Publish: 16 Oktober 2026 - 07.00 WIB - Views Count: 0 Tayangan
[unsoed.ac.id, Jum, 16/10/26]Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama Indonesia–China Center for Ocean and Climate (ICCOC) mengevaluasi capaian kerja sama dan menyepakati dua agenda kolaborasi lanjutan dalam Cooperation Review and Future Collaboration Meeting di Mandhailing Room, Rhadana Hotel, Bali, Kamis (15/10/2026).
Delegasi Unsoed dipimpin Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat, Prof. Dr. Eko Suyono, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA. Turut hadir Roy Andreas, Ph.D., sebagai penanggung jawab proyek Marine Expeditions and Tidal Forecast (MarExplore) periode 2024–2025; Dr. rer. nat. Riyanti, M.Biotech; Mukti Trenggono, S.Kel., M.Si., dari Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed; serta Isnaini Prihatiningsih, S.IK., M.Si., dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed. Sementara itu, delegasi ICCOC dipimpin Direktur ICCOC, Prof. Cong Bailin, Ph.D., bersama Dr. Shujiang Li dari First Institute of Oceanography (FIO), Tiongkok.
Pertemuan yang dipandu Dr. Riyanti ini bertujuan meninjau kemajuan kerja sama, mengevaluasi program yang telah berjalan, serta menetapkan prioritas dan tindak lanjut kolaborasi. Dalam pemaparannya, Dr. Shujiang Li menjelaskan peran FIO sebagai lembaga riset kelautan di bawah Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok yang berbasis di Qingdao dan berdiri sejak 1958.
Dari sisi Unsoed, Mukti Trenggono menyampaikan bahwa sejak pertemuan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) di Unsoed pada 14 Maret 2024, kedua pihak telah melaksanakan 18 kegiatan bersama, terdiri atas tujuh kegiatan pada 2024, tujuh pada 2025, dan empat pada 2026. Kegiatan tersebut meliputi sembilan program pelatihan, kunjungan riset, dan pertukaran di Tiongkok; enam program pengabdian kepada masyarakat; dua forum kelautan regional; serta satu pelayaran riset bersama.
Kolaborasi riset diwujudkan melalui proyek MarExplore, termasuk pelayaran menggunakan kapal Geomarine III yang berangkat dari Pelabuhan Surya Sumantri, Cirebon, pada 18 Juni 2025. Pelayaran ini mencakup pemetaan, pengamatan pasang surut, dan eksplorasi geologi laut di Selat Bali, Selat Lombok, dan Selat Alas. Pada Januari 2025, kerja sama juga diperluas ke bidang bioteknologi kelautan dan analisis DNA lingkungan (environmental DNA atau e-DNA).
Peningkatan kapasitas dosen dan peneliti dilakukan melalui pelatihan teknologi observasi laut di FIO pada Maret 2024, teknologi ekspedisi habitat laut dalam di Shanghai dan Qingdao pada Juni 2025, serta pelatihan riset kelautan di Laut Cina Selatan pada 2025 dan 2026. Pada September 2026, dosen dan peneliti Unsoed juga mengikuti pelatihan analisis mikroplastik laut dan bioindikator di Qingdao. Selain itu, Unsoed menyelenggarakan dua kuliah tamu internasional bertema pertanian berkelanjutan dan konservasi habitat laut dalam pada November 2025.
Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, LPPM Unsoed bersama FIO-MNR melaksanakan kegiatan konservasi mangrove dan edukasi silvofishery bagi pelajar di Kampung Laut, Cilacap, pada September–Oktober 2024. Kegiatan juga mencakup edukasi pengelolaan sampah plastik dan mikroplastik bagi guru serta 54 siswa SDN 2 Ujung Alang. Pada 2025, program dilanjutkan melalui kegiatan pencegahan vandalisme instrumen oseanografi bersama masyarakat pesisir Banyuwangi dan edukasi perlindungan habitat laut dalam bersama pelaku usaha perikanan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap.
Pada tingkat regional, LPPM Unsoed bersama FIO-MNR, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan 8th China–Southeast Asian Countries Marine Cooperation Forum di Jakarta pada 2024. Unsoed kemudian berpartisipasi dalam forum ke-9 di Bangkok, Thailand, pada 24–25 September 2026. Pada tahun yang sama, Mukti Trenggono dan Riyanti menjadi pembicara dalam China–Indonesia Friendship Stories Exchange Event bertajuk Blue Miracles of Maritime Cooperation di Shenzhen.
Dalam sesi evaluasi, kedua pihak membahas capaian, tantangan, dan pembelajaran dari berbagai program, termasuk proyek MarExplore periode 2024–2025 yang dipimpin Roy Andreas, Ph.D. Diskusi menghasilkan dua agenda tindak lanjut, yaitu penyusunan MoU antara Shenzhen Community dan Unsoed serta penjajakan kerja sama penandaan satelit (satellite tagging) penyu laut. “Sejak pertemuan tindak lanjut di Purwokerto pada Maret 2024, nota kesepahaman kita telah menjadi banyak implementasi kegiatan baik di laboratorium, di laut, dan bersama masyarakat pesisir,” ujar Prof. Eko Suyono.
Pertemuan ditutup dengan sambutan dari Prof. Eko Suyono dan Prof. Cong Bailin, penyerahan cendera mata, serta foto bersama. Melalui evaluasi ini, Unsoed dan ICCOC diharapkan dapat memperkuat kolaborasi riset kelautan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas kontribusi bagi pelestarian ekosistem laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
#unsoedberdampak




