Publish: 9 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 9/10/26] Tim dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed) memberikan edukasi kesehatan mental, regulasi emosi, dan pencegahan perundungan (bullying) kepada siswa MI Nurul Hidayah Purwodadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran kesehatan mental anak dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober.
Ketua Tim Pengabdian, Nisaul Maghfiroh, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa penguatan kesehatan mental anak perlu dimulai melalui keterampilan sederhana yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengenali emosi, menghargai orang lain, dan membangun hubungan yang sehat.
“Anak-anak perlu belajar bahwa setiap perasaan mereka berharga dan mereka berhak merasa aman. Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal menumbuhkan budaya saling menghargai lewat sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan siswa,” ujarnya.
Kegiatan yang diikuti siswa kelas IV dan V ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Kesehatan Mental Siswa Sekolah Dasar sebagai Upaya Pencegahan Bullying. Program tersebut dilaksanakan secara bertahap di tiga sekolah mitra di Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, dengan fokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa.
Materi pertama, “Kenali, Pahami, Kelola Emosi”, disampaikan oleh RR Diyah Woro Dwi Lestari, S.Psi., M.A. Melalui permainan Balon Emosi, siswa belajar mengenali beragam perasaan, memahami fungsinya, serta memilih respons yang tepat ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Selanjutnya, Arfi Nurul Hidayah, M.Psi., Psikolog, menyampaikan materi “Teman Aman, Sekolah Nyaman: Mengenali dan Mencegah Bullying”. Siswa diajak memahami perbedaan antara bercanda, konflik, dan perundungan, mengenali bentuk-bentuk bullying, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menyaksikannya. Siswa juga didorong untuk berani meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.
Materi ketiga, “Berbeda Itu Berharga: Belajar Menghargai dan Mendukung Teman”, disampaikan oleh Novia Yunika, S.Si., M.Biomed. Melalui pengalaman pribadinya sebagai penyandang disabilitas fisik, Novia mengajak siswa memahami bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berteman, beraktivitas, dan berkembang bersama. Dukungan dan sikap saling menghargai menjadi kunci terciptanya lingkungan yang aman dan menerima setiap individu.
Menurut Nisaul, perilaku yang kerap dianggap sebagai candaan atau kenakalan anak perlu dipahami secara serius karena dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan siswa di sekolah.
“Edukasi sejak dini diperlukan agar anak mampu mengenali batasan perilaku yang aman dan berani mencari pertolongan,” kata Nisaul.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab, posttest, dan proyek “Komitmenku”. Melalui kegiatan ini, siswa menuangkan komitmen sederhana untuk mengelola emosi, membangun pertemanan yang sehat, serta berani mencegah dan melawan perundungan di lingkungan sekolah.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




