan menggunakan botol dan kaleng dengan desain yang lebih modern. Penggunaan kemasan tersebut diharapkan membuat Dawet Ayu lebih praktis dibawa serta memiliki tampilan yang menarik bagi konsumen, khususnya generasi muda.
Tim pengabdi dalam program ini diketuai Prof. Dr. Rifda Naufalin, S.P., M.Si., dengan anggota Rumpoko Wicaksono, S.P., M.P., Dwi Ari Cahyani, S.TP., M.P., dan Prof. Dr. Icuk Rangga Bawono, S.E., M.Si. Kegiatan melibatkan akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Politeknik Banjarnegara, Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah, serta Paguyuban Dawet Ayu Banjarnegara.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan inovasi produk, teknologi pengolahan, kemasan, hingga strategi pemasaran Dawet Ayu Banjarnegara.
Prof. Rifda Naufalin mengatakan, pengembangan produk juga mulai didukung dengan penerapan teknologi tepat guna melalui penggunaan food dehydrator. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan dawet instan sehingga lebih praktis dan berpotensi dipasarkan dengan jangkauan yang lebih luas.
“Pengembangan teknologi tepat guna memang menjadi salah satu bagian dari program untuk mengatasi proses produksi yang sebelumnya masih dilakukan secara manual,” ujarnya.
Selain aspek produksi, program juga memperkuat kapasitas pengelolaan usaha melalui penyusunan SOP produksi, pelatihan pembukuan, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), serta SOP operasional. Langkah tersebut diharapkan membantu pelaku usaha mengelola kegiatan produksi dan bisnis secara lebih tertata.
Dari sisi pemasaran, Dawet Ayu mulai diarahkan untuk memanfaatkan kanal digital. Salah satunya melalui pembuatan akun ShopeeFood agar konsumen dapat melakukan pemesanan dengan lebih mudah. Strategi pemasaran juga diperkuat melalui Instagram dan TikTok, pembuatan video promosi, serta katalog digital.
“Upaya diversifikasi sebenarnya telah dimulai pada kegiatan sebelumnya. Tim juga telah mengembangkan varian Dawet Ayu dengan bahan alami seperti bunga telang dan bunga kecombrang, yang menghasilkan tampilan dan karakter produk yang berbeda,” imbuh Prof. Rifda.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa produk tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Rasa dan karakter Dawet Ayu tetap dipertahankan, sementara teknologi, kemasan, dan strategi pemasaran disesuaikan dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Melalui program ini, Dawet Ayu diharapkan tidak hanya tetap menjadi minuman khas Banjarnegara, tetapi juga berkembang menjadi produk tradisional yang lebih praktis, menarik, dan memiliki daya saing serta peluang pasar yang lebih luas.





