Publish: 17 September 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Kam, 17/9/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan program pemberdayaan bagi Kelompok Batik I’AH di Sokaraja Kulon, Kabupaten Banyumas. Dimulai sejak Juni 2026, program tersebut berfokus pada penerapan teknologi Eco-Batik Wetland untuk mengolah limbah cair sekaligus mendukung keberlanjutan usaha batik.
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Eco-Batik Wetland untuk Meningkatkan Keberlanjutan UMKM Batik I’AH di Kabupaten Banyumas” dilaksanakan oleh Dr. Nuning Vita Hidayati, S.Pi., M.Si., Dr. Dwita Darmawati, S.E., M.Si., dan Dr. Puji Lestari, S.E., M.Si., Ak., CA.
Kelompok Batik I’AH yang berdiri sejak 2010 diketuai Sutaryo dan memiliki 10 perajin. Usaha kelompok berkembang setelah motif Batik Parang Lumbon karya I’AH ditetapkan sebagai salah satu seragam resmi ASN Kabupaten Banyumas. Sejak Januari 2026, sekitar 600 lembar batik telah terjual dengan antrean pesanan mencapai sekitar 2.000 lembar.
Meningkatnya permintaan tersebut diikuti sejumlah tantangan, terutama pengelolaan limbah cair, keterbatasan peralatan dan kapasitas produksi, pencatatan keuangan, perhitungan harga pokok produksi (HPP), pemasaran digital, serta kelembagaan kelompok.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Nuning Vita Hidayati, S.Pi., M.Si., mengatakan Eco-Batik Wetland menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk menjawab persoalan limbah sekaligus mendukung peningkatan usaha.
“Kami ingin peningkatan produksi Batik I’AH berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Eco-Batik Wetland dirancang sebagai teknologi yang sederhana, relatif murah, mudah dirawat, dan sesuai dengan kondisi UMKM batik. Harapannya, limbah tidak langsung dibuang ke lingkungan, tetapi diolah terlebih dahulu sehingga kegiatan usaha dapat berlangsung lebih berkelanjutan,” ujar Nuning.
Eco-Batik Wetland merupakan hasil pengembangan riset tim yang memadukan proses pra-sedimentasi, filtrasi karbon aktif dari batok kelapa, dan pemanfaatan tanaman air sebagai agen fitoremediasi. Tanaman seperti kayu apu dan eceng gondok digunakan dalam sistem pengolahan tersebut.
Selain pengolahan limbah, program juga mencakup pelatihan pengoperasian teknologi, optimalisasi peralatan produksi, penataan alur kerja, penyusunan SOP, pembukuan sederhana, perhitungan HPP, penguatan kelembagaan, serta pemasaran digital.
Prof. Sri Lestari, selaku penghubung dari Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Unsoed, menegaskan pentingnya pengabdian berbasis riset agar hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
“Pengabdian berbasis riset diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan perubahan nyata yang dapat dirasakan oleh mitra. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat penting agar teknologi hasil penelitian dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan terus dimanfaatkan setelah program berakhir,” ungkap Prof. Sri Lestari.
Ketua Kelompok Batik I’AH, Sutaryo, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Unsoed. Ia berharap dukungan teknologi, peralatan, dan pengetahuan tersebut dapat membantu kelompok meningkatkan produksi sekaligus menjaga lingkungan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Unsoed dan seluruh tim pengabdian yang telah mendampingi kelompok kami. Bantuan teknologi, peralatan, dan pengetahuan yang diberikan sangat bermanfaat. Kami berharap kegiatan ini dapat membantu Batik I’AH berkembang, produksi semakin baik, lingkungan tetap terjaga, dan usaha ini dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Sutaryo.
Melalui program ini, Unsoed mendorong pengembangan Batik I’AH yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan daya saing, tetapi juga memperhatikan pengelolaan lingkungan serta keberlanjutan usaha dan budaya batik di Kabupaten Banyumas. #unsoedberdampak




