Publish: 26 Juni 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
Di lahan bawang merah, menyiram sering terasa seperti pekerjaan yang tak pernah benar-benar selesai. Hari ini dikejar panas, besok dikejar angin, lusa dikejar jadwal lain yang menumpuk. Di Bunton, Cilacap, Arief Sudarmaji, M.T., Ph.D mencoba menyelesaikan masalah itu dengan cara yang lebih singkat: cukup membuka aplikasi, lalu menekan on dan off. Arief mengajar di Teknik Pertanian UNSOED, meski jalur akademiknya berlatar belakang listrik dan rangkaian. Ia menyebut posisinya secara jelas: “Saya dosen di program studi Teknik Pertanian. Jadi, walaupun background saya memang Teknik Elektro, tapi saya kerjanya, penempatannya di Teknik Pertanian UNSOED.”
Mengembangkan Inovasi
Di kepalanya, pertanian hari ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan kebiasaan lama. Lahan menyempit, tuntutan produksi naik, dan keputusan soal air serta nutrisi tidak bisa terus dibuat dengan perkiraan. “Jadi, dengan perkembangan teknologi, kita bisa memanfaatkan yang namanya konsep pertanian presisi atau pertanian cerdas. Nah, itu harus ditopang dengan instrumentasi atau pengukuran,” jelasnya.
Di titik itulah ia mengajak orang mengenal kata yang terdengar teknis, tetapi sebetulnya dekat dengan urusan paling sederhana tanaman. “Nah, konsep fertigasi adalah memberikan nutrisi, nutrisi cair menggunakan instalasi irigasi,” ungkapnya. “Tanaman itu kan membutuhkan air dan nutrisi secara optimal untuk tumbuh kembang. Nah, selain optimal juga harus efisien. Dalam artian tepat dosis dan tepat waktu,” lanjutnya.
Maka ia dan tim merancang sistem otomatis yang bertumpu pada instrumen dan kontrol. “Langkah awal kami memang melakukan penelitian berbasis laboratorium atau skala laboratorium. Setelah sistem fertigasi otomatis ini terbangun maka kami menerapkan ini dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.” Mereka kemudian menerapkan inovasi tersebut di Desa Karangrau, Banyumas dan Bunton, Cilacap.
Dampak dan Kolaborasi
“Kalau yang di Cilacap itu, itu sebenarnya kerja sama CSR, PLN Bunton Indonesia Power yang gandeng Fakultas Pertanian,” ujarnya. Pada mulanya, penyiraman masih tradisional. Setelah sistem dipasang, pola kerja berubah. sementara sekarang petani cukup menggunakan aplikasi yang ada di telepon seluler atau gadget untuk menyiram. Kisahnya tidak berhenti di bawang merah. Ia juga membawa sistem serupa ke durian.
Yang paling cepat terasa, kata Arief, adalah hal-hal praktis yang biasanya dicari petani: “Dan juga penggunaan air lebih efisien, tidak banyak terbuang. Waktu petani juga lebih banyak ya untuk perawatan tanaman yang lain, tidak hanya untuk menyiram saja.” Dampak seperti ini yang membuat inovasi relevan dengan agenda Kampus Berdampak.
Agar sistem tidak berhenti sebagai barang baru yang membingungkan, Arief menekankan pentingnya pelatihan untuk para petani. Ia juga melibatkan mahasiswa untuk mengukur performa, karena pendidikan, riset, dan pengabdian di titik ini saling menguatkan, “jadi kami ada empat mahasiswa yang terlibat membantu kami dalam mengembangkan sistem fertigasi otomatis ini dan semuanya untuk riset mereka untuk skripsi.”
Momen yang paling ia ingat justru bukan soal diagram sistem, melainkan reaksi orang-orang di lahan. “Momen berkesannya ya mereka exited ya. Mereka surprise gitu maksudnya. Ternyata mereka jadi tahu ternyata untuk nyiram itu sudah ada aplikasi yang bisa dipakai,” paparnya dengan tersenyum.





