Publish: 31 Agustus 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Sen, 31/8/26] Teknologi Internet of Things (IoT) semakin dekat dengan kebutuhan peternak ayam skala kecil dan menengah. Tim mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengembangkan IoTernak, sebuah ekosistem smart farming inklusif yang mengintegrasikan pemantauan kondisi kandang secara real-time dan otomasi pemberian pakan.
IoTernak dikembangkan oleh Muhammad Nugrahhadi Al Khawarizmi (CEO), Arga Aryanta Indrafata (CTO), Gita Nurmala (CFO), Lula Khaisha Delavia (CMO), dan Farhan Ibnu Fajar (ChEO), dengan pendampingan Ir. Mohammad Irham Akbar, S.Kom., M.Cs. Inovasi ini menjadi bagian dari perjalanan tim sebagai penerima pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Nasional Kemendikti tahap bertumbuh, kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.
Gagasan IoTernak berangkat dari persoalan operasional yang masih dihadapi peternak ayam skala kecil dan menengah. Berdasarkan kuesioner terhadap 31 peternak dan wawancara dengan lima peternak, sebanyak 58,1 persen responden cukup sering harus bolak-balik mengecek kondisi kandang. Sebanyak 54,8 persen mengaku terlambat mengetahui kondisi heat stress pada ayam, 80,6 persen mengalami pembagian pakan yang tidak merata, dan 64,5 persen merasa kerepotan memberikan pakan secara manual.
“Kami berangkat dari keresahan yang kami lihat dari kondisi peternak skala kecil. Teknologi smart farming yang tersedia saat ini cenderung mahal dan banyak dirancang untuk kebutuhan industri skala besar. Kami ingin membawa teknologi itu lebih dekat kepada peternak kecil dan menengah,” ujar Muhammad Nugrahhadi Al Khawarizmi.
IoTernak saat ini memiliki dua komponen utama, yaitu ioPeka dan ioPakan. ioPeka merupakan sistem monitoring kondisi kandang secara real-time melalui sensor suhu, kelembapan, dan kadar amonia. Data dapat dipantau melalui aplikasi Android IoTernak App, sehingga peternak tidak harus selalu berada di dalam kandang.
Sistem tersebut dilengkapi early warning system yang memberikan notifikasi dan bunyi peringatan ketika parameter lingkungan melewati batas yang telah ditentukan. Pengujian pada kandang mitra menunjukkan sistem mampu mendeteksi peningkatan suhu, termasuk ketika kondisi kandang terbuka pada siang hari.
Sementara itu, ioPakan membantu mengotomatisasi pemberian pakan berdasarkan waktu dan takaran yang diatur melalui aplikasi. Pengujian selama sekitar 15 hari menunjukkan mekanisme pemberian pakan dapat berjalan sesuai jadwal. Saat ini tersedia tiga pilihan takaran, yaitu sedikit, sedang, dan banyak, yang selanjutnya akan dikembangkan menuju pengaturan gramasi lebih spesifik.
Menurut Arga, integrasi kedua teknologi tersebut bukan sekadar membuat kandang menjadi lebih canggih, tetapi menghasilkan data yang dapat mendukung pengambilan keputusan peternak.
“Kami ingin sistem operasional peternakan yang selama ini banyak mengandalkan cara manual dan insting mulai terintegrasi dan menghasilkan data. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk memahami kondisi ternak, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi potensi pemborosan pakan,” jelasnya.
Saat ini IoTernak telah diterapkan pada kandang mitra dan terus disempurnakan. Tim juga menerapkan pendekatan Hardware-as-a-Service (HaaS) agar peternak tidak perlu mengeluarkan investasi perangkat dalam jumlah besar di awal. Perangkat dirancang dapat dipasang pada kandang yang sudah ada tanpa perubahan besar pada struktur.
Melalui IoTernak, tim mahasiswa Unsoed berupaya menghadirkan teknologi smart farming yang praktis, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan peternak ayam skala kecil dan menengah.
#unsoed1963#merdekamajumendunia#berdampak




