[unsoed.ac.id, Sen, 6/7/2026] Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar Serayu Economic Forum di Laboratorium FEB Unsoed, Rabu (1/7/2026). Forum ini menjadi pembuka rangkaian The 2nd International Conference on Sustainable Economics, Management, and Accounting (ICSEMA) 2026, yang mempertemukan akademisi, praktisi, serta peserta dari berbagai negara untuk membahas strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Serayu Economic Forum menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Dosen FEB Unsoed, Dr. Ratno Purnomo, S.E., M.Si., mempresentasikan paper berjudul The Micro-Foundation of Local Sustainability. Senior Analyst Bank Indonesia, Sondang Marsinta Uli Panggabean, memaparkan Fostering Inclusive and Sustainable Growth: Perspectives from Bank Indonesia, sementara akademisi dari Gelisim University, Turki, Prof. Bulent Esiyok, turut berbagi perspektif mengenai penguatan ekonomi berkelanjutan dalam konteks global.
Ketua panitia, Kiky Srirejeki, S.E., M.Sc., Ph.D., CPMA, menjelaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis antara FEB Unsoed dan Bank Indonesia yang akan berlanjut melalui sejumlah agenda internasional lainnya.
“Serayu Economic Forum merupakan rangkaian pertama dari kerja sama kami dengan Bank Indonesia. Selanjutnya akan dilaksanakan konferensi internasional di Lombok, yaitu The 8th International Conference on Global Economic Development and Entrepreneurship (ICORE) yang merupakan kolaborasi Universitas Jenderal Soedirman, Universiti Utara Malaysia, dan Hebei University, China,” jelas Kiky.
Menurutnya, pemilihan nama Serayu bukan sekadar identitas lokal, tetapi juga mencerminkan semangat mengangkat potensi ekonomi daerah sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
“Kami ingin mengangkat isu ekonomi lokal, pelaku usaha lokal, dan bagaimana mereka selama ini menjadi penopang perekonomian. Harapannya, pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals dapat diwujudkan mulai dari level akar rumput,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian ICSEMA 2026, FEB Unsoed juga akan menyelenggarakan International Community Service, sebuah program pengabdian kepada masyarakat berskala internasional. Kegiatan ini akan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai narasumber yang akan berdiskusi langsung dengan para pakar internasional.
Melalui kegiatan tersebut, UMKM lokal yang telah maupun sedang mempersiapkan diri memasuki pasar ekspor akan memperoleh masukan mengenai strategi pengembangan usaha di tingkat global.
“Kami ingin mempertemukan pelaku UMKM dengan para ahli internasional agar mereka mendapatkan wawasan mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan untuk bersaing di pasar global. Kampus berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan pengetahuan dan pengalaman internasional,” kata Kiky.
Ia berharap rangkaian kegiatan ICSEMA tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, hasil penelitian seharusnya tidak berhenti sebagai paper atau jurnal, melainkan menjadi solusi yang dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal, meningkatkan daya saing UMKM, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui Serayu Economic Forum, FEB Unsoed menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah, sektor keuangan, pelaku usaha, dan mitra internasional dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak#sdgs4
