Publish: 25 September 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 25/9/26] Potensi melimpahnya buah nenas di Desa Penampi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, mulai dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru masyarakat. Melalui hilirisasi teknologi, nenas tidak hanya dipasarkan sebagai buah segar, tetapi diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah. Sementara itu, limbahnya diarahkan untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Upaya tersebut dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Pusat Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP), dalam Program Prioritas dan Strategis Ajakan Industri dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program bertema “Hilirisasi Teknologi Pengolahan Buah Nenas Berbasis Zero Waste untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Koperasi Merah Putih di Wilayah Sentra Komoditas” tersebut dilaksanakan bersama mitra di Desa Penampi.
Rangkaian kegiatan pada 21–22 September 2026 meliputi transfer teknologi, pelatihan, dan pendampingan produksi olahan nanas serta pemanfaatan limbahnya. Unsoed juga memberikan coaching pengelolaan usaha koperasi dan pendampingan penyiapan pembangunan fisik Koperasi Merah Putih Desa Penampi.
Selama ini, sebagian besar nenas Penampi masih dijual dalam bentuk segar. Buah yang tidak memenuhi standar sortasi belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian kecil telah diolah menjadi selai dan dodol, namun kualitas dan kesiapan produknya untuk dipasarkan masih perlu ditingkatkan.
Melalui pendekatan zero waste, Unsoed mengembangkan diversifikasi produk berupa minuman jeli, ready-to-drink beverage, fruit tea, koktail, squash, dan selai. Limbah nanas juga diolah menjadi pupuk organik cair dan padat.
Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP., IPU., ASEAN Eng., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab agar inovasi hasil penelitian dapat dimanfaatkan dan dikembangkan masyarakat serta dunia usaha.
“Unsoed memiliki teknologi untuk mengolah buah nenas dan limbahnya menjadi berbagai produk bernilai tambah. Melalui Program Ajakan Industri, teknologi tersebut kami transfer dan dampingi agar dapat diterapkan oleh mitra, dikembangkan menjadi produk yang siap dipasarkan, dan pada akhirnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua Program Ajakan Industri sekaligus Koordinator Puskor IHSP LPPM Unsoed, Dr. Santi Dwi Astuti, STP., M.Si., menjelaskan kerja sama dengan Desa Penampi telah dimulai sejak akhir 2025.
“Program ini kami desain bukan hanya sebagai kegiatan pelatihan produksi, tetapi sebagai proses hilirisasi teknologi secara utuh. Mitra tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga kami dampingi dalam standardisasi proses, pengembangan produk, pengujian penerimaan konsumen, pengelolaan usaha, hingga kesiapan komersialisasi,” jelasnya.
Program juga mencakup penyusunan SOP, penyediaan peralatan produksi, pengujian penerimaan konsumen, persiapan sertifikasi, serta penyusunan buku teknologi tepat guna dan video tutorial. Pendampingan dilakukan secara langsung maupun daring untuk memastikan teknologi dapat diterapkan secara mandiri.
Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting melalui coaching pengelolaan usaha koperasi, penyusunan model bisnis, studi kelayakan, serta pengembangan sistem produksi, mutu, distribusi, dan pemasaran. Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi simpul aktivitas usaha berbasis komoditas unggulan lokal.
Program melibatkan kolaborasi multidisiplin dari bidang teknik sipil, agribisnis, rekayasa pangan, dan keteknikan pertanian. Pengembangan teknologi tersebut menargetkan peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari posisi awal 5 menuju TKT 7 atau 8.
Ke depan, Unsoed akan tetap berperan sebagai technology partner, sementara mitra didorong menjadi penggerak produksi dan komersialisasi. Keberlanjutan program juga akan diperkuat melalui sinergi dengan Politeknik Negeri Bengkalis.
Dengan pendekatan tersebut, nenas Penampi diharapkan tidak lagi hanya menjadi komoditas segar, tetapi berkembang menjadi bahan baku berbagai produk pangan. Limbahnya pun dapat dimanfaatkan, sehingga terbentuk ekosistem usaha berbasis nenas yang mendukung penerapan ekonomi sirkular dan peningkatan nilai tambah masyarakat.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




