[unsoed.ac.id, Rab, 1/7/26] Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Pusat Koordinasi Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (PUSKOR IHSP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), sukses menyelenggarakan Grand Final Pemilihan Duta Inovasi Universitas Jenderal Soedirman Tahun 2026 pada Rabu (1/7/2026).
Program ini merupakan salah satu langkah strategis LPPM dalam memperkuat budaya inovasi di lingkungan kampus, memperluas diseminasi hasil penelitian, serta mempercepat hilirisasi inovasi agar semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat, dunia usaha, dunia industri, pemerintah daerah, maupun berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pemilihan Duta Inovasi merupakan implementasi tugas dan fungsi PUSKOR IHSP LPPM dalam mengoordinasikan pengelolaan inovasi, memperkuat branding hasil penelitian, membangun jejaring kemitraan, serta mendorong pemanfaatan hasil riset Universitas Jenderal Soedirman menuju hilirisasi dan komersialisasi.
Di era transformasi digital, keberhasilan suatu inovasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan mengomunikasikan manfaatnya kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa dipandang memiliki peran strategis sebagai agen transformasi, komunikator sains, sekaligus duta inovasi yang mampu menjembatani hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Tahun ini, pemilihan Duta Inovasi diikuti oleh 30 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi di lingkungan UNSOED. Setelah melalui tahap seleksi administrasi dan penyisihan, terpilih 11 semifinalis, kemudian mengerucut menjadi lima finalis terbaik yang tampil pada Grand Final.
Selama kompetisi, para peserta dinilai berdasarkan wawasan mengenai inovasi dan hilirisasi, kemampuan presentasi, komunikasi publik, kreativitas dalam branding dan pembuatan konten, kepemimpinan, kolaborasi, integritas, serta komitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan inovasi di UNSOED.
Dewan juri berasal dari berbagai latar belakang, meliputi akademisi, pakar inovasi, pakar transformasi digital, pemerintah daerah, dunia usaha, serta praktisi branding dan pemasaran. Komposisi tersebut mencerminkan pendekatan pentahelix, sehingga penilaian tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga kemampuan peserta dalam mengembangkan inovasi agar berdampak bagi masyarakat.
Mewakili Rektor UNSOED, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Noor Farid, M.Si., menyampaikan bahwa perguruan tinggi saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Duta Inovasi merupakan langkah progresif untuk membangun budaya inovasi di kalangan mahasiswa sekaligus memperkuat posisi Universitas Jenderal Soedirman sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada dampak (research to impact). Kami berharap para Duta Inovasi mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai riset, mengembangkan kreativitas, serta menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Kepala LPPM UNSOED, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa Program Duta Inovasi merupakan bagian dari strategi LPPM dalam memperkuat ekosistem hilirisasi hasil riset.
“Keberhasilan penelitian tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat, diadopsi oleh dunia usaha dan dunia industri, serta memberikan dampak ekonomi maupun sosial. Kehadiran Duta Inovasi diharapkan menjadi penggerak baru dalam memperluas diseminasi, promosi, dan pemanfaatan inovasi UNSOED sekaligus mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator PUSKOR IHSP, Dr. Santi Dwi Astuti, S.TP., M.Si., menyampaikan bahwa pemilihan Duta Inovasi menjadi awal dari gerakan yang lebih besar dalam membangun ekosistem inovasi yang kolaboratif dan berkelanjutan.
Menurutnya, para Duta Inovasi nantinya akan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan branding inovasi, pameran, podcast, promosi digital, business matching, edukasi masyarakat, hingga berbagai program hilirisasi yang dilaksanakan oleh LPPM.
Pemenang Duta Inovasi Universitas Jenderal Soedirman Tahun 2026
Berdasarkan hasil penilaian Grand Final, dewan juri menetapkan para pemenang sebagai berikut:
- Juara I: Ida Nur Safitri – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
- Juara II: Siti Rohanna – Fakultas Pertanian
- Juara III: M. Yusuf Habibi – Fakultas Hukum
- Juara Harapan I: Rizki Febri Pratama – Fakultas Ekonomi dan Bisnis
- Juara Harapan II: Nadira Apie Sinatryan – Fakultas Peternakan
Usai dinobatkan sebagai Juara I, Ida Nur Safitri mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Menjadi Duta Inovasi bukan sekadar sebuah prestasi, tetapi juga amanah untuk memperkenalkan hasil-hasil riset Universitas Jenderal Soedirman kepada masyarakat. Saya berkomitmen memanfaatkan media digital, jejaring mahasiswa, dan berbagai kegiatan edukasi untuk mengomunikasikan inovasi kampus agar semakin dikenal, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.
Para dewan juri turut mengapresiasi kualitas para finalis. Guru Besar Bidang Teknik Pertanian UNSOED, Prof. Dr. Eni Sumarni, S.TP., M.Si., menilai mahasiswa memiliki potensi besar menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat sehingga inovasi tidak berhenti sebagai luaran penelitian, tetapi berkembang menjadi solusi yang dapat diimplementasikan.
Pakar transformasi digital sekaligus Rektor Universitas Amikom Purwokerto, Assoc. Prof. Dr. Berlilana, M.Kom., M.Si., menilai kemampuan komunikasi digital menjadi kompetensi penting di era saat ini. Menurutnya, inovasi yang baik harus didukung strategi branding dan komunikasi yang kreatif agar mampu menjangkau masyarakat luas sekaligus meningkatkan daya saing perguruan tinggi.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa Duta Inovasi memiliki peran strategis dalam membangun literasi inovasi di tengah masyarakat melalui penyampaian informasi yang benar, menarik, dan bertanggung jawab.
Ketua ASPIKMAS Banyumas, Pujiyanto, S.E., juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan UMKM. Menurutnya, banyak hasil riset yang memiliki potensi memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha apabila dikomunikasikan dengan baik dan didampingi hingga tahap implementasi.
Sementara itu, pakar branding dan pemasaran dari PT HDN Jakarta, Amar Ramdhani, S.TP., mengapresiasi lahirnya Program Duta Inovasi sebagai pendekatan baru dalam pengembangan inovasi perguruan tinggi. Ia menilai keberhasilan suatu inovasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun merek, kepercayaan, dan kedekatan dengan pengguna sehingga Duta Inovasi dapat menjadi representasi yang efektif dalam memperkuat citra inovasi Universitas Jenderal Soedirman.
Melalui Program Duta Inovasi, Universitas Jenderal Soedirman menegaskan komitmennya untuk terus mendorong transformasi hasil penelitian menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, meningkatkan daya saing bangsa, serta berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Untuk standar rilis unsoed.ac.id, naskah ini sudah lebih ringkas dan mudah dibaca. Jika diinginkan, saya juga dapat menyusun versi yang lebih “news style” (sekitar 700–900 kata) seperti rilis-rilis resmi Humas UNSOED dengan lead yang lebih kuat dan alur piramida terbalik.
#unsoedberdampak #sdgs4 #sdgs8 #sdgs9 #sdgs17

